"Ya Tuhan, aku terlambat! Ini satu-satunya cara supaya aku bisa melunasi hutang setelah Revan sialan itu menipu aku habis-habisan!"
Bianca merutuki nasib sambil menyambar tas kerjanya. Beruntung, ia sudah menyiapkan pakaian formal untuk wawancara di dalam tas yang ia bawa ke hotel semalam.
Dengan tangan gemetar, ia segera berganti pakaian dan memakai sepatunya. Tidak ada waktu untuk menangisi nasib, ia harus segera sampai dengan tepat waktu.
"Harus naik taksi, padahal uangku pas-pasan banget," gumamnya kesal saat keluar dari lobi hotel.
"Mau ke mana, Neng?" tanya sopir taksi yang menunggunya.
"Ke Tama Grup Tower, ya, Pak. Tolong cepat, ya."
Sesampainya di sana, Bianca berlari kecil menuju ruang tunggu karyawan. Untungnya, ia sampai tepat waktu.
Di sekelilingnya, puluhan calon karyawan lain duduk dengan wajah tegang, sibuk menghafal berkas masing-masing.
Bianca berusaha mengatur napas dan mencoba fokus pada tumpukan dokumen di pangkuannya. Namun, pikirannya justru melayang jauh.
Ia malah teringat kembali semua kejadian semalam. Tepatnya kejadian dia menyerahkan keperawanannya pada pria asing yang dia panggil Tuan Mafia.
"Tuan Mafia? Aku benar-benar gila," bisiknya pelan, hampir tak terdengar.
"Siapa dia sebenarnya? Masa iya ada mafia beneran di dunia ini?"
Ia memijat pelipisnya yang masih terasa berdenyut. Tepat saat ia mencoba memejamkan mata untuk menenangkan diri, suasana ruangan mendadak hening.
Pintu besar di ujung ruangan terbuka dengan tenang. Seluruh staf yang ada di sana seketika berdiri tegak, menunjukkan rasa hormat yang luar biasa.
Sosok pria dengan setelan jas hitam mahal berjalan masuk dengan aura yang begitu menekan.
Bahunya tegak, langkahnya mantap, dan tatapan matanya sedingin es yang mematikan. Pria itu tampak sangat berwibawa.
Itu pasti bosnya, batin Bianca.
Bianca yang tadi menunduk, perlahan mengangkat wajahnya. Saat matanya beradu pandang dengan pria yang duduk di kursi utama meja pewawancara, napasnya seolah terhenti. Jantungnya berdegup kencang, nyaris melompat dari dadanya.
"A-Apa? Dia? Nggak, pasti aku salah!" sentaknya pelan lalu menunduk. Ia pun menatap orang itu lagi. "Nggak, dia beneran?"
Biantara Narendra Tama.
Pria itu tidak menunjukkan reaksi apa pun.
Ia hanya menatap daftar nama di depannya dengan datar, seolah-olah Bianca hanyalah satu dari sekian banyak orang asing yang ada di ruangan itu.
**
Wawancara itu berlangsung layaknya prosedur standar korporat. Suasana ruang rapat sangat formal dan kaku, hanya terdengar suara ketukan pena atau lembaran kertas yang dibalik.
Biantara duduk paling tengah, diapit oleh dua manajer personalia yang terlihat lebih banyak diam daripada bertanya.
Satu per satu kandidat dipanggil. Bianca memperhatikan dari kursinya dengan perasaan yang semakin tidak keruan.
Tangannya dingin, dan kepalanya terasa semakin berat setiap kali Biantara mengajukan pertanyaan pendek dengan nada suara yang dalam dan dingin.
Suara itu, suara yang sama yang membisikkan ancaman di telinganya semalam.
"Selanjutnya, nomor urut dua puluh empat, Bianca Isabella Claire."
Suara staf HRD memecah lamunan Bianca. Ia tersentak, lalu dengan kaku berdiri dan berjalan menuju meja pewawancara.
Langkahnya terasa berat, seolah lantai yang ia injak adalah permukaan es yang licin.
Saat ia duduk di kursi tepat di depan Biantara, pria itu bahkan tidak menatapnya. Fokusnya masih pada lembaran biodata milik Bianca.
