Pintu ruang ganti terbuka dan Bianca melangkah keluar dengan perasaan kacau, takut, bingung, dan cemas bercampur jadi satu.
Gaun yang melekat di tubuhnya terasa asing dan terlalu indah untuk situasi yang sedang ia hadapi.
Ia tidak mengomentari apa pun, hanya berjalan pelan dengan tubuh kaku dan pasrah.
Dalam benaknya terus berputar satu hal yang sama, malam itu terjadi karena dirinya mabuk dan lebih buruk lagi, dialah yang memaksa.
Biantara masih berdiri di tempat semula, fokus pada ponselnya, lalu mengangkat pandangan dengan ekspresi datar saat Bianca mendekat.
"Sudah selesai?"
Bianca terdiam tanpa jawaban.
"Bagaimana, Tuan Bian, apa ini sudah sesuai selera Anda?" tanya salah satu staf dengan sopan.
Biantara menjawab tanpa banyak melihat. "Saya tidak perlu menyesuaikan selera, yang penting dia cukup pantas untuk datang ke pesta ulang tahun keponakan saya."
Jantung Bianca berdetak keras saat mendengar itu. Pesta ulang tahun keponakannya, berarti ia akan dibawa ke sana, namun sorot mata Biantara membuatnya semakin gelisah karena kemarahan yang tertahan terasa jelas dan mengintimidasi.
"Ayo, kita harus bergegas, aku ingin segera selesaikan ini," ujar Biantara singkat.
Bianca menarik napas berat lalu mengangguk kecil dan mengikuti langkahnya tanpa membantah. Ia tidak punya pilihan.
"Masuk," kata Biantara sambil membukakan pintu mobil.
Bianca masuk dan duduk dengan tubuh tegang. Begitu pintu tertutup, suasana berubah dingin dan mencekam. Ia menunduk, memainkan ujung kukunya, sementara keringat dingin mulai muncul di dahinya. Ia mengambil tisu dari tas kecilnya dan menyekanya pelan.
"Jangan diseka terus, nanti dandananmu luntur," ucap Biantara dingin tanpa menoleh.
Bianca menggeleng pelan. "Aku tidak dandan sama sekali, Pak."
Biantara mengernyit sedikit dan melirik sekilas. Ia sempat mengira itu riasan natural, namun wajah Bianca benar-benar polos tanpa sentuhan makeup yang mencolok. Ia kembali menatap jalan, pikirannya tetap dingin dan fokus karena baginya wanita hanya akan membuatnya kehilangan kendali.
"P-Pak, maaf, soal malam itu, aku—"
"Kamu diracuni, dijebak oleh mantan kekasihmu, Revan Nadim, dia kaki tangan Xanders Benedict, ketua gengster cecunguk. Saya sudah tahu," potong Biantara tanpa ragu.
Bianca menoleh dengan kaget. "B-Bapak tahu dari mana, tapi ketua gengster, aku tidak tahu sama sekali tentang itu."
"Kamu tidak perlu tahu saya tahu dari mana, Nona Claire. Yang jadi masalah adalah kenapa kamu bersikap seolah kita tidak saling mengenal, padahal kamu bekerja dengan saya dan tahu kita pernah bertemu malam itu. Saya tidak suka orang pembohong dan licik."
Tubuh Bianca mulai gemetar, suaranya bergetar saat menjawab. "Aku tidak bermaksud bohong, Pak. Licik? aku hanya butuh pekerjaan untuk melunasi utang yang Revan lakukan atas namaku."
Kata-kata itu keluar dengan susah payah, hampir disertai tangis yang ia tahan, sementara suasana di dalam mobil semakin menekan dan tidak memberi ruang bagi Bianca untuk bernapas dengan tenang.
"Jadi, maafkan aku, Pak. Aku sama sekali tidak bermaksud—"
"Aku tidak butuh alasanmu, Nona Claire. Kita akan bicara lagi setelah pesta ulang tahun keponakanku selesai. Yang perlu kamu lakukan hanya menemaniku, dan jangan bicara apa pun jika kamu bingung menjawabnya. Cukup berada di sekitarku, dan lakukan sampai acara selesai."
Bianca meneguk ludah. "B-Baik, Pak. Tapi aku mohon jangan pecat aku setelah ini, karna aku sangat butuh pekerjaan ini."
Biantara terdiam.
Bianca memejamkan mata, dia tahu dia sudah salah berurusan dengan pria seperti Biantara.
Dia saja bisa kenal Revan, bisa tau tentang ketua gengster, apa itu yang dibicarakan Revan dan Sinta malam itu, orang yang akan datang melakukan hal buruk terhadapnya.
Orang yang melakukan transaksi gila dengan Revan, menjual tubuh Bianca dengan sangat kotor.
**
Mobil akhirnya berhenti.
Bianca membuka mata perlahan saat suara mesin dimatikan.
Di hadapannya berdiri sebuah rumah mewah dengan taman luas yang dipenuhi lampu-lampu kecil berwarna hangat.
Dekorasi ulang tahun tampak tersebar rapi, tidak berlebihan, namun penuh detail cerdas yang menunjukkan selera tinggi.
Balon-balon tidak disusun sembarangan, melainkan membentuk pola seperti orbit planet, sementara di sudut lain terdapat papan permainan logika dan teka-teki interaktif untuk para tamu kecil.
Biantara keluar lebih dulu, lalu berjalan tanpa menoleh.
Bianca segera menyusul, langkahnya tertahan sesaat sebelum akhirnya mengikuti dari belakang.
Baru beberapa langkah, Biantara berhenti mendadak.
Ia menoleh, sorot matanya dingin.
