Kami terdiam cukup lama dengan pikiran kita masing-masing membiarkan televisi menyala begitu saja aku harus bagaimana dari dalam hati kecil ku aku menginginkan dia entah bagaimana dan sejak kapan tapi di sisi lain aku takut.
Aku seorang wanita bagaimana tega aku menghianati kaum sejenisku apapun alasan yg di berikan pak Radit "aku tidak bisa" kataku sekuat tenaga tidak menatap matanya ku rasa dia menatapku lalu berkata "maksud kamu?" "maaf aku gak bisa ini sama saja aku merebutmu dari keluargamu pasti semua orang di luar menganggapku sebagai pelakor dan aku tidak akan bisa menghadapi orang di luar sana " kata ku "kenapa kamu perduli dengan ucapan orang di luar sana?" tanya pak Radit "tatap mataku dan katakan kamu tidak menginginkan ku Airy" pak radit mendekat kepadaku memegang kedua pipiku dengan kedua tangannya membuatku bertatapan dengannya "kenapa kammu mendengarkan kata orang di luar sana?kita yg akan menjalani hubungan ini Airy biarkan mereka berkata semau mereka" kata pak Radit dengan lembut kepadaku air mataku sudah menggenang aku ingin berteriak aku mau tapi seperti kaset rusak dalam ingatan ku bagaimana cacian dan bully an teman2 sekolahku dulu membuat ku tak ingin mengulang hal itu lagi.
Aku takut aku tak akan bisa keluar dari jurang kegelapan itu jika aku mengalami cacian dan bully an lagi, aku sudah mati matian sembuh dari traumatic itu aku juga sudah stop meminum obat itu dan aku benar-benar tak ingin mengulanginya lagi ingatan itu semakin lama semakin berputar jelas di kepalaku tiba2 saja aku berteriak sambil menutup kedua telingaku "pliss jangan ganggu akuu..aku salah apa sama kalian...aku mohon pergi" kataku sambil berjongkok di sebelah sofa yg tadi ku duduki "Airy ada apa?heeii ssshhhh...tenanglaahh heeeiii ada aku di sini" kata pak Radit menenangkan ku sambil memelukku "jangann aku mohon...jangan ganggu aku... aku tak pernah punya salah pada kalian" kataku masih sambil meraung-raung dalam pelukannya "ssshhh....tenanglah sayang aku di sini...aku akan menjagamu" kata pak Radit dengan lembut lalu tiba tiba semua ku rasa gelap.
Saat terbangun aku sudah ada di ranjang kamarku dan pak Radit menggenggam tanganku "heeeiiii..kamu sudah sadar?mau minum?" tanya pak Radit dengan lembut dan aku hanya mengangguk dan dia dengan pelan membangunkanku lalu memberiku air putih setelah meminum air itu dia masih duduk di sempingku sambil menggenggam tanganku dan mengelusnya perlahan "aku tidak tau apa yg dulu terjadi sama kamu, aku akan memberikan waktu untuk berpikir setelah perjalanan bisnis ini aku akan menguruskan cuti untukmu kurasa kamu perlu istirahat" katanya dengan lembut dan aku hanya diam "sudah hampir jam 18.00 ayo bersiaplah maaf aku tadi sudah mengepak pakaian mu sekarang mandilah aku siapkan makanan" kata pak Radit lalu meninggalkan ku untuk bersiap siap.
Sebelum masuk ke kamar mandi aku melihat apa saja yg di kemas ya dalam koperku ada beberapa pakaian yg sepertinya bukan yg aku siapkan tadi rok span dan heels ku sudah tidak ada di dalam koper berganti stelan celana dan sepatu kets dan pantofel formal di dalamnya lalu ku lihat di sisi sebelah ada sebuah pouch warna hitam dan ku lihat ternyata di dalamnya ada beberapa potong pakaian dalam ku membuatku seketika merona tidak pernah ada laki-laki yg menyentuh pakaian dalamku termasuk mantan suamiku dulu, tak ingin berlama-lama aku segera mandi.
