Gara-gara Bunda pernah bilang nama Adinata, Ankara jadi selalu ingat nama itu bahkan hingga tiga hari berlalu. Makanya, saat mendengar salah satu pekerja di perusahaannya —Pak Usman; menyebut nama Adinata, membuat ia harus menahan gadis ini untuk menindaklanjuti apa yang harus dilakukan. Ankara tahu tidak sopan, tapi salahkan tuntutan Bunda yang memaksanya begini sampai meminta gadis itu untuk bicara empat mata di ruangannya.
"Kamu pernah ketemu ibu-ibu yang kaya raya gak? Kemarin-kemarin pokoknya," tanya Ankara.
Nata merasa sedikit risih, ia seperti dipenjarakan secara halus dalam ruangan modern milik seorang CEO. Ada air teh berwarna hijau, lalu roti kering yang aneh dan tidak pernah Nata lihat sebelumnya. Tiba-tiba ia berpikir, apa orang kaya makanannya memang seaneh ini?
"Adinata." Orang itu memanggilnya hingga tersadar lagi, tapi Nata tidak ingin buru-buru menjawab dan memilih untuk mencicipi makanan ringan di atas meja.
"Heum, kayaknya kurang dikasih seres warna-warni nih," ujarnya. "Atau kasih cabe juga pasti lebih enak."
Ankara tidak perduli dengan omongan Nata yang nyeleneh, lagian ia tidak terlalu suka gaya gadis ini yang terlalu semakin ke sini semakin terlihat sembarangan dan sekenanya. "Pertanyaan saya tadi ...."
"Iya, saya pernah ketemu ibu-ibu yang sekarat karena asma," sela Nata.
"Sembarangan ya kamu ngomong!"
"Bapak yang lebih sembarangan ya! Apalagi biarin seorang ibu ke mana-mana sendiri, Bapak pasti anaknya, 'kan? Dan lebih parahnya nih, beliau bilang anaknya enggak bakal datang kalo dipanggil atau dimintai tolong. Emangnya sesibuk itu ya Bapak tuh sampe-sampe ibu sendiri enggak diperduliin?" tanya Nata, masih sambil memakan kue-kue kering di dalam stoples kaca yang ia pangku sekarang.
Ankara tidak perduli penuduhan macam apa itu, ia bahkan jadi berpikir untuk melaporkan si Adinata kepada Bunda karena sifatnya tidak begitu baik. "Intinya kamu Adinata, 'kan?" Dan ia sungguh ingin memastikan ini sekali lagi, meski harus bodo amat tentang sifat gadis di depannya yang memang tidak begitu penting, sebab yang penting hanyalah tentang nama Adinata saja.
"Kenapa sih dari tadi nyebut nama saya terus? Iya, nama saya tuh emang bagus ...."
"Nikah sama saya ya."
"Uhukk uhukk!"
"Kita laksanain secepatnya ...."
"Heh! Heh! Enak aja, saya enggak mau nikah sama bapak-bapak ya!" potong Nata, soalnya ini hal gila pertama yang ia dengar dari orang asing.
"Kamu enggak sopan banget, saya bukan bapak-bapak. Saya juga belum menikah," sahut Ankara.
"Ya ngapain nikah sama saya? Cari yang ...." Nata merasakan gejala aneh mengenai area pernapasannya, perkataan tadi jadi terjeda seiring tangan mendarat di area d**a atas. Sial, ia merasa asmanya kambuh. "Pak, ini suhu ruangannya terlalu rendah deh kayaknya," ujarnya.
Ankara tampak mengerutkan kening. "Kamu enggak sopan sama calon suami bilang gitu mulu, jangan panggil saya bapak ya!" Dan pria ini justru membahas sesuatu yang jadi permasalahan inti bagi Nata.
"Saya enggak mau!" Demi mendapat suhu yang normal, Nata memilih pergi dibandingkan harus berdebat dengan orang tidak jelas apalagi kalau sampai memicu penyakit asma. Buru-buru ia melangkah dan tidak menyangka kalau pria itu mengikutinya dari belakang.
"Adinata! Saya belum selesai bicara ya! Adinata berhenti!" Hanya kalimat itu yang berulang terdengar, dan tampak para bawahannya tercengang karena mungkin ini kali pertamanya melihat pimpinan mereka mengejar seorang gadis dengan penampilan yang biasa-biasa saja. Kalau Ankara mempunyai derajat paling tinggi di gedungnya, maka terbukti hal itu tidak berlaku di depan Adinata, sang gadis juga enggan memperdulikannya meski berujung guling-guling atau bersujud di bawah kakinya.
