Seluruh desa heboh karena kematian Karmo yang mendadak. Mirna dan Yadi berkata kalau mereka di rampok. Semua warga percaya karena memang Yadi mengalami beberapa luka ditubuhnya karena sempat berkelahi dengan Karmo dan juga mendapatkan beberapa goresan dari ranting pohon saat mengejar Dasima. Mirna pun memiliki beberapa luka lebam karena di pukul oleh Karmo saat dia ketahuan sedang bergumul mesra dengan Yadi. Mereka pun bercerita kalau Dasima dia suruh kabur untuk menyelamatkan diri. Namun mereka tidak tau ada dimana Dasima sekarang.
Para warga membantu untuk mencari Dasima namun tak seorang pun dari mereka berhasil menemukan Dasiam. Setelah seminggu dari kejadian di rumah Karmo, beberapa warga mengalami keanehan. Mereka terkadang melihat sosok Dasima sedang duduk di depan rumah atau berjalan di pematang sawah ketika hari mulai senja. Sosok itu memakai kebaya merah, rambutnya tergerai basah, dan dari ujung kainnya selalu menetes air seakan dia baru saja naik dari sungai. Tidak seorang pun berani menegurnya. Begitu dipandangi terlalu lama, sosok itu lenyap seperti asap yang tertiup angin.
Warga mulai menutup pintu sebelum maghrib. Anak-anak dilarang bermain di dekat kali. Para lelaki yang biasa berkumpul di gardu sekarang memilih pulang lebih cepat. Desa Batu Tungku yang dulu ramai oleh suara pahat dan palu para pengrajin batu, kini sunyi begitu matahari turun.
"Itu bukan neng Dasima. Itu setan yang menyerupai dia" kata Yadi kepada warga di balai desa.
"Kalau memang setan, kenapa dia cuma duduk diam di depan rumah orang le Yadi? Setan mana yang tidak mengganggu" sahut seorang warga tua.
Yadi tidak menjawab. Tapi malam itu dia sama sekali tidak bisa memejamkan matanya.
Korban pertama jatuh pada malam Jumat. Parjo, salah satu lelaki yang dulu disuruh Yadi menjaga jalan setapak menuju air terjun, ditemukan tidak bernyawa di halaman rumahnya sendiri. Tubuhnya membengkak seperti orang yang tenggelam berhari-hari. Perutnya penuh air, mulutnya penuh air, padahal semalaman dia tidak keluar rumah dan istrinya bersumpah pintu tidak pernah dibuka. Yang membuat bulu kuduk semua orang berdiri adalah sekuntum bunga kantil yang terselip di antara giginya.
"Kembang ini kembang kuburan" bisik mbah kaum yang memandikan jenazah Parjo. "Ini bukan mati biasa".
Tujuh hari kemudian giliran Sardi. Dia ditemukan di batu besar tepat di bawah pancuran air terjun, terlentang dengan mata terbuka menghadap langit. Tidak ada satu pun luka di tubuhnya. Hanya saja wajahnya seperti wajah orang yang mati sambil berteriak.
Kliwon yang ketiga tidak langsung mati. Dia ditemukan mengigau di tengah kebun salak, badannya panas tinggi dan bibirnya membiru. Warga menggotongnya ke balai desa dan di situlah, di depan puluhan pasang telinga, mulutnya menceritakan segalanya.
"Ampun neng, ampun. Saya cuma disuruh" racaunya. "Saya cuma disuruh jaga jalan neng. Yang duluan itu le Yadi. Saya nomor tiga neng, saya nomor tiga...".
Balai desa hening. Semua orang saling pandang. Selama ini mereka mengira Dasima dicelakai orang dari luar desa. Ternyata orangnya makan dan minum bersama mereka setiap hari.
"Siapa yang duluan Kliwon? Sebut sekali lagi namanya" desak kepala dusun.
"Le Yadi... le Yadi..." itu kalimat terakhir Kliwon sebelum tubuhnya kejang dan berhenti bergerak.
