Bianca baru saja duduk di kursi kerjanya setelah menyelesaikan makan siang yang tidak tenang.
Pintu ruang kerja terbuka. Biantara melangkah masuk.
Pria itu sudah melepas jasnya, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung sebatas siku, serta dasi yang sedikit longgar.
Bianca terpaku. Penampilan itu. Itu persis seperti pria yang bersamanya malam itu.
Tanpa sadar, mata Bianca beralih ke lengan kiri Biantara. Ia mencari bekas luka yang seharusnya ada di sana, bekas luka dari pria yang terluka saat itu.
Namun, kulit lengan Biantara terlihat mulus tanpa cela. Tidak tampak ada luka yang dibalut di sana. Apa sudah sembuh? Batin Bianca, heran.
Biantara mengernyitkan dahi. Ia berjalan mendekat dan meletakkan satu cup kopi latte di meja Bianca.
"Kenapa? Anda memandangi saya seolah sedang menyelidiki sesuatu, Nona Claire?"
Bianca tersentak. Ia menarik pandangannya dengan cepat.
"Tidak, maaf, Pak."
Biantara meletakkan kopi di meja Bianca.
"I-Ini apa, Pak?" tanya Bianca.
"Kamu tidak tahu, itu kopi," jawab Biantara datar.
Bianca meneguk ludah. Ia tahu itu kopi, tentu saja, tapi kenapa pria sedingin Biantara repot-repot menaruhnya di meja asistennya?
"Iya, tapi ini—"
"Untukmu, dari adikku," tegas Biantara singkat.
Bianca terdiam sesaat. "A-Adik, Bapak? Yang tadi datang ajak makan siang?"
Biantara tidak menjawab. Ia menghela napas panjang. Kejadian tadi memang membuatnya pusing. Tiana terlalu berlebihan.
Hanya karena mendengar Biantara memiliki asisten wanita, adiknya itu tampak begitu bersemangat menjodohkannya.
Padahal, Biantara hanya butuh asisten yang kompeten, bukan calon istri.
Biantara menggaruk sebelah alisnya, lalu duduk di kursinya dengan gerakan elegan. "Kembali bekerja, Nona Claire, jam istirahat selesai lima menit lalu."
**
Biantara menggeser tumpukan berkas laporan keuangan ke tepi meja.
Saat ia hendak menandatangani dokumen terakhir sebuah notifikasi muncul di sudut layar laptopnya.
Dia melirik pengirimnya yang tersembunyi di balik enkripsi. Dengan subjek menggunakan kode lama pertanda sebuah jaringan gelap.
Biantara menyipitkan mata. Itu kode lama yang sering dipakai kelompok gengster yang pernah ia musnahkan di masa lalu.
Ia tidak langsung membukanya. Jari-jarinya dengan cepat mengetik perintah di balik layar. Ia melakukan pelacakan balik untuk menemukan jejak digital si pengirim.
Hanya butuh beberapa detik bagi seorang jenius sepertinya untuk menembus firewall sederhana itu.
Setelah memastikan lokasinya aman untuk dibuka ia mengklik pesan tersebut.
[ Tuan Muda De Luca,
Aku yakin kamu sudah lupa tapi memori digital itu abadi. Silakan buka lampiran video ini.]
Lampiran video_malam_itu.mp4
[Kualitasnya sangat bagus bukan? Wajahmu sangat jelas. Begitu pula wajah gadis itu. Sangat memuaskan untuk ditonton ulang.]
Lampiran foto_malam_iti.JPG
[Oh ya satu hal lagi. Sangat lucu melihatmu mempekerjakan kesalahan malam itu tepat di depan matamu sendiri. Bagaimana performa kerja asisten pribadimu itu? Apa dia tahu siapa bosnya sebenarnya? ]
"Apa?" ucap Biantara sambil menahan napas.
Napasnya teratur tapi matanya memancarkan amarah yang mematikan. Ia menatap video itu dengan cepat.
Gambar itu memang diambil dari sudut yang sangat jelas. Wajahnya dan wajah gadis yang malam itu bersamanya terekam tanpa celah.
Kalimat terakhir email itu membuatnya menoleh perlahan ke arah meja di sudut ruangan.
Asisten, Nona Claire? batinnya.
Ia menutup laptopnya dengan sekali sentak.
"Pak, ada yang perlu saya revisi dari dokumennya?" tanya Bianca tanpa menoleh.
Biantara menarik napas panjang. Ia menjaga suaranya tetap datar.
"Tidak ada. Anda lanjutkan saja pekerjaan Anda."
Ia berdiri dari kursinya lalu menyambar jas yang tadi ia lepas.
"Saya harus pergi sebentar. Jangan ke mana-mana."
Tanpa menunggu jawaban ia melangkah lebar keluar ruangan meninggalkan asisten pribadinya yang terdiam menatap pintu yang tertutup dengan perasaan tidak enak.
