cahaya mentari menyinari kedua insan yang sedang tidur saling bertolak belakang ini, entah kapan mereka mengubah posisi tidur mereka.
Bryan menguap,tertanda dia sudah bangun dari lelap nya itu
Ia melirik ke samping nya, terdapat seorang gadis yang tengah tertidur lelap, enggan keluar dari mimpi indah nya itu mungkin?.
"heh tuan rumah ! bangun, ini sudah pagi,apakah kau tak berangkat ke rumah sakit?" tanya Bryan.
Jujur baru kali ini ia membangunkan Alana, ia baru menyadari bahwa alana malahan terlihat eem anu... saat tidur. bibir yang monyong, seperti ingin mencium sesuatu, rambut nya yang sedikit berantakan, dan ehenmm.
Bryan juga lelaki normal man! ia bahkan terus memperhatikan d**a Alana yang sedikit terlihat karena tadi tidur nya membelakangi Bryan lalu menghadap ke arah Bryan.
karena Bryan membangunkan nya mungkin?, tetapi ia tak kunjung membuka mata bulat nan indah nya itu. kalau boleh di katakan,milik Alana sepertinya lebih besar daripada milik Mira.
"heh ! kau kenapa bry... ini bukan saat nya untuk memikirkan itu" monolog Bryan.
sungguh pemandangan pagi ini membuat otak kotor nya semakin aktif.
ingin rasanya ia menyentuh nya, namun gagal Alana terbangun man !.
"heh! ada apa kau membangunkan ku?" tanya Alana.
"t...tidak aku hanya berniat membangun kan mu supaya kau tak terlambat ke rumah sakit" ucap Bryan.
"aku ke rumah sakit hanya setiap hari senin... rabu...dan sabtu" ucap Alana. yang kembali melanjutkan tidur nya
" apakah kau tak berniat untuk membuat kan ku sarapan?" tanya bryan.
"hey kau mendengarkan ku tidak??" tanya Bryan mulai kesal , astaga perkataan nya tak di hiraukan si pendengar.
"percuma juga aku memasak, seperti kau mau memakan masakan ku saja" ucap alana dengan mata terpejam.
Alana masih ingat betul bagaimana ia semalam menawarkan Bryan untuk makan, namun sang Adam malah menolak nya mentah-mentah.
Jujur saja Bryan belum makan apa-apa dari semalam selain hanya minuman haram itu ,dan satu potong roti yang di berikan Alana kemaren pagi.
" aku lapar, ayolah jangan kekanakan. apakah kau tak kasihan padaku yang sudah lapar ini" tanya Bryan, kalaupun saat ini pergi ke rumah Mira numpang makan,ia Takan bisa makan apa-apa, Mira tak pandai memasak, makan di luar? ga minat.
"masak saja sendiri, aku lelah kemarin aku menangani pasien depresi karena cinta, aku sungguh kewalahan menangani nya" ucap Alana.
" ga baik lhoo melawan perintah suami" ucap Bryan menampilkan wajah imut andalan nya.
"apakah kau menanggap ku istri mu?" ucap Alana.
Dan...! habis kau bry, apakah selama ini kau menganggap nya istri mu, kau bahkan mengkhianati nya.
"apakah kau menganggap ku suami mu?" tanya Bryan balik
Bryan... Bryan,kau sungguh pandai memutar balikan perkataan.
"ya, aku sudah menganggap mu suami ku sedari awal kita menikah. sekalipun kau tak pernah melirik ku,apakah kau tak menyadari jikalau aku tak menerima mu maka aku Takkan melakukan kewajiban ku sebagai istri dan berusaha untuk mengurus mu,walau sekalipun kau nya yang tak mau di urus" ucap Alana santai.
"HUHHH !" Bryan menghembus kan nafas nya pasrah,ia menuruni ranjang dan berjalan ke arah kamar mandi.
"sudahlah" ucap Bryan berlalu sambil menenteng handuk nya ke dalam kamar mandi.
Alana kembali melanjutkan tidur nya.
pintu kamar mandi terbuka, Bryan sudah mandi.
Ia berniat memakai baju nya,ia sedang mengambil pakaian nya dari dalam lemari, ia tak mengingat kalau ada Lana di sini, ia membuka handuk yang melilit pinggang nya itu,ingin mengenakan baju sambil bersenandung ria.
"HEY!...KAU MAU APA !!" heboh Alana yang baru terbangun lagi.
Bryan terkejut mendengar suara Alana ia tak buru-buru memasang handuk nya namun,malah ia menatap Alana itu nakal.
"iya, ada apa sayang" ucap Bryan dan berjalan ke arah Alana,dasar p*****l.
" huaaaa Amak!!" ucap Alana berlari keluar kamar.
"ckckck, ia sungguh lucu, lihatlah wajah nya merah tadi" ucap Bryan.
Bryan kembali mengenakan baju nya yang sempat tertunda tadi.
Alana berlari ke dapur dan mulai memasak sarapan pagi untuk nya.
ingat itu hanya untuk nya bukan untuk orang lain apalagi si p*****l yang ada di dalam kamar nya itu.
"hei masak apa sayang?" tanya seseorang dari arah belakang Alana.
Ia sudah menebak bahwa itu Bryan, ia hanya diam.
masih kecewa karena hal semalam mungkin?.
"hei kau tak menjawab ucapan ku lho sayang..." ucap Bryan tak santai dan berdiri dari duduknya lalu menghampiri Alana.
