Sore itu Dinar sempat berdebat dengan Yadi karena membuat ibunya terbunuh. Dinar tidak terima dan membenci Yadi, memakinya dengan kata-kata yang kasar.
"Tutup mulutmu yang beracun itu, atau mau aku ceritakan tentang rencanamu yang telah menyuruhku untuk merusak pernikahan Dasima dengan Syarif pada ibu mertuamu itu" ancam Yadi langsung membuat Dinar terdiam.
"Sebaiknya kamu sendiri harus berhati-hati dan menjaga dirimu malam ini. Pasti Dasima akan datang untuk balas dendam kembali. Aku tidak bisa menjanjikan keselamatan untuk dirimu. Sebaiknya kita urus diri kita masing-masing mulai sekarang".
"Besok aku akan pergi meninggalkan desa, jika malam ini aku tidak berhasil memusnahkan iblis itu" setelah mengatakan itu, Yadi pergi meninggalkan Dinar yang masih berdiri terpaku mengingat nasibnya sendiri. Sejak kecil dia selalu menginginkan apa pun yang dimiliki Dasima. Sekarang dia sudah mendapatkan Syarif, sudah mendapatkan rumah, sudah mendapatkan semuanya. Tapi ibunya terbaring di dalam tanah, dan tidak ada satu orang pun di desa ini yang mau menatap wajahnya lagi.
****
Yadi tidak pulang ke rumah sore itu. Dia berjalan ke ujung desa, ke arah rumpun bambu yang tidak pernah didatangi orang kalau tidak benar-benar terpaksa. Di sana ada sebuah rumah panggung kecil yang atapnya sudah hitam oleh asap. Pemiliknya bernama mbah Lum, orang paling tua di desa Batu Tungku. Dulu, sebelum matanya rabun, mbah Lum yang memegang kunci upacara di air terjun. Dialah yang menentukan hari baik untuk memandikan pengantin di bawah pancuran itu.
"Mbah, tolong saya mbah" kata Yadi begitu kakinya menginjak tangga.
Mbah Lum tidak menoleh. Dia duduk bersila menghadap tungku, menghisap rokok kelobotnya pelan-pelan.
"Aku sudah tahu kamu bakal datang" katanya. "Sudah tiga malam ini aku mencium bau kembang kantil dari arah rumahmu".
"Kalau mbah sudah tahu, tolong musnahkan dia mbah. Berapa pun mbah minta saya bayar".
Baru setelah itu mbah Lum menoleh. Matanya keruh, tapi tatapannya membuat Yadi mundur selangkah.
"Musnahkan?" mbah Lum tertawa pendek, suaranya seperti orang batuk. "Le, kamu tahu kenapa air terjun itu dinamakan air terjun perawan?"
Yadi menggeleng.
"Karena sejak dulu yang boleh dimandikan di bawah pancuran itu cuma perawan yang besok paginya jadi pengantin. Airnya keramat. Ada yang menunggui, dan yang menunggui itu tidak pernah minta apa-apa dari kita kecuali satu: jangan tumpahkan darah perawan di batu-batunya".
Mbah Lum menunjuk ke arah utara dengan dagunya.
"Malam itu kamu tumpahkan darah itu, le. Kamu dan empat temanmu. Dan yang punya darah itu mati di sana juga, jatuh dari puncaknya sambil membawa dendam yang belum selesai. Kamu pikir apa yang jadi kalau dua perkara itu ketemu di satu tempat?"
Yadi terduduk, kakinya lemas.
"Neng Dasima sudah bukan orang mati biasa. Dia sudah jadi sing mbaurekso di sana. Air terjun itu yang memberinya tempat, dan air terjun itu juga yang memberinya izin untuk menagih. Aku ini cuma juru kunci tua yang matanya sudah rabun. Aku tidak akan melawan yang punya rumah".
"Jadi saya harus bagaimana mbah?" suara Yadi bergetar.
