Saat di perjalanan menuju ke kantor tempat kami janjian dengan Varel dan Mitha "nanti aku turun di halte sebelah kantor aja deh" kataku pada pak Radit "kenapa?" tanya nya "aku gak mau Mitha sama Varel berpikiran macem2" jawabku.
Saat tiba di halte sebelah gerbang perusahaan aku turun dan berjalan ke arah gerbang dari kejauhan ku lihat Mitha dan Varel sudah siap di sana dan ada mobil perusahaan beserta sopirnya juga, pak Radit melewati ku menggunakan mobilnya saat sudah bergabung dengan meraka pak Radit bertanya "semua sudah siap?dan berkas2 yg di perlukan gimana?" kami menjawab dengan kompak "sudah siap pak" kata kami berbarengan dan kami pun berangkat tepat pukul 20.00wib menempuh perjalanan sekitar 4 jam menggunakan mobil.
Di dalam mobil kami hanya ngobrol biasa saja sambil sedikit membahas soal berkas2 yg harus di serahkan besok pagi, Mitha duduk di sebelahku sambil sesekali membuka map biru yg dia bawa dan Varel di depan bersama pak Radit yg menyetir sendiri padahal ada sopir perusahaan yg mengikuti kami dari belakang.
"Pak kenapa gak bareng mobil perusahaan aja?" tanya Varel
"Biar ada yg bisa di pakai kalau nanti ada keperluan mendadak" jawab pak Radit singkat sambil matanya tetap ke depan.
Aku hanya diam menatap ke luar jendela, lampu-lampu jalan tol yg berjejer itu lewat begitu cepat sampai rasanya seperti garis panjang yg tidak putus. Kepalaku penuh, bukan soal berkas atau presentasi besok tapi soal semalam. Bayangan kejadian di kamar itu tiba-tiba muncul lagi dan aku buru-buru menggeleng pelan seolah dengan begitu semuanya bisa hilang.
Sekitar satu jam perjalanan kami berhenti sebentar di rest area, Varel turun membeli kopi untuk semua orang dan Mitha ikut turun ke toilet. Tinggal aku dan pak Radit di dalam mobil, tidak ada satupun dari kami yg bicara. Aku pura-pura sibuk dengan ponselku padahal layarnya bahkan tidak menyala. Setelah beberapa menit yg terasa seperti sejam akhirnya Mitha dan Varel kembali sambil membawa empat gelas kopi dan sebungkus roti.
"Nih Ry buat kamu, muka kamu pucet banget dari tadi" kata Varel sambil menyodorkan satu gelas
"Makasih Rel"
Perjalanan kami lanjutkan, dan entah kenapa setelah itu suasana di dalam mobil jadi jauh lebih sepi dari sebelumnya.
"Kamu kenapa Ry?" tanya Mitha pelan
"Gak papa cuma agak pusing aja" jawabku sambil tersenyum
"Tidur aja dulu masih lama kok, nanti aku bangunin kalau udah mau sampai"
Aku mengangguk lalu menyandarkan kepalaku ke jendela. Dari kaca spion depan tanpa sengaja mataku bertemu dengan mata pak Radit yg ternyata sedang menatapku juga. Dia langsung mengalihkan pandangannya ke jalan dan aku pun buru-buru memejamkan mata pura-pura tidur padahal jantungku berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.
Entah berapa lama aku tertidur, saat terbangun mobil sudah berhenti di halaman sebuah hotel kecil dan Mitha sudah tidak ada di sebelahku. Ku lihat jam di ponselku hampir pukul dua belas malam.
"Udah sampai dari tadi, kamu tidurnya pules banget sampai gak enak mau bangunin" kata pak Radit yg ternyata masih duduk di kursi kemudi
"Loh yg lain mana pak?"
"Udah masuk duluan ngurus kamar"
Aku buru-buru membuka pintu tapi tanganku ditahan sebentar oleh suaranya "Airy" panggilnya. Aku berhenti tanpa menoleh.
"Soal semalam.. aku minta maaf. Aku gak akan mengulanginya lagi kalau kamu gak nyaman"
Ada jeda yg cukup lama sebelum aku menjawab. Sebenarnya banyak sekali yg ingin ku katakan tapi tidak satupun yg berhasil keluar dari mulutku.
"Iya pak" cuma itu yg bisa ku ucapkan lalu aku turun dari mobil.
Di lobby Mitha melambaikan tangan sambil memegang dua kunci kamar "Kita sekamar ya Ry, kamar 204. Varel sama pak Radit di lantai atas"
Aku mengangguk dan mengikutinya ke kamar. Setelah menaruh tas aku langsung masuk kamar mandi membasuh mukaku berkali-kali lalu menatap pantulan wajahku sendiri di cermin. Gadis gendut kucel kriting yg dulu selalu di tertawakan itu sekarang berdiri di sini, di kota lain, membawa berkas perusahaan, dan sedang bingung karena atasannya sendiri.
"Ry ayo tidur udah malam banget, besok jam delapan kita udah harus di sana" teriak Mitha dari luar
"Iya bentar"
Malam itu aku berbaring memandangi langit-langit kamar hotel yg remang sampai lewat pukul satu. Di sebelahku Mitha sudah tidur pulas sambil sesekali mengigau tidak jelas. Aku mengambil ponselku, ada satu pesan masuk dari nomor yg tidak ku simpan tapi aku tau persis itu nomor siapa.
"Istirahat yg cukup. Besok kamu yg presentasi bagian pertama."
Aku membaca pesan itu berkali-kali lalu mengetik balasan, menghapusnya, mengetik lagi, menghapus lagi sampai akhirnya aku cuma mengirim satu kata.
"Baik."
Ku letakkan ponsel di bawah bantal lalu memejamkan mata. Besok pagi semuanya harus kembali seperti biasa, aku karyawan dan dia atasanku, tidak lebih. Itu yg terus ku ulang di dalam kepalaku sampai akhirnya aku benar-benar tertidur.