Biantara berdecih. Dengan gerakan sangat cepat, ia menarik pistol yang tersembunyi di balik jasnya.
Moncong logam dingin itu langsung mengarah tepat ke dahi Xanders.
"Dengar, Xanders," ujar Biantara dingin.
Seketika, belasan anak buah Xanders bergerak, mengarahkan moncong pistol mereka ke arah kepala Biantara.
Situasi menjadi sangat tidak seimbang, tapi Biantara tidak bergeming. Ia bahkan tidak berkedip sedikit pun.
"Kalian pikir jumlah kalian bisa menyelamatkan bisnis kotor kalian?"
Biantara menatap Xanders tajam.
"Aku tahu rute penyelundupanmu di pelabuhan utara yang sudah tiga bulan ini merugi. Aku tahu rekening luar negeri yang kamu pakai untuk mencuci uang hasil penjualan obat-obatan. Hanya dengan satu panggilan telepon, aku bisa membuat polisi membekukan asetmu dalam waktu kurang dari satu jam."
Theodore melangkah maju, mencoba menggertak.
"Jangan berani menggertak bos kami, Tuan Muda Tama! Kami bisa melubangi kepalamu sebelum jarimu menarik pelatuk itu!"
Biantara tidak menoleh. Ia hanya menatap Xanders, memberikan pilihan.
"Lanjutkan ini dan saksikan organisasimu hancur berkeping-keping, atau menyerah sekarang dan kamu mungkin masih bisa hidup sebagai pecundang di luar sana. Pilih."
Suasana ruangan menjadi sangat mencekam. Anak buah Xanders mulai gemetar.
Mereka sadar bahwa mereka bukan menghadapi sembarang orang, melainkan seseorang yang tidak takut mati dan memegang kendali penuh.
Xanders kehilangan kesabarannya. Ia berteriak frustrasi, urat lehernya menonjol.
"Apa maumu, sialan! Aku hanya ingin apa yang sudah kukeluarkan tidak sia-sia! Aku bayar gadis itu mahal, sialan! Seratus juta!"
Biantara tertawa.
Tawa yang terdengar sangat meremehkan. Baginya, angka itu hanyalah uang recehan yang bahkan tidak cukup untuk membeli satu set ban mobil mewahnya.
"Seratus juta?" Biantara menggeleng pelan.
"Kamu mempertaruhkan nyawamu dan seluruh organisasimu hanya demi uang recehan itu?"
**
Biantara tertawa sinis. Dia menurunkan pistolnya perlahan, lalu dengan gerakan tenang merapikan jasnya yang sedikit kusut.
Dia mengeluarkan sapu tangan putih dari saku dalam jasnya, lalu mengusap jemarinya dengan teliti seolah baru saja menyentuh sesuatu yang sangat kotor.
"Simpan uang seratus juta itu untuk biaya pemakamanmu sendiri," ujar Biantara dingin.
Dia berbalik tanpa menoleh lagi pada Xanders yang masih terdiam membeku.
"Tuan Bian! saya menarik kembali kata-kata saya, saya janji tidak akan buat masalah. Tapi jangan hancurkan saya!" teriak Xanders.
Di dalam mobil menuju kantor, Biantara memukul setir dengan keras.
Pikirannya dipenuhi oleh sosok gadis itu. Rasa marah dan penasaran bercampur aduk.
"b******k! Jadi, aku lagi-lagi dibodohi wanita. Nona Claire, beraninya Anda menipuku. Mana mungkin Anda tidak tahu siapa Anda, dan Anda mencoba membodohiku?" gumamnya penuh amarah.
Biantara sampai di parkiran Tama Grup.
Dia melirik jam di pergelangan tangannya. Masih ada tiga puluh menit sebelum jam kerja berakhir.
Dia melangkah lebar menuju kantornya, auranya begitu mengintimidasi, siap untuk menginterogasi Bianca sampai gadis itu mengaku.
Namun langkahnya terhenti saat ponsel di saku jasnya berdering.
Dia mengeluarkan ponselnya dan mendapati sebuah pesan masuk dari Tiana.
"Kak Bian, ingat malam ini ulang tahun Arthur, kakak harus bawa pasangan, kenalkan padaku, kalau tidak aku serius aku akan paksa Kakak berkenalan dengan temanku."
Biantara berhenti tepat di depan pintu ruangannya.
Dia menatap layar ponsel itu dengan tatapan tajam, lalu sebuah pemikiran muncul di benaknya.
Seringai tipis yang berbahaya muncul di bibirnya. Dia menatap pintu ruangannya, lalu kembali menatap pesan itu.
"Pasangan, ya?" gumamnya pelan.
Dia menyimpan ponselnya, menarik napas panjang untuk menetralkan emosinya, lalu membuka pintu ruangan dengan tenang.
Bianca sedang duduk di meja kerjanya, masih sibuk dengan dokumen-dokumen di hadapannya.
Biantara menutup pintu ruangan dan menguncinya.
Dia berjalan mendekati meja Bianca, matanya tidak lepas dari gadis itu sedikit pun.