"Ada satu jalan" jawab mbah Lum pelan. "Besok pagi kumpulkan warga di balai. Ceritakan sendiri apa yang kamu perbuat pada neng Dasima, pada tuan Karmo, pada bu Midah. Jangan kurang satu kata pun. Sesudah itu serahkan lehermu pada hukum orang banyak. Yang ditagih itu pengakuan, le, bukan nyawa".
Yadi terdiam lama sekali.
"Mbah menyuruh saya mati dihakimi warga?"
"Aku menyuruh kamu membayar" kata mbah Lum. "Kalau kamu tidak mau membayar dengan malu, kamu akan membayar dengan yang jauh lebih mahal".
Yadi berdiri dan meludah ke tanah.
"Saya kira mbah bisa menolong. Ternyata mbah cuma tukang omong".
"Le" panggil mbah Lum ketika Yadi sudah berada di anak tangga paling bawah. "Jangan ke air terjun malam ini. Sekali kamu berdiri di batu itu, kamu bukan lagi tamu di sana. Kamu jadi bayarannya".
Yadi tidak menjawab dan terus berjalan pergi.
****
Malam itu juga Yadi berangkat. Dia membawa keris yang dia beli mahal-mahal dari orang kampung seberang, segenggam garam kasar, dan kemenyan yang dia bakar sendiri di atas pecahan genting. Jalan setapak menuju air terjun itu dia hafal di luar kepala. Jalan yang sama yang dulu dia suruh Parjo dan yang lain jaga.
Sesampainya di bawah pancuran, Yadi menaburkan garam melingkari dirinya, lalu menancapkan keris itu ke celah batu.
"Dasima! Keluar kamu!" teriaknya melawan suara air. "Aku tidak takut sama kamu!"
Suara air terjun tiba-tiba mengecil. Bukan berhenti, tapi mengecil, seperti orang yang sengaja menurunkan suaranya supaya bisa mendengar.
Bau kembang kantil datang dibawa angin dari arah kedung.
Lalu Yadi melihatnya. Di balik tirai air, berdiri seorang perempuan berkebaya merah. Dia tidak melayang, tidak pula menapak. Dia hanya ada di sana, seolah memang sejak dulu tempat itu miliknya.
"Le Yadi" suara itu lembut sekali, persis suara Dasima ketika masih hidup. "Le Yadi nungguin siapa di sini?"
Kalimat itu, kalimat yang dulu dipakai Yadi untuk menipu Dasima, sekarang kembali kepadanya. Yadi menjerit dan mencabut kerisnya. Dia menusuk, menebas, memukul, tapi setiap kali besi itu cuma membelah air.
Garam yang melingkarinya larut sendiri, padahal tidak ada setetes pun air yang menyentuhnya.
"Ampun neng! Ampun neng!" Yadi jatuh berlutut. "Saya kembalikan semuanya neng! Saya kembalikan harta bapakmu!"
Perempuan berkebaya merah itu melangkah keluar dari balik tirai air. Setiap langkahnya meninggalkan jejak basah di atas batu.
"Bapak sudah tidak butuh harta" katanya. "Aku juga tidak".
"Terus apa yang neng mau?!"
Sosok itu berhenti tepat di depan Yadi. Untuk pertama kalinya sejak malam terkutuk itu, Yadi melihat wajah Dasima dari sedekat ini.
"Aku mau le Yadi merasakan sendiri, bagaimana rasanya minta tolong sekeras-kerasnya di tempat ini, dan tidak ada satu orang pun yang datang".
Rambut panjang yang basah itu bergerak sendiri, melilit pergelangan kaki Yadi, lalu menyeretnya pelan-pelan ke arah kedung. Yadi mencakar batu sampai kukunya terlepas. Dia berteriak memanggil nama semua orang yang dia kenal, satu per satu, sampai suaranya habis.
Di ujung desa, mbah Lum masih duduk di depan tungkunya yang sudah dingin. Dia mendengar teriakan itu dibawa angin, samar-samar, lalu hilang ditelan suara air.
Orang tua itu menghela napas panjang dan menutup pintu rumahnya.
"Sudah aku bilang tadi" gumamnya. "Yang ditagih itu pengakuan".