"Sayang kamu nggak usah pulang gimana? Aku masih kangen kamu.."
"Nggak bisa, aku harus pulang."
Shasa mendesah lirih mendengar penolakan tegas Gama, bibirnya mengerucut tanda bahwa ia sedang dalam mood yang buruk.
"Hei jangan gitu, aku janji nanti kesini lagi, ya?" Ucap Gama merayu, berharap bahwa Shasa membiarkannya pulang ke Jakarta.
"Iya deh," Pada akhirnya Shasa hanya pasrah saat mendengar rayuan Gama, karena memang Gama memiliki banyak pekerjaan di Jakarta. Dahulu Shasa pernah merengek ingin tinggal di Jakarta namun Gama menolak dan mengatakan bahwa ia menyukai Shasa di Surabaya.
"Yaudah, sebelum aku pulang bikin adik untuk Shania yuk? Aku pengen banget." Ucap Gama dengan senyum m***m dan mata menggerling nakal, Shasa tertawa namun tetap menyambut Gama dengan senang hati.
Rumah besar milik Gama kini berubah panas karena pergulatan suami istri yang dimabuk asmara, mereka saling menikmati dan melupakan bahwa sang pria memiliki kewajiban lain.
--
"Sere mau jalan-jalan? Sebelum pulang kita harus menikmati Kota Surabaya."
Sere dengan semangat menganggukan kepalanya, walaupun Sere tidak terlalu ingin jalan-jalan tanpa Papanya namun melihat binar Mamanya membuat Sere ikut bahagia.
"Mau Ma, tapi...." Asha menunggu Sere berbicara namun Sere terlihat ragu, ah sepertinya Asha tahu apa yang Sere ingin tanyakan,
"Sere mau ketemu Papa, ya?" Tebak Asha, berhasil, raut wajah Serena berubah lebih cerah saat mendengar kata Papanya, dimana Papanya?
"Papa? Kangen Papa, tapi Papa sibuk." Ujar Sere penuh pengertian, usianya memang baru 8 tahun namun Sere benar-benar anak yang baik dan mengerti tentang kesibukan orang tuanya.
"Sere mau call Papa? Mama call ya?" Asha mulai mencari kontak Gama untuk melakukan panggilan video.
Panggilan pertama diabaikan,
Panggilan kedua diabaikan,
Berhasil, tepat pada panggilan ketiga Gama mengangkatnya, dengan cepat Asha mengarahkan ponselnya pada Sere, untuk saat ini Asha belum sanggup melihat Gama walaupun hanya sekedar panggilan.
"Ya sayang?" Suara Gama terdengar begitu penuh semangat.
"Ah, Serena putri Papa, ada apa sayang?"
Sere tertawa lebar mendengar Papanya begitu manis, "Papa, Sere dan Mama ada di Surabaya."
Hening,
Asha menganga lebar mendengar ucapan jujur Sere, sial! Ini salahnya karena lupa memberitahu Sere bahwa ini adalah liburan rahasia.
Sedangkan Gama mematung mendengar suara ceria anaknya, Surabaya? Sedang apa Asha disini? Apa jangan-jangan Asha mengetahui kebohongan Gama?
"H-ha? Sere ngapain di Surabaya? Mama kok nggak kabarin Papa ya?" Tanyanya dengan suara yang mendadak pelan, namun Sere menggeleng tanda bahwa ia tidak mengetahui hal itu.
"Papa, Papa kenapa nggak pakai baju? Kenapa kamera Papa goyang-goyang? Papa nggak ada jaringan?"
"Nggak sayang, P-papa lagi olahraga."
Setelah itu panggilan diputus sepihak oleh Gama, Sere menghela nafas lelah, selalu begini jika melakukan panggilan, apa di tempat kerja Papanya tidak ada jaringan? Atau wifi?
"Hahahaha, olahraga," Ucap Asha dengan suara yang begitu parau, tentu Asha mengetahui maksud dari olahraga yang dilakukan Gama.
Bajingan.
--
Next