Hampir 18 jam lama nya Alana berada di pesawat, dan akhirnya ia memijak kan kaki nya untuk pertama kali nya di negara ini.
Jujur ini pertama kali nya Alana pergi sejauh ini biasanya, ia hanya bolak balik singapura-Indonesia, sebelum menikah dengan Bryan.
Ini pertama kali nya ia melihat turun nya salju dari langit secara langsung, sungguh wah.
Ingin rasa nya Lana memakan gumpalan kristal putih itu namun, ia urung kan saat ada seseorang yang memanggil nya dari arah depan.
" ALANA!... DI SINI!..." ucap seorang pria jangkung yang ber perawakan bule itu.
"Oh Bastian! " ucap Alana yang melihat pria tersebut berjalan ke arah nya.
" welcome in Switzerland " ucap nya sambil terkekeh.
"ah thanks bro!..." ucap Alana sambil terkekeh.
"ayo " ucap pria itu.
Sebastian wijaya, seorang bule blasteran Indonesia dan Norwegia namun, ia tinggal di sini dan berkerja sebagai seorang jaksa, Ia adalah anak dari kakak ipar Devan, sepupu alana.
Mereka pun menaiki mobil milik bastian yang tengah terparkir tak jauh dari sana.
Tidak ada pembicaraan di antara mereka.
Semua nya hening, hanya ada suara deru mobil yang terdengar.
"Jauh lagi kah Bastian?" tanya Lana.
"no... dikit lagi kok " ucap Bastian dengan aksen bule nya, walau dia blasteran Indonesia namun logat bicara nya masih ke bule bule an.
"rumah nya minimalis lana, seperti yang kau bilang waktu itu dan untuk pekerjaan mu... aku tidak menemukan pekerjaan yang sesuai dengan pekerjaan mu biasa nya, Kalau pegawai restoran sepertinya restoran klasik di sana lagi ingin merekrut banyak pegawai baru" ucap Bastian.
"bantuan itu saja udah lebih dari cukup Bastian" ucap Alana.
Dan setelah menempuh perjalanan yang tak terlalu jauh, akhirnya mereka sampai di sebuah desa yang sangat indah dan terlihat sangat asri dan karena kebetulan pula sedang turun salju jadi, pegunungan pegunungan itu terlihat indah karena sedikit tertutup salju.
Kota Lauterbrunnen, nama kota yang saat ini manjadi tempat tinggal Alana.
kota yang sangat asri dengan air terjun yang terlihat sangat indah.
"This is your house key, lana..." ucap Bastian.
"Oh ok thanks Bastian... Where is your house?" tanya Lana.
"Not far from here, you only need a few minutes to walk from here to my house... later I will send the location to you" ucap Bastian sambil tersenyum ramah.
(Tidak jauh dari sini, kau hanya perlu beberapa menit berjalan dari sini ke rumah ku... nanti aku akan mengirimkan lokasi nya pada mu.)
Bastian pun berpamitan pada Lana dan pulang.
Saat ini tinggal lah Alana sendirian.
Ia mulai membuka pintu rumah,kesan yang sangat bagus... desain dan interior yang sesuai dengan yang Lana ingin kan.
"huhh... mari kita memulai hidup kita di Sini nak " ucap Lana, sambil mengelus perut nya yang sedikit membuncit itu.
Alana pun berjalan jalan sedikit melihat seluruh ruangan di rumah itu.
Ada 2 kamar tidur, dua kamar mandi, satu dapur,dan ruang tamu.
Semua nya lengkap, sepertinya ia mendapat kan rumah kontrakan yang bagus.
Ia pun tersenyum bahagia..
"Andai kamu tau bahwa cinta ku pada mu begitu besar bry... aku saat ini hanya ingin bersama mu Namun, apa daya kau sudah milik orang dalam beberapa jam lagi" ucap Lana mengingat pembicaraan nya dengan fazira tadi yang mengatakan tentang pernikahan Bryan dan Mira yang akan di langsung kan besok pagi secara mewah dan sangat meriah sesuai dengan pinta Mira.
Namun, tak akan ada dari keluarga bryan yang akan menghadiri nya, karena kecewa mungkin?.
Di sisi lain ...
Langit ini sungguh indah, banyak nya hamparan awan putih tanpa kelabu.
"sungguh indah" ucap seseorang.
Dia adalah Bryan Albakhri.
"Kau di mana sekarang?, kau tau semenjak kau pergi aku kesepian... tak ada lagi teriakan judes seperti biasanya... semua nya hening " ucap Bryan yang tengah menatap langit biru itu.
Bryan tengah tidur di ranjang apartemen nya yang di depan nya terdapat kaca jendela besar yang membuat nya bisa melihat keindahan langit di luar sana. Setelah bercerai dengan Alana, ia memutuskan untuk membeli sebuah apartemen yang agak dekat dengan kantor nya.
Karena saat kemarin dia pergi ke rumah ayah nya, dia tak menemukan nya di sana.
Buk Siti bilang kalo ayah Bryan tengah berada di kampung, bersama dengan bang izan, fazira, dan putri mereka.
Waktu Bryan menelfon mereka pula, tak ada jawaban dari panggilan itu, bahkan Bryan sudah lebih dari 10 kali menelfon mereka untuk meminta mereka datang ke pernikahan Bryan yang akan di selenggarakan besok pagi.
Dan panggilan Bryan hanya di reject oleh mereka, Bryan yakin mereka kecewa pada nya namun, Bryan harus apa? kalau hati nya yang bukan untuk Alana.
Melainkan hanya untuk Mira namun, untuk saat ini mengapa dia malah meragukan nya?, dia merasa ragu akan perasaan nya pada Mira, saat bertemu dengan Mira hati nya tak berdegup kencang seperti dulu.
Terasa biasa saja, dan di sisi lain juga.
dia merasa kehilangan atas perceraian nya dengan Alana.
Entah lah, dia sungguh bingung.
"Ada apa dengan ku?, mengapa jantung ku malah berdegup kencang saat melihat dia sewaktu di bandara kemarin?... memangnya dia mau kemana?" tanya Bryan pada diri nya.
"Dan kenapa tubuh nya terlihat sedikit berbeda dari dulu, seperti nya tubuh nya semakin berisi dari semenjak kami bercerai, ada apa sebenarnya?" ucap Bryan.
Tiba - tiba ada telpon masuk.
Drtt ...
Drtt...
"Halo, selamat siang tuan Albakhri, gaun dan jas pengantin pesanan anda sudah siap... apakah kami dari pihak boutique yang mengantarkan atau anda yang menjemput nya?" tanya pegawai boutique dari via telepon itu.
"Saya akan ke sana bersama calon istri saya" ucap Bryan.
Bryan mengakhiri panggilan itu, ia berniat untuk menjemput Mira yang mungkin tengah berada di kost-an nya.
Skip ...
Bryan hampir sampai di kost-an nya Mira,