"Nama lengkap?" suara Biantara terdengar datar.
Bianca menelan ludah. "B-Bianca Isabella Claire, Pak."
"Anda melamar posisi asisten eksekutif," Biantara akhirnya mendongak. Tatapan matanya yang tajam menghujam tepat ke mata Bianca, membuat wanita itu gemetar hebat di bawah meja.
"Berikan alasan mengapa saya harus menerima seseorang dengan pengalaman yang cukup minim seperti Anda untuk posisi ini?"
Otak Bianca seketika kosong. Semua jawaban profesional yang sudah ia hafalkan semalaman menguap entah ke mana.
Yang ada di pikirannya hanyalah bayangan pria di depannya ini saat melepas kemeja penuh darah semalam.
"Saya... saya..." Bianca terbata. Ia melihat jemari Biantara yang memegang pulpen.
Ia ingat persis bagaimana tangan itu mencengkeram bahunya dengan kuat semalam.
"Anda bisa menjawabnya, Nona Claire?" Biantara menaikkan sebelah alisnya.
Ia sedikit mencondongkan tubuh ke depan, memberikan tekanan yang membuat dua manajer di sampingnya saling melirik.
Bianca menunduk dalam, wajahnya memanas hebat. Ia merasa seperti sedang ditelanjangi oleh tatapan pria itu. Tidak ada jawaban yang keluar. Lidahnya kelu.
Ia benar-benar mematung di sana, membiarkan keheningan yang canggung menyelimuti ruangan.
Ia merasa dunia ini terlalu sempit, dan di kursi ini, ia merasa seperti sedang menanti hukuman mati.
**
Ia bahkan tidak berani menatap pria itu lagi saat ia berbisik lirih, "Terima kasih, Pak," lalu bergegas kembali ke barisan calon karyawan lainnya.
"Payah sekali kamu, Bianca!" umpatnya dalam hati.
Ia benar-benar hancur. Wawancara terpenting dalam hidupnya berakhir dengan kegagalan total hanya karena ia tidak bisa berhenti memikirkan Tuan Mafia nya semalam.
Ia menyandarkan punggung ke dinding koridor, memejamkan mata rapat-rapat. Untuk apa ia berharap diterima? Pria itu jelas-jelas menganggapnya tidak kompeten.
"Dia CEO, Bianca. Bukan mafia. Kamu cuma kelelahan dan trauma," gumamnya terus-menerus sebagai mantra penenang.
Dia mungkin gila karna sempat mengira pria tadi adalah Tuan Mafia yang semalam, padahal dunia keduanya jelas berbeda.
Lalu, suasana koridor mendadak riuh. Staf HRD keluar dari ruangan dengan membawa selembar kertas pengumuman.
Para pelamar langsung berkerumun, saling sikut untuk melihat daftar nama yang lolos ke tahap berikutnya.
Bianca memilih untuk berdiri di barisan paling belakang. Ia sudah pasrah.
Ia tidak punya harapan lagi untuk posisi asisten eksekutif ini. Baginya, melihat wajah pria itu saja sudah merupakan bencana yang akan menghantuinya seumur hidup.
"Ayo, cepat lihat siapa saja yang beruntung!" seru salah satu pelamar.
Bianca hanya bisa menunduk, membiarkan orang-orang berlalu di depannya.
Namun, saat kerumunan mulai menipis dan ia akhirnya melangkah mendekati papan pengumuman, jantungnya seolah berhenti berdetak.
Di posisi paling atas, tertulis dengan cetakan tebal dan jelas.
ASISTEN EKSEKUTIF : BIANCA ISABELLA CLAIRE.
Mata Bianca membelalak.
Ia membaca namanya sekali lagi, memastikan bahwa ia tidak sedang berhalusinasi akibat efek obat semalam. Tangannya gemetar hebat saat menyentuh kertas itu.
Ia lolos.
Namun, tepat di saat ia masih mematung tak percaya, sebuah suara berat dan dingin yang sangat ia kenali tiba-tiba terdengar tepat di belakang telinganya.
"Ikuti saya ke ruangan saya sekarang, Nona Claire."