Ia melihat alana yang sedang memasak,ia terlihat telaten dalam menggunakan pisau.
"aku ingin memasak nasi goreng,lagian ada apa kau menatap ku seperti itu?" ucap Alana.
"ga papa, kau sungguh terlihat ahli dalam mengiris daun bawang itu" ucap Bryan.
"tak hanya mengiris sayuran,mengiris daging pun aku ahli apalagi mengiris daging pecundang seperti mu"-ucap Alana santai tanpa melihat ke arah Bryan.
seketika nyali Bryan mencuit mendengar nya, buru-buru ia berlari menuju meja makan
"hey man ! sadis sekali istri ku itu" monolog Bryan pelan.
Wait?,kita ga salah dengar bukan?, apa tadi? istri.
Alana selesai dengan urusan memasak nya, ia berjalan ke arah meja makan dengan satu piring nasi goreng dengan asap yang mengepul di tangan nya.
"hahh, kenapa hanya satu, apakah itu hanya untuk ku lalu kau tidak makan?" tanya Bryan.
"bahkan aku tak berniat untuk membuat kan mu sarapan" ucap Alana.
"lalu nasi itu??" tanya Bryan.
"only for me" ucap alana tegas.
"wahh, ada apa dengan istri ku ini, kau tak mengasihani ku?" tanya Bryan.
"tenang Lana, ia hanya sedang berpura pura" ucap Lana dalam hati.
"bukanya kau sudah bilang semalam bahwa kau tak mau memakan masakan ku?" tanya Alana.
"lalu ada apa dengan mu pagi ini, apakah semalam kepalamu berbenturan dengan kepala kesayangan mu itu?" tanya Alana dengan menekankan kata 'kesayangan'.
"HUHHH,tidak" ucap Bryan.
lalu ia pergi ke ruang tamu dan memesan makanan di salah satu aplikasi pemesan makanan online.
Ia kembali melihat alana yang berjalan menuju tangga.
"mau kemana kau?" tanya Bryan kembali pada mode serius nya seperti sebelum-sebelumnya.
"mandi" ucap Alana.
kalau libur begini biasanya Alana memang memiliki suatu kebiasaan
makan dulu baru mandi.
hebat bukan?.
skip...
Alana telah selesai dengan mandi nya,ia memakai pakaian nya di kamar mandi, seperti biasanya.
ia membuka pintu kamar mandi di sana terlihat Bryan tengah rebahan dan satu lagi senyum manis Bryan terbit dari wajah nya.
"ada apa dia tersenyum seperti itu?" tanya Alana dalam hati mulai kepo.
"hahh iya sayang,aku males banget keluar" ucap Bryan manja.
Alana melihat arah pandangan Bryan.
"hahahaha jangan bodoh Lana,ia tak tersenyum karena mu, jangan GeEr Lana,kau lihat bukan ia sedang video call dengan kesayangan nya itu" ucap Alana dalam hati.
"ternyata yang tadi pagi hanya sesaat bry,ternyata kau hanya menganggap nya sebagai angin lalu" ucap Lana lagi dalam hati.
"bry, aku akan keluar untuk menemui Kelly" ucap Lana.
"terserah mu, itu bukan urusan ku" ucap Bryan tak menghiraukan Alana.
"siapa itu sayang??" tanya mira.
"siapa lagi kalau bukan wanita pengganggu itu" ucap bryan menatap Alana tak santai.
deg...!
"baru tadi pagi kau berubah bry, sekarang kau kembali dingin pada ku" ucap Alana dalam hati.
"huhh, semua laki-laki itu sama sama pecundang nya,tetapi kau jauh lebih pecundang dan kau sungguh... huhh... sabar lanaa" ucap Alana lantang, menatap Bryan marah.
"kau bahkan tadi pagi merengek padaku sekarang,entahlah.
aku sudah muak pada mu" ucap Alana.
"apakah kau menaggap ku serius padamu tadi? aku bahkan hanya ingin mengerjai mu.
ku kira kau tak masuk jebakan ku, ehh ternyata kau malah baper, kasian" ucap Bryan sok dramatis.
"kau tau, aku sangat membencimu, ku kira kita memiliki perasaan yang sama,ternyata kau masih mencintai mura Han itu" ucap Alana.
Plak...!
" berani nya kau mengatakan Mira ku seperti itu" ucap Bryan emosi.
air mata Alana menetes,ini pertama kali nya selama pernikahan mereka Brayan berani melakukan kekerasan pada nya.
"ku kira kau telah menerima ku, aku menyesal, sangat menyesal telah menaruh harapan lebih pada mu" ucap Alana terdengar kecewa.
Bryan POV...
"ku kira kau telah menerima ku, aku menyesal... sangat menyesal telah menaruh harapan lebih pada mu" ucap istri ku itu.
sakit, sungguh sakit saat ku mendengar nya, terdengar pilu, aku hanya terdiam memandangi matanya yang tengah berkaca- kaca itu.
"kau ingin ini semua berakhir bukan?" tanya nya.
"itu sekarang sudah keputusan mu,aku Takan berharap lebih lagi pada mu.
aku menyerah memperjuangkan perasaan ini sendiri, jikalau itu mau mu,itu terserah mu aku Takan mempertahan kan pernikahan yang menurut mu konyol itu.
seperti katamu sewaktu hari pertama pernikahan ku itu" ucap Alana sedih.
Alana pergi, di situlah air mata Bryan mulai berlinang.
"ada apa dengan ku?" tanya Bryan pada diri nya.