"Mah, kakak minta nomer Tante Wiwi dong!" Zena mendekati mamanya yang sedang duduk santai sambil menonton tv.
"Mau sok akrab sama camer?"
"Dih apaan!" Zena duduk di sebelah mamahnya.
"Ini loh, tadi Tante Wiwi ngirimin makan siang ke kantor. Zena mau ngucapin makasih aja. Atau kalo engga mama aja deh yang ngucapin." Zena menyandarkan kepalanya ke bahu sang mama, merebut ciki ukuran jumbo dari tangan sang mama.
"Apaan, Wiwi mana tau kantor kamu. Ngaco ah. Kalo mau nomer camer ya ambil aja di hp mama nih!" Mama Zena menyerahkan hpnya ke pangkuan Zena.
"Ck, gapercayaan sama anak sendiri." Zena mengutak-atik ponsel pintar mamanya.
"Tadi waktu kakak mau pulang, mbak-mbak resepsionis ngasih bungkusan isinya makan siang. Katanya dari Ibu Wiwi." Zena bercerita. Kemudian mengembalikan ponsel mamanya setelah mengirimkan kontak bertuliskan Wiwi.
From: me
To: Tante Wiwi
Tante wiwi, ini Zendaya. Makasih udah repot-repot ngirim makan siang ya Tan. Besok-besok tante hubungin Zena dulu aja biar bisa ketemu. Zena jadi gak enak loh tan. Makasih sekali lagi ya tan. Salam dari mamah.
Centang dua, sip. Tinggal menunggu balasan. Zena terfokus lagi pada acara televisi yang menampilkan berbagai artis komedi. Sesekali tertawa kecil.
Tiiing... ponsel Zena berbunyi, tanda personal chat masuk.
From: Tante Wiwi
To: me
Ini Zendaya anaknya Farah?
Tante gak ngerti kamu lagi ngomongin apa sayang. Kamu mau ngajak tante makan siang?
Eh loh? Kok balesannya gini?
Eh zena salah orang kali ya tan? Soalnya tadi orang kantor bilang ada yang nitipin makan siang buat zena dari ibu wiwi. Zena kira dari tante. Maaf ya tan. Mungkin salah orang.
Sebelum sempat mengirimkan pesan tersebut, Tante Wiwi kembali membalas pesan Zena.
From: Tante Wiwi
To: me
Oh iya yang tadi ya. Sama-sama sayang. Semoga suka ya.
Aneh–pikir Zena.
***
Kembali pada rutinitas akhir bulan yang membuat kepala Zena pening. Laporan yang disusun Zena sudah hampir selesai. Hanya terkendala sebuah nota rusak yang tersiram kopi hitam milik Edo.
Tahu bahwa marah tidak akan menyelesaikan masalah, Zena dan Edo berusaha mencari cara.
Mulai dari menghubungi divisi humas. Sayangnya karena sedang mengejar project baru untuk iklan yang akan ditampilkan segera, divisi humas menolak membantu.
Mereka menyarankan pada Zena dan Edo untuk datang ke perusahaan yang berkaitan. Mereka memberikan nomor humas dari perusahaan terkait beserta alamatnya.
Tak ingin membuang waktu lebih lama, mereka berangkat menggunakan motor Zena untuk menghindari macet. Memang belum saatnya jam makan siang, tetapi kawasan kota pasti akan dipenuhi kendaraan.
Mereka mengadakan janji temu dengan kontak yang diberikan oleh orang humas pada jam makan siang di restoran dekat alamat perusahaan relasi.
Setelah menunggu sekitar 15 menit, datanglah seorang pria berperawakan tinggi dengan d**a bidang. Tulang rahangnya yang nampak kokoh menampilkan kesan jantan sempurna. Ditambah kulitnya yang berwarna tan eksotis dan terlihat bersih.
Zena merasa terpana sebentar. Untung Edo yang duduk di sebelahnya segera menyenggol lengan kirinya. Zena buru-buru mengerjapkan matanya.
Ck... decakan Edo terdengar jelas oleh Zena. Zena hanya memamerkan giginyake arah Edo.
"Udah lama nunggu ya? Sorry tadi ketemu atasan di jalan. Jadi harus ngeladenin beberapa pertanyaan dulu." Kata si pria tampan sambil duduk di depan Zena.
Meja yang ditempati berbentuk bulat dengan 4 kursi yang melingkarinya.
"Aji..."
"Zena..."
"Edo..."
Setelah berjabat tangan dan saling memperkenalkan diri, Zena langsung menceritakan masalah yang dihadapi mereka.
"Agak susah sih. Soalnya ini harus melibatkan bagian keuangan, humas, dan orang lapangan. Gue gak yakin bisa kelar hari ini ataupun besok, tapi kalo kalian ngehubungin manager keuangannya langsung mungkin bisa langsung kelar."
"Apa gak bisa minta nota sama capnya aja. Kita bawa yang asli kok. Tulis sesuai nilainya aja." Usul Edo yang diangguki Zena.
"Gak segampang itu. Kalo nota yang kita keluarin pasti tercatat sistem. Nah, buat dapet nota yang gak terikat sistem harus ke kepala department keuangannya. Nah biasanya manager keungan bisa buat bantuin biar bisa lebih cepet." Jelas Aji.
