"Gama..Asha kangen," ucap Asha, tangannya memeluk erat kemeja Gama yang belum dicuci, Asha sengaja menyisakan satu kemeja dengan wangi Gama yang selalu membuatnya rindu.
Malam ini bintang terlihat berkilauan membuat langit semakin cantik. Dulu, Asha dan Gama selalu menghabiskan waktu berdua untuk melihat bintang dan bulan, melakukan obrolan ringan tentang apa yang dilalui hari ini atau sekedar menanyakan apakah ada hal yang ingin diceritakan.
"Sakit......, Asha ngga pernah tahu kesalahan apa yang Asha buat sama Gama, kenapa Gama nyakitin hati Asha saat Gama satu-satunya yang Asha punya?"
Isakan kecil lolos dari bibir Asha, untuk malam ini ia ingin melampiaskan amarahnya dengan air mata, Asha lelah, Asha ingin mendinginkan tubuh dan pikirannya walau sesaat.
"Apa Asha udah ngga cantik lagi?" lirih Asha, hidupnya kini terlalu rumit, Asha merindukan hidupnya yang bahagia bersama keluarga kecilnya.
Sedangkan Gama terdiam kaku mendengar isakan pilu dan curahan hati Asha, tubuhnya bergetar, jantungnya remuk redam mendengar kesakitan Asha yang selama ini selalu terlihat baik-baik saja. Apa selama ini ia melewatkan banyak hal? Apa kali ini Gama telah menyakiti hati Asha terlalu dalam?
"Jangan nangis, Asha." Lirih Gama, ia memandang sendu tubuh wanita yang selalu menjadi tempatnya pulang, Gama menyadari jika Asha kini terlihat sedikit kurus, punggung kokoh itu kini bergetar naik turun seirama dengan tangisannya.
--
Pagi ini Asha bangun lebih siang dari biasanya, selain karena ini hari minggu, hari ini juga Gama tidak menginap di rumahnya yang artinya Asha tidak perlu membuat sarapan saat pagi hari. Asha memikirkan bahwa hari ini ia akan menghabiskan minggu panjangnya dengan Serena, ia akan mengajak Sere pergi ke mall atau kebun binatang.
"Hari ini harus kuat, Asha hebat!" Ucapnya memeluk tubuhnya sendiri, selalu seperti ini jika Asha akan menjalankan hari baru.
Setelah mandi dan berganti pakaian kini Asha melangkahkan kakinya menuju kamar Sere, semalam Sere tidur cepat karena kelelahan belajar, Asha juga bersyukur Sere semalam tidak terbangun dan mendengar tangisan pilunya, Sere harus baik-baik saja, anaknya tidak boleh mengetahui apapun hal yang buruk.
--
"Sere, hari ini main, yuk? Serena mau kemana? Zoo?"
Sere menatap penuh binar pada Asha, sejak lama ia meminta waktu Asha untuk bermain bersama namun Asha selalu menolak halus, kini Asha mengajaknya lebih dulu, ah bahagianya hati Sere.
"Mau! Sama Papa?" Tanya Sere polos, senyumnya terus merekah tanda bahwa ia sangat senang.
"Berdua aja, Papa kerja." Jawab Asha singkat sembari memasangkan pita pink dirambut Sere.
"Kerja? Tapi ini kan minggu?" Bingung Sere, entah mengapa Sere merasa Papanya sibuk walaupun hari libur.
Asha tersenyum masam mendengar ucapan Sere, ingin berteriak bahwa Papa kebanggaannya mungkin saat ini sedang menghabiskan waktu bersama istri dan anak keduanya, melupakan bahwa ada mereka berdua yang menunggunya kembali.
"Udah kita mau happy, jangan mikirin Papa terus nanti Mama sedih." Ucap Asha berpura-pura menangis dengan menutup wajahnya, Sere dengan cepat memeluk Asha dan meminta maaf karena menyakiti Mamanya.
"Sere mandi lalu sarapan dulu, ya? Mama tunggu di bawah."
"Siap Mama!"
Asha hanya tersenyum menyaksikan Sere yang berlarian ke kamar mandi, biarkan Sere tetap bahagia, bagaimanapun Gama tetap dan pernah menjadi pria yang paling baik selama hidup Asha.
--
"Hei, baby girl? Kangen banget..."
Asha hampir menjatuhkan air panas di pegangannya saat mendengar suara Gama yang sangat dekat dengannya, sejak kapan Gama ada disini? Sejak kapan juga Gama memanggilnya baby girl?
"Ck, suami pulang malah kaget, harusnya happy, dong," Ketus Gama melihat Asha yang masih mematung, "Asha ngga seneng kalau Gama pulang, ya?"
"Kamu ngapain disi---"
"DADYYYYYYYYYYYYYYY!!!"
"PAPAAAAAAAAAA!!!"
--
Next.