Sinar mentari sudah menyapa tanda sang pagi telah tiba. Dinar kini tengah siap untuk pergi dari desa kelahirannya itu dan tidak akan pernah kembali lagi. Ada rasa sesak dan sedih dalam hatinya, seandainya dia dan ibunya tidak memiliki rasa iri dan dengki terhadap keluarga Dasima sepupunya. Mungkin semua ini tidak pernah terjadi. Terselip rasa penyesalan dalam hati disaat ibunya Dasima meregang nyawa, dia bukan menolong malah dengan sengaja membenturkan kepala nya hingga beliau meninggal.
Peristiwa-peristiwa kebersamaan Dinar dengan Dasima yang penuh kebahagiaan, terlintas bagaikan sebuah klip video yang diputar ulang kembali. Kini semua hanya menjadi sebuah kenangan. Dinar tidak memiliki keluarga lagi, hanya bayi yang ada di dalam perutnya serta mertua yang begitu menyayanginya.
"Ku harap kamu mau memaafkan aku Dasima" ucap Dinar lirih. Matanya menatap ke arah utara, ke arah air terjun yang tidak kelihatan dari halaman rumah itu, tapi suaranya selalu terdengar sampai ke desa kalau malam sedang benar-benar sepi.
Sebelum berangkat, Dinar menyempatkan diri ke pemakaman di belakang desa. Tiga gundukan tanah berjejer di sana. Bu Midah, budenya yang dulu selalu menyisihkan makanan paling enak untuk dirinya. Pak Karmo, pakdenya yang tidak pernah membedakan dia dengan Dasima. Dan yang paling baru, masih merah tanahnya, makam ibunya sendiri.
Dinar berjongkok di depan makam bu Midah paling lama.
"Bude, maafkan Dinar" katanya sambil menempelkan telapak tangannya ke tanah. "Kalau waktu itu Dinar tidak mengangkat batu itu, mungkin sekarang semuanya masih ada".
Tidak ada makam untuk Dasima. Sampai hari itu tubuhnya tidak pernah ditemukan. Warga sudah menyisir kedung sampai ke muara, tapi yang mereka dapat cuma selendang yang tersangkut di akar pohon. Selendang itu sekarang disimpan di balai desa, dan tidak ada seorang pun yang berani menyentuhnya.
Ketika Dinar berjalan pulang, dia berpapasan dengan rombongan warga yang menggotong sesuatu dengan tandu bambu. Wajah mereka semuanya tegang.
"Ada apa pak?" tanya Dinar kepada salah seorang dari mereka.
"Le Yadi nduk" jawab lelaki itu tanpa memelankan langkahnya. "Ditemukan pencari ikan tadi subuh, di kedung bawah air terjun".
Kaki Dinar berhenti sendiri. Dia melihat kain yang menutupi tandu itu, dan tangan yang menjulur keluar dari bawahnya masih menggenggam gagang keris begitu erat sampai tidak ada yang berhasil melepaskannya.
Kata orang yang pertama menemukan, mulut Yadi penuh kembang kantil, sama seperti Parjo, sama seperti Mirna. Kepala dusun memutuskan Yadi dikubur di pinggir, di luar pagar pemakaman desa. Tidak ada yang membaca doa, tidak ada yang menabur bunga. Warga cuma ingin cepat-cepat menimbunnya lalu pulang sebelum hari gelap.
Dinar tidak ikut mengantar. Dia tidak sedih, tidak pula merasa senang. Yang dia rasakan cuma satu, bahwa satu per satu orang yang dulu berdiri di pihaknya sekarang sudah tidak ada lagi, dan tinggal dia sendiri yang masih hidup untuk mengingat semuanya.
****
Pedati yang akan membawa Dinar sudah menunggu di ujung jalan desa. Ibu mertuanya duduk di atas pedati itu sambil memegangi buntalan kain, sesekali menyeka keringat dengan ujung selendangnya. Perempuan tua itulah satu-satunya orang yang masih memperlakukan Dinar dengan lembut, yang tiap pagi menanyakan dia sudah makan atau belum, yang mengelus perutnya sambil mendoakan cucunya lahir selamat.
