"Jadi, Nona Claire, Anda sudah siap untuk langsung bekerja sesuai dengan bidang yang Anda pilih, asisten pribadi saya?"
Bianca mendongak, namun segera menunduk lagi saat tatapan pria itu menghujamnya.
Benar, dia pria semalam. Pria yang sama. Sorot matanya yang dingin dan tajam itu benar-benar persis.
"Asisten pribadi?" ulang Bianca dengan suara nyaris berbisik.
Pria itu maju selangkah. Ia menunduk sedikit, memperpendek jarak di antara mereka. "Lihat saya, Nona. Saya di sini," ucapnya.
Bianca menelan ludah dengan susah payah sebelum akhirnya memberanikan diri menatap mata pria di depannya.
"M-Maaf, Pak. Saya hanya, saya hanya agak kaget karena tidak menyangka terpilih. Tapi saya kira asisten eksekutif dan asisten pribadi dua hal yang berbeda?"
"Di perusahaan saya, itu adalah hal yang sama," jawab pria itu datar.
"Saya membutuhkan seseorang yang bisa mengurus jadwal, dokumen, hingga urusan privat saya yang mendesak. Dan Anda, Nona Claire, terpilih karena latar belakang pendidikan Anda yang bersih."
Pria itu menyentuh dagu Bianca, memaksanya untuk menatap tepat ke matanya dengan jarak yang sangat dekat.
Bianca bisa mencium aroma parfum samar, aroma yang sama dengan yang ia hirup saat berada di bawah kungkungan pria itu semalam.
"Apa kita pernah bertemu, Nona Claire?"
Bianca terdiam, jantungnya berdegup tidak karuan sebelum ia buru-buru menggeleng. "Tidak, Pak. Tapi mungkin wajah saya pasaran, jadi Bapak—"
"Tidak, saya belum pernah melihat wajah seperti Anda, Nona Claire. Tapi saya yakin Anda pernah bertemu saya," pria itu menjeda kalimatnya, matanya menyipit saat memori samar mulai berputar di kepalanya. "Hanya saya belum begitu ingat, dimana persisnya, dan kapan."
Sesuatu yang seharusnya ia lupakan, justru kembali dengan jelas.
"Ah! Faster please, Tuan Mafia!"
Suara desahan itu bergema di kepala pria itu.
Kejadian yang memalukan, namun entah mengapa, memori tentang wanita di bawahnya itu terus membuatnya penasaran.
Bianca memejamkan mata, mencengkeram jemarinya sendiri dengan gugup. Apakah dia ingat? Ya Tuhan, tolong aku, batinnya.
"Nona Claire," pria itu mulai membacakan detail biodata di tangannya dengan nada mengintimidasi.
"Bianca Isabella Claire, 23 tahun. Lulusan cumlaude dari Universitas Adiwangsa . Alamat di Jalan Melati nomor empat puluh dua. Katakan, Nona ... apakah Anda pernah mengunjungi Hotel Grand Emerald semalam?"
Deg.
Dunia Bianca seolah runtuh. Kini ia yakin seratus persen, Biantara Narendra Tama adalah Tuan Mafia yang menidurinya semalam.
Belum sempat Bianca merangkai jawaban untuk membela diri, pria itu tiba-tiba terbatuk kecil.
Tatapannya berubah menjadi jauh lebih gelap dan menantang.
"Coba kamu ulangi perkataan saya," perintah pria itu dengan suara yang sengaja direndahkan.
Bianca mulai gemetar hebat. "I-iya, Pak."
"Faster please, Tuan Mafia."
Pria itu mengucapkannya dengan fasih, bahkan dengan penekanan yang membuat telinga Bianca terasa panas.
Bianca melotot, ia segera menutup mulutnya dengan kedua tangan, wajahnya memucat seketika.
"Ulangi, Nona Claire," desak pria itu, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang mematikan.
**
Bianca membanting pintu kamar kostnya yang sempit, lalu merosot jatuh ke lantai. Ia menarik lututnya ke d**a dan memeluknya erat, berharap bisa lenyap dari dunia ini.
Rasanya ia ingin segera lari ke pinggiran Kali Ciliwung dan tenggelam saja di sana daripada harus berhadapan lagi dengan pria gila itu.
Seharusnya ia menuntut.
Keperawanannya telah direnggut, harga dirinya diinjak-injak oleh orang asing di sebuah kamar hotel.
