Sepanjang perjalanan aku memilih diam dan berdoa. Semoga Raka masih cukup waras untuk tidak bunuh diri, terlebih ada aku di sampingnya. Aku belum ingin mati muda, sungguh.
Dia seperti enggan menurunkan kecepatannya. Untunglah jalanan lebih lenggang di waktu sore menjelang malam ini.
Aku tidak mengenali jalanan yang kami lewati. Bukan berarti dia membawaku menuju hutan belantara, hanya saja aku memang tidak sering main sehingga tidak tahu banyak jalan. Aku lebih suka memanfaatkan waktu untuk tidur dibandingkan keluyuran.
Tunggu. Aku mulai tak asing dengan jalan yang kami lewati.
"Rak, kita ngapain ke bandara?"
"Ke Makassar." Raka menjawab singkat.
"What? Ngapain?"
"Aku gak mau ya sampe kamu aneh-aneh. Aku harus kerja besok. Kerjaan aku lagi numpuk. Belum lagi mamah aku yang sendirian. Bisa ngira aku di culik kalo belum pulang-pulang."
Aku menghadap Raka. Menunjukan wajah memohonku. Mama tak pernah menolak permintaanku jika aku sudah memasang ekspresi seperti ini. Semoga Raka juga.
"Rak, please!"
Mobil raka sudah berhenti di parkiran mobil Bandara Internasional Achmad Yani Semarang.
"Oke, tapi ke rumah Saya." Raka menoleh ke arahku.
"Taap-"
"Makassar atau rumah Saya?"
Aku menghela napas dalam.
"Fine! Rumahmu!" Aku mulai meninggikan suaraku. Samar, aku melihat salah satu sudut bibirnya naik.
Dasar licik!
***
Pukul 8 malam, kami sampai di rumah Raka. Pekerja rumah tangga Raka menyapa kami saat memasuki pintu utama.
Raka terus menarik tanganku, takut kalo aku kabur. Mungkin. Dia membawaku ke arah dapur. Badanku menegang seketika.
Dapur selalu berhasil mengingatkanku pada Enrio. Atau mungkin lebih tepatnya mamah Enrio.
Mungkin karena menyadari badanku yang tiba-tiba membatu tak mengikuti langkahnya, Raka menolehkan wajahnya kepadaku.
"Kenapa?" Dia mengerutkan keningnya dalam.
"Kamu ngapain bawa aku ke dapur?"
Entah suara cicitanku menjelaskan betapa khawatirnya aku atau tidak. Tatapanku terus tertuju ke arah peralatan masak. Aku belum berani menatap wajah Raka.
"Saya lapar, masakan sesuatu!" Itu bukan kalimat permintaan, tapi perintah. Meskipun dia mengucapkannya datar tanpa ada intonasi yang tinggi.
"Aku cuma bisa masak mie instant. Itupun bakal bikin dapur kamu berantakan dulu." Aku berusaha mencari alasan yang tepat untuk menolak.
"Oke." Jawaban singkat Raka membuat aku mengerutkan alisku.
Serius orang kayak dia mau makan mie instant?
Raka melangkah duduk di high chair bar yang ada di dapurnya. Aku melangkah mengikuti Raka, meletakan tas dan membuka blazerku.
Ya mau bagaimana lagi.
Sebenarnya tidak semua dapur mengingatkan aku pada Enrio- emm mamah Enrio. Bentuk dapur orang kaya, yang biasanya memang setipe. Berbeda dengan dapurku yang hanya berisikan satu kompor dua tungku.
Aku mengambil panci berukuran sedang, pengaduk, termos, tirisan, gelas, mangkok, sendok-garpu, mie instan, telur ayam, tomat, cabai, dan pisau berdasarkan arahan tuan rumah tentunya.
Cetk....
Aku mulai menyalakan kompor, mengatur agar menampakan api terkecil. Meletakan panci yang sudah berisi air, kurang lebih seperempatnya.
Sambil menunggu air mulai panas, aku mencuci cangkang telur, cabai, dan tomat pada air mengalir di wastafel. Karena air sudah mulai panas, aku meletakan mie pada wajan tersebut. Sambil menunggu mienya mengembang, aku memotong cabai dan tomat.
Mie yang sudah hampir matang aku tiriskan. Setelah mematikan kompor, aku mengganti air dengan air termos satu gelas. Menyalakan kompor lagi dan mulai merebus telur beserta cabai.