Warto, lelaki keempat, tidak menunggu sampai malam. Pagi buta dia kabur dari desa dengan membawa satu buntalan pakaian. Tiga hari kemudian orang kampung sebelah menemukan mayatnya mengapung di kedung, padahal air di kedung itu tidak sampai sepinggang orang dewasa.
Sejak hari itu tidak ada lagi yang mau menyapa Yadi. Kalau dia lewat, orang-orang masuk ke rumah. Kalau dia duduk di warung, warung itu mendadak tutup. Dan Mirna, perempuan yang dulu paling gemar dipandang orang, sekarang tidak berani keluar dari pagar rumahnya.
"Bang, kita pergi saja dari sini" bujuk Mirna suatu malam. "Harta bang Karmo sudah lebih dari cukup buat hidup kita di kota".
"Kamu pikir dia tidak bisa mengejar sampai ke kota?" bentak Yadi. "Kalau memang bisa lari, Warto tidak akan mati di kedung".
Mirna sempat mendatangi dukun langganannya di kampung sebelah. Tapi begitu mendengar nama air terjun itu disebut, si dukun langsung mengembalikan semua barang bawaan Mirna dan menutup pintunya rapat-rapat.
"Pulang. Jangan pernah datang ke sini lagi" hanya itu yang dia katakan. "Yang kalian ganggu itu sudah bukan manusia. Dia dijadikan penunggu oleh air terjun itu sendiri, karena darah perawannya tumpah di batu-batunya pada malam sebelum dia kawin. Tidak ada dukun yang sanggup melawan sing mbaurekso".
Mirna pulang dengan kaki gemetar sepanjang jalan.
Malam itu hujan turun tanpa angin. Suaranya rata, tidak berhenti, seperti orang menuang air dari langit. Menjelang tengah malam Mirna terbangun karena mencium bau bunga kantil yang begitu pekat di dalam kamarnya. Ketika dia menoleh ke jendela, di luar sana, tepat di tengah halaman, berdiri seorang perempuan berkebaya merah yang basah kuyup dan tidak bergerak sedikit pun.
"Bang Yadi! Bang Yadi, dia datang bang!" jerit Mirna sambil berlari menggedor pintu kamar Yadi.
Yadi membuka pintu, melihat ke halaman, dan wajahnya langsung pucat pasi. Perempuan di halaman itu mengangkat kepalanya perlahan. Rambutnya menutupi separuh muka, tapi satu matanya jelas sekali menatap ke arah mereka berdua.
"Bang, kita keluar lewat belakang" kata Mirna panik sambil menarik lengan Yadi.
Tapi yang terjadi berikutnya tidak pernah dibayangkan oleh Mirna. Yadi mendorong tubuh Mirna kuat-kuat ke arah pintu depan, lalu masuk kembali ke kamarnya dan mengunci pintu dari dalam.
"Bang! Bang, buka bang! Bang Yadi!" Mirna menggedor pintu itu sekuat tenaganya.
"Kamu yang mulai semua ini Mirna! Kamu yang mau harta bang Karmo! Urus sendiri!" teriak Yadi dari balik pintu.
Gedoran Mirna makin lama makin lemah. Lalu berhenti sama sekali. Yang terdengar tinggal suara hujan, dan satu suara perempuan yang tertawa pelan sekali, panjang, sampai Yadi menutup kedua telinganya dan meringkuk di sudut kamar sampai pagi.
Pagi harinya warga menemukan Mirna di pinggir kali, jauh sekali dari rumahnya, terlentang dengan kebaya yang masih rapi dan rambut yang masih tersanggul. Di mulutnya terselip sekuntum bunga kantil.
Dinar datang berlari dari rumah suaminya. Dia berlutut di samping tubuh ibunya, memeluknya, dan menjerit sampai suaranya habis. Tidak ada satu pun warga yang mendekat untuk menenangkannya. Mereka hanya berdiri jauh-jauh sambil memandang. Dan sebagian dari mereka diam-diam merasa hutang di desa ini sedang mulai dibayar satu per satu.