Gama merasa ada hal yang janggal dengan sikap istrinya, ia mengenal Asha selama bertahun-tahun dan Gama paham bagaimana Asha jika sedang marah, sedih, kecewa dan senang. Namun, beberapa bulan ini Gama sulit menebak apa isi hati Asha, Asha bagaikan patung dan Gama yakin jika Asha membangun sebuah benteng tinggi tak kasat mata untuk hubungan mereka.
Tapi kenapa?
Gama mendesah lirih, pekerjaan kantor menumpuk dan laporan harus selesai ditanda tangani malam ini, jika biasanya Asha akan menemaninya di ruang kerja untuk sekedar memijat atau membuatkan minuman namun kini Asha memilih menemanin Serena dan beralasan jika Serena sedang tidak enak badan.
Bicara tentang Serena, beberapa waktu belakangan ini Gama mulai melupakan putri kecilnya karena terlalu fokus pada putri kecilnya yang lain, Gama menyayangi keduanya, semua sama karena Gama Papanya.
"Sayang? Besok ada waktu nggak?" Asha menongolkan kepalanya diantara celah pintu membuat Gama menoleh kaget.
"Masuk Asha, bicara sama suami yang sopan." Tegur Gama dengan nada yang halus, sama seperti biasanya.
"Hehe maafin ya? Gimana? Gama ada waktu nggak besok?" Asha berjalan menghampiri Gama dan mengambil duduk di pangkuan Gama, hal yang paling Gama hindari karena malam ini ia tidak ingin menyentuh Asha.
"Ada sayang, kenapa hm?" Gama mengelus surai panjang Asha, ia menggeser tubuh Asha yang hampir terjatuh, dimana posisi ini sangat amat membuat Gama tersiksa.
"Mau jalan aja, Sere besok ada tour jadi kita bisa ada waktu berdua. Gimana?"
Gama terkekeh ringan mendengar nada manja dan tatapan memohon Asha agar permintaannya dikabulkan, sejujurnya tanpa memohon Gama pasti dengan senang hati mengabulkan permintaan Asha, karena bagi Gama, Asha selalu menjadi pemenangnya.
"Kemana, hm? Kira-kira aku ada waktu nggak ya.." Ujar Gama dengan sengaja mengetuk jari-jarinya pada punggung tangan Asha, ia sengaja ingin menggoda istrinya agar bisa melihat wajah memerah dan Gama juga merasa sudah lama Asha tidak ngambek, padahal biasanya Asha mudah sekali merengek dan ngambek.
Asha menjulurkan lidahnya pada Gama, "Pasti bisa dong, kamu mana mungkin nolak permintaan aku." Bangganya, walaupun Gama mendelik namun ia tetap tersenyum dan mengangguk.
"Apapun My Queen."
--
Sepasang suami istri yang terlihat bahagia kini tengah saling memandang penuh cinta. Asha terus tersenyum melihat Gama yang semakin lama terlihat semakin tampan, Gama-nya tetap sama seperti saat mereka kecil, selalu tampan.
Asha memutar ingatannya dimana ia dan Gama tertawa bersama, menangis bersama, berlarian karena di kejar guru, main hujan hingga sakit, bolos saat jam pelajaran dan berakhir dipanggil guru. Masa dimana hanya ada Gama yang berada disisi Asha saat ia terpuruk karena kehilangan kedua orang tuanya, hanya ada Gama saat Asha merasa dunia ini terlalu kejam. Ingatan Asha terpaut saat dengan bangga Gama mengatakan bahwa hanya Aeleasha Lesham yang bisa dan harus menjadi istrinya.
"Gama, apa selama ini kamu bahagia sama Asha?"
"Tentu, apapun tentang kamu selalu membuat aku bahagia."
Asha tersenyum miris mendengar jawaban Gama, benarkah?
"Gama, jika aku nggak bahagia sama kamu. Apa kamu mau melepaskan aku?"
Gama sontak menaikan alisnya menatap Asha bingung, nada bicara Asha yang selalu tenang membuat Gama kesulitan menerka situasi yang akan terjadi setelah ini,
"Kamu nggak bahagia sama aku?"
"Bahagia, bahkan nyebut nama kamu aja aku bahagia banget."
"Terus kenapa, hm?" Gama mengecup punggung tangan Asha lembut, "Kenapa sayang beberapa belakangan ini keliatan aneh? Ada yang ganggu kamu? Kamu ada pikiran?"
Walaupun Gama menampilkan ekspresi tenang namun ia tidak dapat memungkiri jika hatinya bergetar dan ketakutan. Gama belum siap, Gama tidak ingin ada hal buruk dengan keluarga kecilnya.
Asha meminta Gama untuk berdiri dan memeluknya, hampir dua puluh menit mereka saling berpelukan tanpa mengucapkan sepatah kata. Keduanya hanya diam menikmati momen dan waktu yang mungkin tidak akan pernah terjadi lagi dikesempatan lain.
Asha memberanikan mengecup singkat bibir Gama membuat empunya terkekeh pelan, menggemaskan sekali Asha.
"Gama, aku nggak apa-apa kalau kamu memiliki istri lain."
--
Next