"Kami harus nyelesein laporan tutup buku sebelum jumat. Bisa gak, tolongin kami?"
"Emmm... sebenernya kepala department keuangannya temen gue sih. Mungkin gue bisa bantuin kalian buat langsung ketemu. Sore ini mungkin?" Aji menawarkan solusi yang mau tak mau harus diambil Zena dan Edo.
"Deal. Thanks bro!" Sahut Edo mengulurkan tangan yang disambut baik oleh Aji.
Setelah perbincangan mengenai masalah nota sudah selesai, mereka memutuskan makan siang bersama sambil mengobrol akrab.
Mereka membuat janji temu pukul 6 sore di restoran yang sama. Setelah membereskan meja dan mematikan komputer, Zena dan Edo menuju restoran yang sama menggunakan mobil Edo.
Jam pulang kerja membuat mereka sedikit terhambat. Padatnya jalanan seakan ingin memperlambat hari ini. Dalam hati Zena sudah memaki Edo kembali.
Harusnya tadi kalo pake motor bisa nyelap-nyelip—gerutu Zena dalam hati.
Setengah jam merayap di jalan, mereka sampai di lokasi tujuan. Mereka masuk kemudian mengedarkan pandangan untuk mencari meja kosong atau Aji.
Tidak mendapati Aji, mereka memilih mendekati meja kosong di dekat jendela besar. Zena membuka ponselnya. Mencari kontak Aji dan memberikan kabar bahwa dia sudah di lokasi janjian. Tak sampai 15 menit, Aji duduk manis di depan Zena.
"Bentar ya, temen gue masih nerima telpon di luar."
Zena merasa pandangan Aji sedikit mengusiknya. Beberapa kali tertangkap basah memandanginya lekat. Zena tentu saja hanya bisa tersenyum kikuk meskipun sedikit risih. Bagaimanapun dia sedang berada dipihak 'membutuhkan bantuan'.
Obrolan didominasi atara Edo dan Aji. Zena hanya mendengarkan sambil memakan pastanya atau menjawab ketika salah seorang dari mereka bertanya.
Zena masih fokus pada pastanya ketika kursi di depan Edo ditarik mundur seseorang.
"Nah ini Abim. Kepala department keuangannya." Suara Aji membuat Zena mendongak setelah mengambil tissue untuk menutupi mulutnya yang dipenuhi pasta.
Zena melotot mengenali sosok yang dari tadi dinanti. Reflek, dia terbatuk. Edo yang berada di sebelahnya segera memberikan minumannya dan mengelus punggung Zena.
"Pelan-pelan dong, Zen!" Ucap Aji yang menatapnya. Zena mengabaikan Aji dan usapan Edo. Dia hanya melotot ke arah Raka.
Ya. Abim yang disebutkan Aji adalah Raka. Raka yang kemarin dengan seenaknya memposting fotonya di akun instagramnya.
"Elo kenapa sih Zen?" Bisik Edo di telinganya. Terlalu dekat menurut Zena sehingga dia menjauhkan kepalanya.
Eheem! Dehem Raka cukup keras.
"Maaf..." cicit Zena pelan.
Edo masih memeluk punggung Zena tanpa disadari keduanya. Tanpa perkenalan, Edo langsung mendiskusikan masalah yang dihadapinya.
Abim atau Raka menyetujui membantu mereka dengan syarat membawa nota yang rusak dan surat pengantar resmi dari perusahaan menggunakan cap resmi serta tanda tangan kepala divisi keuangan mereka.
Zena merasa itu hal yang bisa ia lakukan dengan segera. Lagipula kepala divisi keuangan sudah mengetahui kejadian yang menimpanya.
Selesai membahas masalah nota, mereka melanjutkan dengan makan dan mengobrol santai. Kecuali Zena yang memilih untuk menjawab seadanya karena merasakan tatapan tajam dari Raka.
Zena dan Edo pamit untuk pulang lebih dulu, tapi Zena memilih untuk menuju toilet terlebih dahulu sedangkan Edo langsung menuju parkiran.
Letak toilet yang berada di samping kasir membuat Zena harus melewati meja mereka kembali. Saat melewati meja, Zena menunduk hormat pada Aji dan Raka. Zena membasuh wajah dan membenarkan dandanannya. Kemudian keluar dari toilet. Meja mereka sudah kosong. Artinya keduanya sudah pulang.
Zena berjalan keluar dari restoran menuju mobil Edo. Sebelum sempat mencapai mobil Edo, tangannya ditarik keras.
Belum sempat Ia berteriak, mulut Zena kembali terbungkam saat tahu Raka-lah pelakunya.
Cengkraman Raka di tangan Zena terasa menyakitkan. Sayangnya Zena tak berani protes saat melihat rahang Raka yang mengeras dan wajah yang sedikit menggelap dengan pembuluh darah yang bertonjolan.
"Masuk!" Raka membuka pintu mobilnya.
"Tapi Ed-"
"Masuk!" Raka menggeram.
Zena menciut takut. Memilih masuk ke mobil Raka.
***