Bianca menepis tangan Revan yang mencoba meraih lengannya.
Ia mundur selangkah, menatap pria itu dengan kebencian yang mendalam.
"Dengar, Revan. Aku nggak akan pernah percaya lagi sama kata-kata kamu. Berhenti bicara omong kosong dan pergi dari sini. Jangan pernah muncul lagi di depan mataku, jangan pernah usik hidupku lagi!"
Revan terhuyung, namun ia tetap bersikeras. Wajahnya memerah karena emosi yang tertahan.
"Kamu benar-benar nggak punya hati, Bi! Sinta meninggal, dia tewas karena kecelakaan itu, dan kamu malah peduli sama dirimu sendiri? Kamu sama sekali nggak kasihan sama dia?"
Bianca kehabisan kesabaran. Mendengar nama Sinta disebutkan dengan nada memelas membuat darahnya mendidih.
Dengan seluruh kekuatannya, ia mendorong d**a Revan yang masih berbalut perban hingga pria itu terjerembab ke belakang.
"Kalian selingkuh di belakangku! Sinta menjebakku, menjadikan aku tumbal untuk hutang-hutang kotor kalian, dan sekarang kamu mau aku kasihan padanya?" Bianca menunjuk wajah Revan dengan jari gemetar.
"Kalau itu terjadi pada Sinta, aku harus kasihan? Jangan bercanda!"
Napas Bianca memburu, matanya memerah menahan amarah yang meledak.
"Aku nggak peduli kamu anggap aku nggak punya hati. Silakan saja! Karena kamu jauh lebih dari sekadar nggak punya hati, Revan. Kamu iblis! Dan kalau aku harus melihat kalian hancur karena perbuatan kalian sendiri, aku tidak akan merasa menyesal sedikit pun!"
Bianca segera menutup pintu kamar kostnya dengan keras, menguncinya rapat-rapat, meninggalkan Revan yang terdiam di luar sana dengan rasa sakit yang tak terobati.
"Bianca, buka pintunya!!!" teriakan Revan masih terdengar di balik pintu kayu yang tipis itu.
"Heh, berisik! Kamu ngapain gedor-gedor rumah orang kayak gitu?! Kamu pikir ini rumah kost punya nenek moyang kamu, apa?!"
Suara teriakan tetangga kamar sebelah memutus rengekan Revan.
Terdengar suara keributan, bentakan, lalu perlahan langkah kaki menjauh disertai umpatan kasar Revan yang kian mengecil.
Bianca menyandarkan punggungnya di pintu yang bergetar. Napasnya masih sesak. Air mata luruh begitu saja, membasahi pipinya yang memerah. Dia harus menguatkan diri.
Apa benar Sinta sudah meninggal? Revan selalu ahli dalam bersandiwara.
Dia tidak akan membiarkan dirinya terjebak dalam pusaran kebohongan pria itu lagi.
"Aku harus mulai hidup baru. Aku nggak mau terus seperti ini."
***
Di gang gelap di balik area perumahan, nasib Revan jauh lebih mengerikan daripada penolakannya di pintu kost Bianca.
Tubuhnya tersungkur di tanah berlumpur, dihujani tendangan sepatu bot dari dua pria berbadan besar.
"Kamu pikir saya main-main, hah?" suara berat dari pria dengan tato di leher itu menggema.
Revan meringis, memegangi perutnya yang mual. "Tunggu! Saya... saya punya bahan menarik. Ada kamera tersembunyi di kamar hotel itu!"
Pria bertato itu menarik rambut Revan hingga kepalanya mendongak.
"Bahan? Bahan apa yang bisa menyelamatkan nyawa kamu sekarang?"
"Videonya ... rekaman saat dia sakau karena obat perangsang. Gadis itu ... dia berharga! Bisa kita jual videonya ke pria yang menyewanya atau sebagai bahan pemerasan!"
Pria itu tertawa dingin, lalu meludah ke tanah. Tiba-tiba dia menarik rambut Revan lebih keras lagi.
"Kamu kira saya bodoh? Kemarin malam anak buah saya ke sana buat ambil perempuan itu, tapi di sana ada cowok yang tangannya kayak besi. Dia mukul anak buah saya sampai babak belur, minta mereka pergi. Dia pasti pacar gadis perawan itu! Beraninya kamu mau nipu saya, hah?!"
Bugh!
Satu hantaman keras mendarat di pelipis Revan. Pria itu menjambak Revan lagi, membuat leher Revan terasa mau patah.
"Kamu tidak tahu siapa yang kamu hadapi. Kamu hampir membuat kami berurusan dengan orang yang salah!"
Revan menjerit kesakitan, air mata dan keringat bercampur di wajahnya.
"Ampun! Video itu isinya sangat jelas! Kasih saya waktu satu hari, saya akan kasih videonya!"
Pria itu terdiam sejenak, tatapannya tajam menghujam. Dia melepaskan jambakannya dengan kasar hingga Revan jatuh terjembab ke tanah.