Saat aku duduk di meja makan ku lihat ada beberapa makanan sisa kami makan tadi siang sepertinya dia menghangatkan nya tapi ke mana perginya laki laki itu ponsel dompet dan jaketnya masih ada di sofa, terserahlah aku tiba-tiba merasa lapar karna aku merasa sedikit lemas setelah insiden pingsanku tadi tak berapa lama ku dengar ada yg membuka pintu ku lihat dia masuk sambil membawa tas ranselnya "kamu sudah mandi?" tanya pak Radit aku hanya mengangguk "makanlah aku akan mandi dulu" ku lihat dia berlalu ke arah kamarku "seperti rumah sendiri" kataku pelan lalu melanjutkan makan "sayang di mana sikat gigi baru?" tanya pak Radit sambil menyembulkan kepalanya saja di pintu kamarku "cari saja di lemari bawah wastafel " kataku acuh,
setelah dia selesai mandi dia berganti baju celana chino warna coklat kemeja kotak-kotak flanel warna biru seperti biasa selalu tampan lalu dia duduk di hadapanku "kamu menukar semua bajuku di dalam koper?" tanyaku "iya ,aku gak suka kamu pake rok ketat2 gitu" katanya sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya "huufffhhh..terserah" kataku bangkit menuju ke kamar ku lihat ras ranselnya sangat berantakan terpaksa ku bongkar lagi dan ku rapikan lagi dan ku lihat kemeja nya sudah kusut tak akan sempat jika aku masih harus menyetrikanya akhirnya aku hanya melipatnya rapi lalu ku masukkan ke dalam ranselnya ku dengar dia masuk ke kamar saat aku masih merapikan pakaiannya "tadi isinya berhamburan saat aku mengambil kemeja" katanya "kemeja kamu kusut aku gak sempat kalo harus menyetrikanya dulu dan apa kamu mencampur pakaian kotormu dalam tas ini?" tanyaku "enggak papa aku bawa jas di mobil,,pakaian kotor ku masukin ke keranjang baju kotor punya kamu" jawabnya santai sambil memainkan hp nya ku dengar dia mengangkat telepon "iya sayang maafin papah yaa..papah harus kerja kamu yg pintar yaa di rumah..babay sayang" dia berkata sangat lembut di telepon kepada anaknya dan aku menyadari dia menyayangi anak itu dengan tulus.
Itu membuatku tiba2 merasa jengkel aku menutup koperku dengan keras lalu menutup resletingnya dengan kasar sampai ku rasa jariku terjepit resleting koperku "aduhh..." teriakku lalu spontan meniup jariku yg sudah memerah dan pak Radit sudah ada di sebelahku lalu menarik tanganku dan meniupnya "hati hati..dan pelan pelan aku tidak akan meninggalkanmu" katanya masih dengan meniup lembut jariku dan membuat gelenyar aneh tiba2 datang dengan kurang ajarnya lalu dia menatapku dan semakin mendekatkan wajahnya ke arahku, aku tau apa yg sebentar lagi akan terjadi dan aku menolehkan wajahku, seketika aku menyesal kenapa aku menolaknya ku rasa pak Radit hanya diam menerima penolakan ku tidak bergeming masih di tempat yg sama dan yg terjadi berikutnya entah setan mana yg merasukiku aku menolehkan wajahku ke arahnya lalu menempelkan bibirku pada bibirnya awalnya dia hanya diam dan kaget lalu pelan-pelan mulai menggerakkan bibirnya saat tak mendapat penolakan dariku dia semakin intens menciumku dan aku pun membalasnya.
Setelah beberapa menit ciuman panas itu tiba-tiba ku rasa dia mengangkatku menjatuhkan ku di atas tempat tidur dan ku rasa aku sudah gila hanya pasrah dan membalas ciumannya, ciuman yg sangat panas yg ku lakukan setelah sekian lama kami saling melumat saling menghisap satu sama lain dan saat ku rasa nafasku hampir habis dia memindahkan ciumannya ke arah leherku menyesapnya dengan lembut meninggalkan jejak-jejak basah di sana kurasa tangannya pun tak tinggal saat tangan kirinya menyangga tubuhnya agar tidak benar-benar menimpaku tangan kanannya meraba raba bagian dadaku membuatku sedikit melenguh dan ku rasa sesuatu di bawah sana sudah benar-benar tegang membuatku tersadar ini tidak benar lalu aku memanggil namanya "pamhh...stop..plis stop" ku rasa dia menghentikan perbuatannya masih di atas tubuhku ku dengar deru nafas beratnya aku mengelus pelan punggung nya "maaf aku tidak bisa" kataku pelan lalu ku rasa dia bangun dari atas tubuhku dan duduk di tepi tempat tidur sambil mengusap kasar wajahnya "maaf aku sudah melewati batasku" katanya lalu berdiri dan menuju ke kamar mandi.