Adinata berpikir berlebihan.
"Pak, ada pekerja yang kecelakaan!" Teriakan seseorang dari pintu utama yang akan dilewati Nata, lantas membuat henti langkahnya. Dari kejauhan, tampak orang bergerombol di pinggir jalan dan memenuhi halaman depan sana dengan sosok yang tergeletak di bawahnya.
"Siapa?" tanya Ankara.
"Pak Usman."
Nata menatap orang yang memberi informasi dan nyaris menendangnya (kalau lupa pesan Ama harus jadi gadis baik-baik). "Jangan asal ngomong ya!" katanya.
"Kecelakaan apa?" tanya Ankara.
"Mobil Pak ...."
"ABAH!" Teriakan Nata sedikit membuat kaget, tapi gadis itu sudah lebih dulu berlari dan tidak perduli banyak penghalang yang memintanya jangan mendekat sebelum polisi dan ambulan datang. "LEPAS! ITU ABAH SAYA!" Ia berteriak lagi dan menghampiri sosok yang tergeletak lemah.
"Abah bangun ..! KENAPA ENGGAK ADA YANG MAU BANTU, TOLONG KAMI ANTAR KE RUMAH SAKIT!" Sambil menangis, Nata memeluk tubuh sang ayah dan meminta iba dari orang sekitar.
"Harus tunggu polisi ...."
"INI BUKAN TUNGGU POLISI NAMANYA, TAPI TUNGGU ABAH SAYA MAKIN PARAH!" balas Nata pada orang yang ingin memberi penjelasan.
"Bawa ke mobil saya!" Ankara memerintah bawahannya untuk segera bergerak. "Masalah polisi biar saya urus nanti," katanya lagi guna meyakinkan keraguan dari banyak orang.
Benar kata orang, kalau punya uang, kita tinggal 'sat set sat set' dan selesai.
***
"Ada cedera besar di kepala dan menyebabkan pendarahan otak, pasien harus secepatnya dioperasi. Tapi sebelum itu harus lengkapi surat menyurat dan proses pembayaran operasi, Mba."
Nata tidak tahu harus menjawab apa, ia tentu ingin operasi segera dilakukan, tapi mengingat biayanya, Nata juga yakin kalau lembaran kertas merah tidak mungkin datang begitu saja saat sulit begini. Satu hal yang bisa ia lakukan adalah menangis, seperti yang dilakukan sebelumnya ia hanya berharap belas kasihan orang-orang untuk membantunya.
"Saya urus soal surat menyurat, Dok. Tolong operasinya segera dilakukan sekarang." Dan suara Ankara yang sejak tadi memang paling sering Nata dengar muncul untuk menolong lagi, hanya karena satu kalimat itu saja, semua langsung berubah seratus delapan puluh derajat sesuai dengan keinginan gadis tersebut. "Enggak usah nangis, beliau enggak bakal kenapa-kenapa." Ucapan itu menjadi akhir dari komunikasi mereka.
Sembari menunggu, hampir satu jam sudah Nata berdiam di tempat duduk yang tidak jauh letaknya dari ruang operasi. Ia juga baru saja menghubungi rumah, mungkin Tio dan Ama akan segera sampai di sini. Nata ingat, Abah selalu bilang kalau misal ada cobaan menghampiri beliau, maka jangan terlalu bersedih. Tapi sayang, Nata tidak bisa menuruti hal itu, ia takut, bahkan sulit berpikir positif seakan kalau Tuhan meminta sang ayah pergi maka hancur sudah dunianya.
"Makan dulu." Sebuah kotak makan mendarat di pangkuannya, lalu sosok pria yang telah memberikan benda itu duduk di sebelahnya. "Udah menjelang sore, kamu belum ada makan siang," katanya lagi.
"Saya enggak lapar, Pak," jawab Nata.
"Bukan kamu, tapi buat keperluan perut kamu," sahut Ankara.
"Bapak kira saya hamil?"
Seandainya Nata tidak sedang ditimpa musibah, maka Ankara ingin membenturkan jidat gadis itu ke tembok. Lagian kenapa Bunda mau punya menantu seperti Adinata, apa yang membuatnya menarik? Memang adakah sesuatu yang bisa dibanggakan dari gadis ini?
Ankara yakin Bunda pasti salah pilih orang.