"Nona Claire, Anda punya rencana setelah jam kerja selesai?" tanya Biantara dengan suara yang tenang namun menekan.
Bianca mendongak, matanya melebar. Ia merasakan aura dingin dan penuh penekanan yang memancar dari pria di hadapannya.
"T-tidak ada, Pak. Memangnya kenapa?" tanya Bianca dengan suara sedikit bergetar.
"Bagus," potong Biantara singkat.
"Ikut aku sekarang juga."
Bianca semakin bingung. "Ikut ke mana, Pak?"
"Jangan membantah, Nona Claire," suara Biantara merendah, penuh ancaman yang tidak bisa ditolak.
Bianca melirik jam di komputernya.
"T-Tapi, Pak, ini masih jam kerja. Saya harus menyelesaikan laporan ini—"
Biantara menatapnya tajam. "Di sini siapa bosnya, Nona Claire?"
Bianca terdiam. Ia menelan ludah dengan susah payah.
Tidak ada gunanya mendebat pria di depannya ini. Nyalinya menciut seketika. "Baik, Pak. Maafkan saya."
Bianca segera meraih tasnya dan mengikuti langkah lebar Biantara menuju parkiran.
Selama perjalanan di dalam mobil, keheningan menyelimuti mereka.
Biantara terus menatap jalanan dengan rahang mengeras, sementara Bianca hanya bisa menunduk, jantungnya berdebar tidak keruan.
Sesampainya di sebuah salon eksklusif yang tampak sangat mewah, Biantara mematikan mesin mobil.
"Keluar," perintahnya dingin.
Bianca turun dan mengikuti langkah Biantara memasuki salon tersebut.
Biantara langsung disambut oleh manajer salon yang tampak mengenal siapa pria itu.
"Selamat sore, Tuan Biantara. Ada yang bisa kami bantu?" tanya staf tersebut dengan sopan.
Biantara tidak membalas sapaan itu dengan ramah. Ia menunjuk Bianca dengan dagunya.
"Dandani dia. Pilihkan gaun paling bagus dan mahal. Aku beri waktu dua puluh menit dari sekarang."
Bianca menunjuk dirinya sendiri, matanya membelalak tak percaya.
"Pak? Ini maksudnya apa? Kenapa saya harus didandani?"
Biantara menatap Bianca, lalu melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya beberapa sentimeter.
"Jangan bersikap sok polos, Bianca Isabella Claire, wanita dimalam itu adalah kamu, kan?"
Bianca membeku di tempat, napasnya tertahan seolah paru-parunya lupa cara bekerja.
Kalimat itu tidak sekadar terdengar, tapi menghantam, meremukkan kesadarannya tanpa ampun.
Dalam satu detik, semua yang ia bangun runtuh, berantakan, tak menyisakan tempat untuk bersembunyi.
Dia tahu. Tuhan … dia tahu.
Rahasia yang selama ini ia kubur dalam-dalam, kesalahan yang mati-matian ia sangkal bahkan dalam pikirannya sendiri, kini terkuak begitu saja, telanjang dan kejam.
Sebelum ia sempat membuka mulut, sebelum satu kata pembelaan berhasil ia susun, tangan-tangan cekatan staf salon sudah lebih dulu menariknya masuk ke ruang ganti.
Gerakan mereka cepat, profesional, tapi bagi Bianca terasa seperti diseret menuju penghakiman.
Tubuhnya lemas, lututnya nyaris tak mampu menopang. Ia tidak melawan, tidak bisa. Kepalanya dipenuhi satu hal yang sama, berulang-ulang, menghantui tanpa jeda.
Habis sudah…
Di luar ruangan itu, ia tahu persis siapa yang menunggu. Biantara. Dengan tatapan dingin yang tidak lagi menyisakan ruang untuk penjelasan apa pun.
Tatapan yang tidak akan bertanya, tidak akan mendengar, hanya akan menghancurkan.
Dan untuk pertama kalinya, Bianca benar-benar merasa tidak punya jalan keluar.
“Silakan, Nona. Ini gaun yang akan Anda kenakan hari ini. Apakah ingin kami bantu mencobanya sekarang?”
Bianca tidak menjawab.
Ia berdiri kaku di tempatnya, wajahnya mendadak pucat seperti kehilangan seluruh warna.
Matanya kosong, terpaku pada gaun mewah di hadapannya, tapi seolah tidak benar-benar melihat.
Salah satu staf saling bertukar pandang sebelum akhirnya melangkah mendekat, menyodorkan segelas air dengan hati-hati.
“Nona… silakan diminum dulu.”
Bianca menerimanya dengan gerakan kaku, seperti tubuhnya digerakkan paksa. Tangannya sedikit gemetar saat membawa gelas itu ke bibir, meneguknya pelan tanpa suara.
Staf itu menatapnya cemas. “Apa Nona merasa sakit?”
Bianca menggeleng pelan.
Namun ia tetap diam dan bungkam.
Seperti patung yang berdiri di tengah ruangan, dengan sesuatu yang jauh lebih berat dari sekadar gaun yang sedang menunggunya.