Jantung Bianca seolah berhenti berdetak.
Ia sudah membuka mulut, bersiap untuk memberikan alasan yang paling masuk akal, namun ketukan di pintu menyelamatkannya.
"Kak Bian, ini aku, Tiana. Kakak ada di dalam, kan? Ayo makan siang bareng."
Biantara memejamkan mata sebentar, menghela napas panjang untuk meredakan ketegangan yang ia buat sendiri.
Tatapannya kembali ke arah Bianca, dingin dan profesional seolah interogasi barusan tidak pernah terjadi.
"Segeralah makan siang. Anda bisa menyusahkan jika tiba-tiba terkena maag saat bekerja."
Tanpa menunggu jawaban, Biantara berbalik dan membuka pintu ruangannya lebar-lebar.
"Tiana, untuk apa kamu sampai ke sini? Kamu sendirian?" tanya Biantara.
"Nggak dong, aku sama Arthur," jawab Tiana riang.
Biantara mengernyitkan dahi.
"Arthur, di mana keponakanku itu?"
"Di bawah, dia sudah nunggu dan bawel banget mau makan siang bareng Kakak. Oke, kan?"
Bianca melihat sekilas wanita yang ada di luar, lalu matanya sedikit membulat.
"Cantik banget, itu adiknya? Barusan panggil Kakak, berarti dia adik Pak Bian."
Setelah Biantara dan Tiana keluar dari ruangan, pintu itu tertutup kembali, meninggalkan Bianca sendirian di dalam.
Ia langsung mendesah panjang, kakinya terasa lemas hingga ia harus berpegangan pada tepi meja.
"Tadi hampir saja," gumamnya dengan napas yang masih memburu.
Ia memijat pelipisnya yang berdenyut kencang. Pikirannya kalut. Pria itu sudah mulai curiga, itu sudah pasti.
"Apa dia mulai ingat wajahku? Apa harusnya aku pakai makeup lebih tebal supaya tidak terlalu ketahuan kalau malam itu memang aku orangnya?" ucapnya frustrasi pada diri sendiri.
Ia menyandarkan kepala di atas meja, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih tidak beraturan.
Ia harus lebih berhati-hati, atau pria itu akan benar-benar membongkar rahasia malam itu di kantor ini.
**
Di ruangan remang-remang yang pengap, suasana terasa jauh lebih mencekam.
Revan dengan tangan gemetar menyambungkan kabel laptop ke layar besar di depan bos gangster yang duduk di kursi kulit besar.
"Ini videonya, Bos," ujar Revan dengan suara parau.
Layar besar itu menyala, menampilkan suasana kamar hotel yang sedikit gelap.
Awalnya tampak Bianca yang tampak gelisah, tubuhnya berguling di atas tempat tidur dengan pakaian yang sedikit berantakan.
Revan menyeringai kecil, merasa lega karena rekamannya ternyata cukup jelas.
Bianca sempat terlihat mengintip ke arah pintu dengan wajah bingung, persis saat Revan dan Sinta beraksi di luar kamar malam itu. Saat itu Revan menahan napas.
Tubuh Bianca yang meliuk-liuk menahan efek obat perangsang itu tampak sangat menggoda.
Revan menelan ludah, rasa panas menjalar di tengkuknya melihat kemolekan wanita yang dulu ia miliki.
Bianca kemudian beranjak duduk di sofa, lalu kembali berbaring dengan napas terengah-engah, tampak sangat tersiksa oleh gairah yang tidak wajar.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Semua orang di ruangan itu menahan napas, menatap layar dengan tajam.
"Siapa dia?" gumam Revan.
Seorang pria masuk dengan langkah tegas.
Pria itu tampak terluka dengan lengan yang berdarah, tapi auranya begitu mendominasi. Tanpa ragu, pria itu mendekati Bianca dan mencium wanita itu.
Kamera merekam wajah pria tersebut dengan sangat jelas di bawah cahaya lampu kamar yang temaram.
"Hentikan videonya," perintah bos gangster itu dengan suara berat.
Ruangan mendadak hening. Sang bos menatap layar yang terhenti pada wajah pria itu, lalu beralih menatap anak buahnya yang diperban akibat dipukuli kemarin.
"Apa orang yang memukulimu wajahnya seperti itu?" tanya bos tersebut.
Anak buahnya memucat, matanya membelalak melihat wajah pria di layar.
"Iya, Bos. Itu dia. Orang itu yang memukul saya."
"Krak!"
Bunyi gelas kristal yang pecah di lantai terdengar memekakkan telinga.
Pecahan kaca berserakan tepat di dekat kaki Revan yang langsung bergetar hebat. Pria itu nyaris berhenti bernapas, keringat dingin bercucuran di pelipisnya.