"Berikan videonya. Kalau rekaman itu menarik dan bisa jadi bahan pemerasan yang kuat, saya maafkan kamu. Tapi kalau tidak ... malam ini jadi malam terakhir kamu di dunia."
**
Pagi itu, Bianca berdiri di depan lobi gedung Tama Grup. Ia menarik napas panjang.
Ia sudah bersiap sejak subuh. Penampilannya rapi, rambutnya diikat sempurna, dan tas kerjanya berisi segala keperluan untuk bekerja.
Tidak ada ruang untuk kesalahan. Ia harus bertahan. Ia butuh pekerjaan ini untuk membayar utang dan mengubur semua kenangan buruk tentang Revan.
Ia melangkah masuk ke ruang kerja bosnya di lantai teratas. Pria itu sudah duduk di balik meja kerja, menatap layar monitor dengan serius.
Suasana ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara ketukan keyboard.
"Nona Claire. Masuk," ucap pria itu tanpa menoleh.
Bianca berjalan mendekat dan meletakkan jadwal hari ini di meja. Tangannya sedikit gemetar, tapi ia segera mengendalikannya.
"Ini jadwal kegiatan Anda untuk hari ini, Pak," ujar Bianca.
Pria itu mengambil berkas tersebut dan mulai memeriksa setiap poin dengan detail. Keheningan menyelimuti ruangan selama beberapa menit.
Bianca berdiri tegak di samping meja, menanti instruksi selanjutnya. Tiba-tiba pria itu meletakkan berkas tersebut dan menatap Bianca dengan tajam.
"Ada kesalahan penulisan alamat pada dokumen kedua," ucap pria itu datar.
Bianca segera memeriksa kembali dokumen tersebut. Ia merasa wajahnya memanas. Ia melakukan kesalahan kecil yang seharusnya tidak terjadi.
"Maaf, Pak. Saya akan segera memperbaikinya," jawab Bianca.
Pria itu hanya mengangguk singkat.
"Saya tidak mentolerir kelalaian. Saya butuh asisten yang bisa bekerja dengan presisi tinggi. Perbaiki sekarang dan bawa kembali ke sini dalam lima menit."
Bianca bergegas menuju mejanya. Ia memaki diri sendiri di dalam hati. Ia tidak boleh ceroboh.
Tapi satu hal yang Bianca lega, pria itu tidak membahas tentang malam panas mereka, atau mungkin pria itu sudah lupa dan Bianca pun memutuskan untuk bersikap sama.
Ia harus profesional. Ia harus menunjukkan bahwa ia mampu mengerjakan tugas ini dengan baik.
Selama jam kerja, pria itu terus memberikan instruksi dengan nada dingin dan seperlunya.
Setiap kali Bianca melakukan kesalahan kecil, pria itu langsung memberikan kritik tanpa basa-basi.
Bianca menerima setiap teguran itu. Ia tidak membela diri. Ia mengoreksi setiap kesalahan, belajar dari ketelitian bosnya, dan memastikan tugas selanjutnya selesai tanpa celah.
Bianca sadar pria itu adalah sosok yang menuntut kesempurnaan. Namun, ini adalah kesempatannya untuk mandiri.
Ia menepis semua bayangan tentang malam di hotel itu. Fokusnya saat ini hanya satu, yaitu menjadi asisten terbaik agar ia bisa melunasi utang dan hidup dengan tenang.
Ia akan melakukan apa pun agar pria itu tidak punya alasan untuk memecatnya.
**
Suasana kantor yang tadinya riuh kini mulai lengang.
Sebagian besar karyawan sudah turun untuk makan siang. Namun, Bianca masih duduk diam di mejanya.
Jemarinya terus menari di atas papan ketik, menyelesaikan laporan keuangan yang diminta Biantara pagi tadi.
Pintu ruangan Biantara terbuka.
Pria itu keluar, menatap sekeliling sebelum matanya terkunci pada sosok Bianca. Ia berjalan mendekat tanpa suara.
"Nona Claire," panggil Biantara datar.
Bianca tersentak, ia segera menghentikan ketikannya dan berdiri tegak.
"Ya, Pak?"
Biantara melirik jam di pergelangan tangannya, lalu beralih menatap meja Bianca yang masih bersih dari peralatan makan.
"Sudah lewat jam makan siang. Kenapa Anda tidak makan?"
Bianca sedikit menunduk, mencoba bersikap santai.
"Saya tidak terlalu lapar, Pak. Lagipula, saya sudah bawa bekal dari rumah. Saya berniat memakannya nanti jika pekerjaan ini sudah selesai."
Biantara tidak langsung pergi. Ia berdiri di sana, menatap Bianca dengan tatapan yang sulit diartikan.
Tatapan itu terasa dingin dan menusuk, seolah-olah ia sedang membedah isi pikiran Bianca. Ia terdiam cukup lama hingga membuat suasana menjadi kaku.
"Nona Claire," ucapnya lagi, kali ini dengan suara lebih rendah namun penuh penekanan.
"Ya, Pak?"
"Anda yakin, kita tak pernah bertemu sebelumnya?"