"Apa aku bikin kesalahan tadi di laporan?" gumam Bianca, ia mengusap wajahnya frustrasi. "Gila, baru kerja dua hari rasanya kayak uji nyali."
**
Biantara melangkah keluar dari lobi kantor dengan rahang mengeras. Lokasi yang dilacaknya berada di sebuah gudang tua di balik kedai kopi yang ramai tidak jauh dari Tama Grup.
Dia bukan orang asing di sini. Biantara memanipulasi panel akses pintu baja yang tersembunyi di balik mesin kopi dengan sangat cepat.
Pintu berdesis terbuka.
Seorang penjaga bertubuh raksasa berdiri di sana. Biantara tidak membuang waktu.
Dia mencengkeram tengkuk pria itu dengan kecepatan kilat, memutar pergelangan tangannya, dan mematahkan lehernya dengan satu gerakan bersih.
Pria itu jatuh membeku tanpa sempat mengeluarkan suara.
Biantara melangkah masuk ke ruangan luas yang remang-remang.
Di ujung ruangan, Theodore berdiri dengan tangan bersilang, menatapnya dengan seringai meremehkan.
Theodore mencoba menerjang, tapi Biantara menghindar dengan gesit.
Dia meraih kerah baju Theodore dan membantingnya ke dinding, lalu mencekik leher pria itu hingga wajahnya membiru.
Biantara siap menghabisinya, tangannya sudah menekan titik saraf mematikan di leher pria itu jika saja sebuah tepuk tangan tidak menggema dari balik kegelapan.
Sang bos melangkah keluar, menatap Biantara dengan seringai lebar yang tampak sangat yakin.
"Selamat datang, Tuan Muda De Luca," ucapnya penuh kemenangan.
Biantara melepaskan cengkeramannya dari Theodore dengan kasar.
Dia menatap sang bos dengan tatapan tajam dan merendahkan, seolah sedang menatap serangga kecil yang menjijikkan.
"Aku bukan De Luca," geram Biantara.
"De Luca adalah sekutuku. Kamu bodoh, sudah salah penyebutan tapi sangat percaya diri."
"Perkenalkan, aku putra Narendra Tama, Biantara. Kamu salah berurusan denganku, Xanders Benedict."
Xanders tertawa keras meskipun raut wajahnya sempat terkejut.
"Ah, jadi aku salah mengenali orang? Maaf. Karena waktu itu Tama Grup dipimpin oleh Tuan Muda De Luca, wajah kalian memang agak mirip. Dan satu kehormatan, Tuan Biantara, bisa mengenal Xanders secara langsung."
Biantara tidak berniat berbasa-basi. Dia tetap berdiri tegak, tidak sedikit pun berniat duduk meski Xanders menunjuk kursi di depannya.
"Aku tidak suka diancam. Dan aku tidak pernah mau berdamai dengan sampah."
Xanders menghirup cerutu di tangannya, membiarkan asap mengepul di udara. Dia menatap Biantara dengan pandangan remeh.
"Kalau begitu, serahkan gadis itu padaku, Tuan Bian."
Biantara mengernyitkan dahi.
"Gadis?"
"Revan! Siapa nama gadis itu!" teriak Xanders pada Revan yang meringkuk babak belur di sudut ruangan.
Revan yang wajahnya penuh luka mendongak, matanya menatap Biantara dengan penuh kebencian yang mendalam.
"Namanya Bianca! Bianca Isabella Claire."
Xanders kembali menatap Biantara dengan seringai menjijikkan.
"Dia mantan kekasih gadis itu. Dan dia bilang, Anda mengambil keperawanan yang seharusnya aku nikmati dari gadis itu."
"Mantan kekasihnya sendiri yang menjualnya padaku! Aku sudah bayar lunas saat itu! b******k!"
Biantara terdiam. Rahangnya mengeras. Dia menatap Revan dengan tatapan yang bisa membunuh siapa saja.
Jadi benar, Nona Claire, batinnya.
Jadi, pria di depannya ini adalah sampah yang mencoba menjual wanita itu di malam yang sama dengan kejadian di hotel.
"Jadi kalian berdua yang merencanakan semuanya malam itu?" tanya Biantara dengan suara rendah yang berbahaya.
Xanders tidak menjawab, dia justru kembali menyalakan cerutunya dengan santai.
"Itu tidak penting. Yang penting sekarang, serahkan gadis itu atau aku akan menyebarkan videonya ke seluruh rekan bisnis ayahmu."
"Satu lagi, Tuan Bian. Aku tidak tahu masalah apa yang sedang kau hadapi sehingga bersembunyi di kamar itu. Tapi Anda hampir membunuh anak buahku yang coba mengambil gadis itu, karna kesepakatan jelas. Anda sendirilah yang sudah melibatkan diri Anda dalam urusan ini."