"Ayo nduk, keburu panas" panggil mertuanya.
Dinar mengangguk. Tapi baru beberapa langkah, ada seseorang yang berdiri di tepi jalan dan menghadang langkahnya. Mbah Lum, dengan tongkat bambunya, memakai kain yang sudah pudar warnanya.
"Nduk Dinar" panggilnya.
"Mbah" Dinar menunduk hormat, tapi hatinya berdebar. Sepanjang hidupnya dia tidak pernah sekali pun diajak bicara oleh orang tua itu.
"Kamu mau pergi?"
"Inggih mbah. Ikut ibu mertua ke kampung sebelah. Dinar tidak punya siapa-siapa lagi di sini".
Mbah Lum mengangguk pelan-pelan. Dia memandangi perut Dinar yang sudah mulai kelihatan, lama sekali, sampai Dinar merasa tidak enak dan memalingkan wajah.
"Bagus. Pergi memang jalanmu" katanya akhirnya. "Tapi dengarkan aku sekali ini saja, nduk, dan simpan sampai kamu tua nanti".
"Inggih mbah".
"Yang di air terjun itu tidak akan mengejar kamu. Bukan karena dia sudah memaafkan. Tapi karena kamu membawa satu hal yang tidak mau dia sentuh" mbah Lum menunjuk perut Dinar dengan tongkatnya. "Anak yang belum lahir itu tidak punya dosa apa-apa terhadapnya".
Bulu kuduk Dinar berdiri.
"Jadi Dinar selamat mbah?"
"Selamat itu kata yang terlalu enak" jawab mbah Lum. "Hutang darah itu tidak lunas cuma karena orangnya pindah kampung, nduk. Yang sudah dicatat tetap tercatat. Kalau bukan kamu yang membayar, ya keturunanmu, ya keturunan dari keturunanmu".
"Terus Dinar harus bagaimana mbah?"
"Tiga saja. Jangan pernah kembali ke desa ini. Jangan pernah bawa anakmu mandi di bawah pancuran itu. Dan yang paling penting, jangan pernah sekali pun menyebut namanya di depan air, apa pun yang kamu inginkan waktu itu. Sekali nama itu disebut di depan air, dia akan datang, dan dia selalu minta bayaran".
Dinar menelan ludah, lalu mengangguk berkali-kali.
"Mbah" Dinar memberanikan diri bertanya sebelum orang tua itu pergi. "Bayinya neng Dasima mbah, sama mbok Jum. Apa mereka sudah ketemu?"
Mbah Lum diam sebentar. Lalu senyum tipis muncul di wajahnya yang penuh keriput.
"Jangan dicari" katanya. "Biar yang satu itu tumbuh jauh dari sini. Dia bukan urusanmu, dan sudah bukan urusan desa ini lagi".
Orang tua itu berbalik dan berjalan pergi tanpa menoleh sekali pun.
Dinar naik ke atas pedati. Roda kayunya mulai berputar, mengeluarkan bunyi berderit yang panjang. Rumah-rumah yang dia kenal sejak kecil lewat satu per satu, lalu berganti sawah, lalu berganti kebun salak, lalu tinggal pepohonan.
Di tikungan terakhir sebelum jalan menurun, Dinar menoleh ke belakang untuk yang penghabisan kali. Dari kejauhan, di puncak air terjun yang putih berbuih itu, ada satu titik merah yang berdiri diam menghadap ke arah pedati.
Dinar buru-buru memalingkan wajah dan memeluk perutnya erat-erat. Sepanjang sisa perjalanan dia tidak berani menoleh lagi.
Puluhan tahun kemudian, ketika desa Batu Tungku sudah berganti nama dan orang-orangnya sudah berganti dua tiga keturunan, pesan mbah Lum itu tinggal jadi dongeng yang diceritakan nenek-nenek untuk menakuti cucunya sebelum tidur. Tidak ada lagi yang benar-benar percaya.
Sampai pada suatu malam, ada seorang perempuan muda yang datang sendirian ke tepi air terjun itu, membawa silet dan setetes darah, lalu menyebut nama yang dilarang disebut di depan air.