Aku menyiapkan mangkok, menuangkan bumbu-bumbunya kemudian meletakan mie pada mangkok tersebut. Setelah telur hampir matang, aku memasukan potongan tomat ke dalamnya.
Langsung aku mematikan kompornya agar tomat tidak rusak karena terlalu matang. Mengguyur mie dengan kuah yang baru masak, mengaduknya, dan membubuhinya dengan bumbu tabur bawang goreng.
Akhirnya selesai!
Aku tersenyum bangga melihat hasil kerja kerasku. Membalik badan ke arah Raka duduk. Aku sedikit terkejut melihat dia menatap lekat padaku. Ku pikir dia akan sibuk dengan ponsel pintarnya. Tidak ku sangka, tidak ada ponsel di meja.
Dengan hati-hati, aku letakan mangkok di hadapanya. Wajahnya datar, tak ada senyum sama sekali.
Aku duduk di sebelahnya. Bagaimana caranya mengatakan aku ingin pulang? Aku bingung sendiri. Sedikit menyesal katena tidak memiliki aplikasi ojek online. Mungkin besok aku harus menginstall aplikasinya.
Mie dalam mangkok sudah habis. Mulutnya mendesis lirih, mungkin karena menggigit cabai. Dengan sadar diri aku mengambilkannya segelas air putih dingin dari kulkas.
Tak usah menghujatku. Aku tau baiknya memang air putih hangat, tapi kalian tahu. Aku malas saja.
Setelah menghabiskan minum tersebut, dia berbalik dan melangkah pergi.
Lah? Aku ditinggal?
"Rak, Raka!"
Dia tidak menoleh sama sekali. Tuhan memang adil. Dia menciptakan makhluk sesempurna Raka lengkap dengan sifat minusnya.
Dia melangkah menaiki tangga menuju sebuah pintu berwarna coklat gelap yang nampak kokoh. Aku yakin itu kamarnya. Aku terus mengekori dirinya. Bagaimanapun dia harus bertanggung jawab karena sudah menculik anak gadis orang.
Sepertinya dia mencoba menganggapku tak ada. Setelah sampai di kamar pun dia tidak bicara sepatah kata pun. Dan dengan santainya malah melenggang ke arah kamar mandi.
Entah mengapa seketika aku bisa mencium bau badanku sendiri. Ayolah, setelah acara masak yang membutuhkan waktu tidak sebentar badanku tentu saja terasa lengket.
Oke, menumpang mandi sebelum pulang mungkin bukan ide yang buruk.
Aku keluar kamar Raka menuju lantai satu. Berusaha mencari pengurus rumah tangga di sini. Setelah menemukannya aku meminta tolong diantarkan untuk mandi sekaligus meminjam baju tidur babydollnya.
Awalnya memang dia menolak meminjamkanya, tapi tentu saja aku memaksa. Lagipula aku juga terbiasa memakai babydoll yang sama seperti yang dia pakai.
Setelah mengucapkan terimakasih, aku langsung memasuki kamar di lantai satu ini. Percayala ini mandi terkilat yang aku lakukan.
Aku segera kembali ke kamar Raka dengan menenteng tas dan totebag berisi setelan kerjaku.
Demi apa dia belum selesai mandi?
Apa yang dia lakukan selama itu di dalam sana. Apa mungkin dia sedang membayangkan tubuh telanjang seseorang dan bermasturbasi?
Astaga kenapa pikiranku jadi kotor begini hahaha...
Kasurnya terlihat menggoda. Dengan tidak tahu malunya aku merebahkan diriku di atasnya. Mencari posisi yang nyaman. Membuka ponselku, mengecek media sosial i********:.
Raka Sialan!
Dia kembali mengunggah story di i********:. Meskipun kali ini wajahnya tidak nampak. Dia memotret punggungku yang sedang memasak beserta caption 'look my sexy girl there'.
Buru-buru menghapusnya. Akhir-akhir ini jumlah DMku meningkat drastis. Entah ini karena kemarin atau yang sekarang, belum ada niatan untuk membukanya sama-sekali.
Terlalu asik bermain ponsel membuat aku sedikit mengantuk. Dua kali ponselku jatuh mengeni dadaku.
Apa yang dilakukan Raka sampai menghabiskan waktu selama ini untuk mandi? Entahlah, aku sudah tidak bisa menahannya. Mungkin tidur sebentar tidak apa-apa.
***
posted on w*****d: 11 Desember 2019