Bos gengster itu berdiri, bayangannya yang besar menutupi Revan, seolah-olah ajal sudah berdiri tepat di depan matanya.
"De Luca," desis bos itu, namanya diucapkan dengan nada yang penuh kebencian sekaligus ketakutan.
"Tidak salah lagi. Rupanya dunia ini sangat sempit."
Dia menoleh perlahan ke arah Revan, matanya menatap tajam seperti ingin mencabik-cabik mangsanya.
"Dan kamu, cecunguk sial!"
Revan bersimpuh, mencoba merangkak mundur, namun anak buah sang bos segera mencengkeram pundaknya agar ia tidak bisa kabur.
"B-Bos, saya nggak tahu! Sumpah, saya nggak tahu siapa pria itu."
Sang bos menarik kerah baju Revan dengan satu tangan, lalu menempelkan wajahnya yang penuh bekas luka tepat di depan wajah Revan.
"Kamu kira kamu akan selamat setelah kasih video ini? Kamu bukan cuma gagal kasih saya gadis itu, kamu menyeret organisasi saya untuk berurusan dengan monster yang tidak bisa dibunuh."
Dia mencengkeram rahang Revan dengan kuat, memaksa pria itu menatap matanya yang gelap dan mematikan.
"Sekarang, beritahu saya satu hal sebelum saya menyuruh anak buah saya membuang tubuhmu ke laut. Di mana gadis itu sekarang?"
Revan gemetaran hebat, air liur dan keringat bercampur di dagunya yang memar.
Dia menunduk dalam-dalam, takut jika harus menatap mata bos gangster itu lebih lama lagi.
"D-dia... dia di Tama Grup, Bos," jawab Revan dengan suara terputus-putus.
"Saya tadi membuntuti dia. Dia ... dia melamar kerja di sana sebagai asisten."
Pria itu melotot. Cengkeramannya pada rahang Revan mengendur, bukan karena kasihan, melainkan karena keterkejutan yang luar biasa.
"Tama Grup katamu? Sial! Kamu mau coba menipu saya, hah?!" bentak bos itu.
"Tidak, Bos. Sumpah! Saya melihat sendiri dia masuk ke gedung itu tadi pagi!" Revan bersumpah dengan nada tinggi, hampir menangis karena putus asa.
Pria itu menahan napas. Dia melepaskan Revan begitu kasar hingga pria itu terjatuh tersungkur ke lantai.
Dia mondar-mandir di ruangan sempit itu, wajahnya yang penuh bekas luka kini tampak pucat pasi.
"Tama Grup milik De Luca," gumamnya pelan, hampir tak terdengar.
"Gadis itu ... gadis itu bekerja di tempat pria yang menidurinya???"
Suasana ruangan mendadak sunyi, hanya suara napas berat sang bos yang memenuhi ruangan.
Theodore, pria berbadan besar dengan parut panjang di wajahnya, melangkah maju dengan tenang.
Dia mendekati sang bos, lalu membisikkan sesuatu tepat di telinganya.
Sang bos terdiam sejenak. Alisnya naik satu, lalu sebuah seringai dingin muncul di bibirnya.
"Brilliant," gumam sang bos pelan.
"Kamu jenius, Theodore. Kamu pantas jadi tangan kanan saya."
Theodore hanya tersenyum tipis, menatap Revan yang masih tersungkur di lantai dengan pandangan meremehkan.
Sang bos kembali duduk di kursi kulitnya, suasana hatinya berubah dari panik menjadi penuh ambisi.
"Jadi, langkah awal kita harus temui Tuan Muda De Luca, dan mulai bernegosiasi dengannya, bukan begitu, Theo?"
Theodore mengangguk mantap.
Sang bos tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar lebih menyeramkan daripada amarahnya tadi.
"Bagus. Revan, kamu dengar itu? Kamu masih punya satu kesempatan untuk hidup."
Revan mendongak, matanya yang bengkak menatap bos itu dengan sisa-sisa harapan. "Apa ... apa yang harus saya lakukan, Bos?"
"Kamu akan jadi umpan kita," jawab bos itu datar.
"Kamu akan memastikan gadis itu tetap berada di dekat De Luca, sementara kita yang akan memegang kendali dari balik layar. Ingat, satu kesalahan saja, atau jika De Luca sampai tahu ini adalah ide kita sebelum waktunya ... saya sendiri yang akan memastikan kamu tidak bisa melihat matahari terbit besok."
Revan menelan ludah dengan susah payah, lalu mengangguk cepat.
"Baik, Bos. Saya akan lakukan apa pun."
Sang bos berdiri, membetulkan letak jasnya.
"Persiapkan pertemuan itu. Kita akan membuat kesepakatan yang tidak bisa ditolak oleh seorang De Luca."