"Kamu jalan di dekat saya, jangan membuntuti saya seolah saya ini bos gila."
Bianca tercekat.
Memang kamu tampak gila di mataku, Pak, batinnya.
"B-Baik, Pak."
Ia mempercepat langkah dan kini berjalan sejajar dengan Biantara, meski jarak di antara mereka tetap terasa kaku dan canggung.
Begitu mereka memasuki area pesta, suasana langsung terasa hidup.
Anak-anak berlarian dengan antusias, beberapa di antaranya sibuk memecahkan puzzle digital yang dipasang di layar besar, sementara yang lain berkumpul di meja eksperimen kecil dengan cairan berwarna-warni.
Di sisi lain, para tamu dewasa berbincang santai dengan gelas minuman di tangan, namun tetap menjaga sikap elegan.
Di tengah semua itu, seorang anak laki-laki berdiri dengan percaya diri di dekat meja utama.
Posturnya tegak, sorot matanya tajam dan tenang, tidak seperti anak seusianya.
Apa itu keponakan Pak Bian, batin Bianca menebak.
Tepat di sampingnya berdiri seorang wanita yang wajahnya memiliki kemiripan jelas dengan Biantara. Anggun, namun ekspresinya hidup dan penuh emosi. "Dia adik Pak Bian yang tadi muncul di kantor," gumamnya.
Di sisi lain, seorang pria dewasa berdiri dengan aura tenang yang justru terasa lebih berbahaya. Tatapannya tajam, geraknya santai namun penuh kendali.
Bianca pikir, pasti pria itu suami dari adik perempuan Biantara.
Untuk pertama kalinya sejak datang, Biantara tersenyum.
Senyum yang tipis, tapi cukup untuk mengubah seluruh wajahnya.
Bianca membeku.
Ia belum pernah melihat ekspresi itu sebelumnya.
Tanpa mengatakan apa pun, Biantara melangkah mendekat ke arah anak bertubuh jangkung itu, lalu menarik anak itu ke dalam pelukan singkat.
"Selamat ulang tahun," ucapnya, nada suaranya tetap datar namun tidak sedingin biasanya.
"Semoga tahun ini kamu menemukan lebih banyak hal yang tidak bisa dijelaskan oleh logika sederhana."
Anak itu tersenyum kecil, sorot matanya berbinar penuh pemahaman yang terlalu dewasa untuk usianya.
"Terima kasih, Paman Bian."
Wanita di sampingnya berdehem cukup keras, Bianca menunduk sebentar, jujur ia mulai gugup.
Tatapannya tajam, penuh rasa ingin tahu, bahkan sedikit tidak percaya.
Ia melangkah mendekat, lalu menyikut lengan Biantara tanpa basa-basi.
"Kak," bisiknya, tapi cukup keras untuk terdengar, "dia siapa?"
Biantara menoleh sekilas ke arah wanita cantik itu, seolah sudah tahu ke mana arah pikiran adiknya.
"Dia Nona Claire, Tiana," ucapnya tenang. "Yang siang tadi kamu beri kopi latte. Asistenku."
Ah, namanya Tiana, batin Bianca.
Tiana mengedip beberapa kali.
Tatapannya kembali ke Bianca, dari ujung kepala hingga kaki, menilai tanpa malu-malu.
"Wah, jadi ini asisten kakak yang baru? Ah, cantik sekali. Semoga kamu suka kopinya," ucapnya ramah pada Bianca.
Bianca tersenyum canggung. "Terima kasih untuk kopinya," jawabnya kikuk.
Tiana tampak sangat antusias, matanya berbinar penuh rasa penasaran yang tidak ia sembunyikan sedikit pun. Ia terus melirik Bianca lalu kembali ke Biantara, seolah sedang menyusun sesuatu di kepalanya.
Leonel yang sejak tadi berdiri tenang akhirnya bersuara, nada suaranya rendah namun tegas. "Tiana, kendalikan dirimu. Biarkan tamu menikmati pesta. Lagipula acara baru saja dimulai."
Biantara hanya menggeleng pelan, jelas sudah terbiasa dengan tingkah adiknya.
Tiana langsung cemberut, tapi itu tidak menghentikannya. Ia justru beralih menarik lengan Biantara dengan cepat. "Kak, ayo bicara sebentar."
Baru beberapa langkah, Tiana berhenti dan menoleh lagi ke arah Bianca.
"Oh iya, Nona Claire?"
Bianca sedikit gugup. "Em, panggil Bianca saja."
Tiana mengerjap, lalu wajahnya langsung berubah cerah. "Bianca? Wah, kalian serasi sekali. Awalan nama kalian mirip, Biantara, Bianca."
Biantara menghela napas panjang, jelas tidak tertarik dengan arah pembicaraan itu.
Sementara Leonel hanya menahan tawa kecil, matanya mengamati dengan santai.
"Tiana, jangan menakutinya dengan ledekanmu itu," ucap Leonel tenang.
Tiana kembali cemberut, lalu melipat tangan di d**a. "Apa sih, Leon. Kamu terus membuatku terlihat menakutkan di mata Kak Bianca, lagipula Kak Bianca ini kelihatannya baik dan masih malu-malu."
Bianca hanya tersenyum kaku, tidak tahu harus merespons apa.
Tiana akhirnya melambaikan tangan kecil ke arah Bianca. "Nikmati pestanya, ya, Kak Bianca, aku mau bicara sama Kak Bian dulu."
Tanpa menunggu jawaban, ia kembali menarik Biantara menjauh, menyisakan Bianca berdiri sendiri di tengah pesta dengan perasaan yang masih belum tenang.