Namun, memori semalam justru menyiksa batinnya dengan fakta yang lebih kejam, Bianca yang memaksa, Bianca yang menarik leher pria itu, dan Bianca yang memohon agar pria itu tidak pergi.
Ia gemetar hebat. Bagaimana mungkin ia menuntut jika ia sendiri yang menawarkan diri?
Pria itu berkuasa, punya segalanya, dan Bianca? Ia hanya gadis yatim piatu yang dikejar hutang. Jika pria itu membalas, ia bisa hancur dalam hitungan detik.
"Jadi, kenapa CEO Tama Grup terlibat kriminal seperti semalam?" bisiknya lirih pada udara kosong.
Kepalanya berdenyut saat ingatan itu kembali menyerang. Suara berat pria itu yang memerintahkannya untuk mengulang kalimat memalukan itu, kalimat yang akan terus menghantuinya hingga ke liang kubur.
Ah! Faster Please, Tuan Mafia.
Bianca memukul kepalanya sendiri dengan frustrasi.
Ia nyaris pingsan di kantor tadi kalau saja tidak ada tamu penting yang memotong percakapan mereka.
Keberuntungan kecil yang menyelamatkannya dari penghinaan lebih jauh di hadapan manajer HRD.
"Sialan. Sekarang aku adalah asisten pribadi tuan mafia itu," ia mendesis, lalu buru-buru meralat ucapannya sendiri.
"Tidak, tidak! Dia CEO. Dia bosku, bukan pria yang meniduriku semalam."
Ia terus meracau, mencoba meyakinkan diri sendiri dengan kebohongan yang ia tahu sangat rapuh. Ia tahu pria itu adalah orang yang sama.
Aura dingin yang menekan, bekas luka di lengan, dan tatapan mata yang seolah bisa mengulitinya hidup-hidup. Bianca terjebak.
Ia sudah menandatangani kontrak pekerjaan itu.
**
Bianca baru saja akan memutar kunci pintu kamar kostnya saat sebuah tangan kasar mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat.
Ia tersentak, jantungnya seolah berhenti berdetak karena terkejut. Begitu ia berbalik dengan napas memburu, matanya membulat sempurna.
Sosok di hadapannya adalah pria yang baru saja ia dengar mengalami kecelakaan kritis.
"Kamu! Kamu mau ngapain ke sini, Revan!!" teriak Bianca.
Revan berdiri di sana, dengan perban tebal melilit kepalanya yang masih menyisakan noda darah kering.
"Bianca, aku mohon, tolong aku! Bianca, kali ini saja, kumohon!" Revan memohon dengan suara parau, berusaha meraih bahu Bianca.
Bianca segera mengibaskan tangan pria itu dengan jijik lalu menjerit.
"Pergi kamu! Tega-teganya kamu ke sini! Kenapa kamu masih hidup, kenapa kamu nggak mati sekalian saja! Kamu sudah ambil semua tabunganku, sekarang aku ditagih hutang gara-gara kamu! Kamu gila, Revan!"
Revan menunduk dalam, bahunya bergetar. "Aku mohon, Bianca, kamu nggak tahu? Sinta ... Sinta meninggal."
Seketika, seluruh tenaga Bianca seolah tersedot dari tubuhnya. Kakinya gemetar hebat hingga ia harus bersandar pada kusen pintu agar tidak ambruk.
"Apa?" bisiknya pelan, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Aku minta maaf, Bianca. Aku salah. Tapi aku terpaksa melakukan ini semua. Kalau aku nggak ikutin rencana itu, mereka akan membunuhku," isak Revan, air mata mengalir dari matanya yang lebam.
Bianca menggeleng keras, air mata amarah menggenang di pelupuk matanya.
"Kalian memang sengaja menjebakku! Kamu selingkuh, dan ternyata selama ini selingkuhanmu itu Sinta sendiri. Kalian ciuman setelah menaruh sesuatu di minuman aku, dan kalian mau menjualku ke orang asing! Kamu benar-benar gila, Revan!"
"Aku nggak punya pilihan, Bi! Pria itu... pria yang mau membeli kamu semalam, dia monster! Dia bukan manusia biasa!"
Revan memegang kepalanya yang kesakitan, menatap Bianca dengan ketakutan yang nyata.
"Kalau kamu nggak mau ditangkap mereka, kamu harus ikut aku sekarang. Kita harus lari!"