"pak Radit?" aku melambai kan tanganku di hadapan wajahnya saat ku lihat dia melamun sejak tadi "aku ingin bersamamu menjagamu dan berada di sampingmu.menggantikan kebodohan ku dulu..bisakah?" pak Radit tiba tiba membuka suara dan kata2 nya membuatku sangat bingung "bapak mabuk yaaa...ini sudah malam pak..lebih baik pak Radit pulang ke rumah kembali kepada anak dan istri bapak" kataku sedikit menggebu membayangkan dia mengatakan hal itu tetapi di rumah ada anak dan istrinya yg menunggu membuatku muak melihat lelaki ini.
Jujur sedikit debaran itu masih ada tapi setelah tahu dia sudah memiliki anak dan istri aku langsung ingin memusnahkannya aku bukan perempuan gila yg tega merebut suami orang aku benar-benar masih waras untuk itu.
Dia kembali menatapku dalam diam dan aku muak dengan situasi ini aku mulai berdiri hendak meninggalkan nya tetapi dia menahanku "anak itu bukan milikku" katanya lirih membuatku menoleh "milikmu atau bukan tapi kau sekarang bersama dengan ibunya.jadi mereka adalah tanggung jawab mu" lalu aku menarik paksa tanganku dan berlalu pergi dari kafe itu bergegas kembali ke apartemen.
Saat ada di dalam lift tiba2 saja pak Radit ikut masuk aku tak tahu sejak kapan dia mengikuti ku "apa yg bapak lakukan?kenapa mengikutiku?" tanyaku dengan nanda marah ke arahnya "pergilah pak saya masih cukup waras untuk tidak mendekati anda" kataku sambil mendorongnya keluar, tenagaku kalah besar dengannya dan pak Radit tak bergeming di tempatnya dia malah menekan nomor lantai tempatku tinggal membuatku tak terkejut dia atasanku pasti dengan mudah bisa tahu dimana tempat tinggalku.
Sampai di depan unitku aku tetap diam tak membuka pintu "bukalah atau kau mau aku mengetuk pintu apartemen milik Melisa?" tanya pak radit tambah menjadi membuatku menghembuskan nafas lelah dan membuka pintu unitku dan segera masuk di ikuti oleh pak Radit.
Saat di dalam unitku di langsung menghempaskan badannya di sofa ruang tamuku aku hanya berdiri sambil bersendekap melihat tingkahnya "pulanglah pak,,,ini sudah larut malam pasti istrimu khawatir" kataku membujuknya tapi dia tetap menyandarkan punggungnya di sofaku sambil memejamkan mata "aku sudah sangat lama mencarimu Airy" katanya dengan tanpa menatap ku "tapi aku tahu zacky selalu dengan pintar menutupi jejakmu" tiba2 dia menatapku dengan tatapan yg sendu tatapan yg membuatku seakan terhisap untuk tenggelam ke dalam pelukannya "apa separah itu kesalahanku padamu Airy?apakah sangat susah bagimu untuk memaafkan ku Airy?" dia bertanya dengan nada memelas membuatku semakin ingin memeluknya tapi ku tepis fikiran itu jauh jauh berusaha menyadarkanku sendiri bahwa laki laki ini kini telah menjadi milik orang lain bukan hanya sebatas kekasih tetapi sebuah ikatan yg lebih kuat dan lebih suci di hadapan Tuhan.
Aku terdiam beberapa saat lalu memutar punggungku tak ingin melihatnya dan ku paksa suara dari dalam mulutku untuk keluar "aku memaafkan mu Pam sudah dari dulu aku memaafkanmu,,sekeras apapun aku ingin membencimu tapi hatiku tetap tidak bisa,akan terasa semakin sakit rasanya jika aku memaksa" jawabku dengan meneteskan air mata tapi lamgsung ku hapus secepatnya "sekarang sudah berbeda,,kita sudah sama2 dewasa dan kejadian itu hanya kesalahn semasa kanak2 khan?jangan terlalu di pikirkan" kataku dengan nanda ku buat se ceria mungkin meskipun aku belum mampu menatap wajahnya "sekarang kau sudah punya istri dan aku juga sudah memiliki pasangan" lanjutku lalu beberapa saat terasa dia memutar badanku dan memaksaku untuk menatapnya "jangan membohongiku Airy aku tau kau sudah berpisah dengan suamimu dan tidak sedang bersama lelaki manapun" dia berkata dengan sedikit penekanan di setiap kata yg keluar dari bibirnya kami saling menatap lalu dia berkata "aku akan pergi jika kamu benar2 sudah tidak merasakan apapun kepadaku" lalu tiba2 saja bibirnya sudah melekat di bibirku melumatnya dengan lembut menghisap kedua bibirku bergantian dan dengan tangan yg menahan tengkukku,. "aku ingin terhanyut...ingin sekali apakah boleh?" kataku dalam hati.
kurasa dia semakin memperdalam ciumannya dan ku rasa tangannya membelai punggungku dengan lembut saat tiba2 aku tersadar kalau ini semua salah aku segera mendorongnya sekuat tenaga saat bibir kami terpisah kita sama2 terengah dan saling menatap "plaaakkkk...." aku menampar nya aku shock tak terasa air mataku meleleh "pergi...atau aku akan menelpon security" kataku dengan nada dingin dan masih terus menangis dan dia hanya diam lalu melangkahkan kaki keluar dari apartemen ku.
Setelah kepergiannya aku buru2 ke dapur mengambil air putih dan buru2 meminumnya berharap agar aku lekas tenang setelah itu aku kembali ke kamar mencoba melupakan kejadian itu memaksa mataku untuk terpejam sast ku lihat jam sudah menunjukkan pukul 04.00 pagi.