"Abang."
"Hemm.
"Abang!," panggil Raya, kembali.
"Hemm."
"Istri Abang itu aku apa kertas, sih?" kesal Raya, Alka masih saja fokus dengan lembaran-lembaran kertas di depannya.
Alka menghela napasnya dalam, memahami sifat Raya itu lebih susah dari pada memahami medical record pasien. Usia Raya yang memang masih terbilang sangat muda, membuat Alka harus pintar-pintar dalam menghadapinya, Raya yang keras kepala selalu ingin di nomor satukan.
Alka menutup lembaran kertas yang tengah dipelajarinya, ia menghampiri istri kecilnya yang tengah merajuk dengan seulas senyum.
"Ada apa, Ay?" tanya Alka sembari mengelus lembut helai rambut istri nya.
Raya tak menjawab, ia malah mendelik kesal pada suaminya.
Cup
Alka mengecup pipi Raya.
"Jangan ngambek dong, Ay, bilang ada apa hemm?" ujar Alka.
"Abang sih sibuk mulu, dari tadi aku di cuekin."
"Itu medical record pasien yang harus Abang pelajari, Ay, Abang gak bermaksud cuekin Aya kok."
"Ya kan bisa di rumah sakit, kenapa harus di bawa kerumah juga?"
Raya mengerucutkan bibirnya dengan mata yang hampir menangis, sudah di bilang kalau Raya itu manja.
"Ya sudah, abang minta maaf, sekarang istri Abang pengen apa hemm?"
Alka membawa Raya ke pelukan nya, mengecup puncak kepala istrinya menjadi salah satu cara meredam emosi yang mungkin kapan saja bisa menghampiri dirinya.
Alka harus lebih bersabar menghadapi setiap tingkah Raya, ini jalan yang ia pilih, tak ada yang perlu di sesali.
"Aku kan pengen ngobrol sama Abang, kenapa Abang gak ngerti sih?" keluh Raya.
"Kan tadi kamu lagi nyiapin buat OSPEK besok, Abang gak mau gangguin kamu, Ay, Abang gak tau kalo ternyata sudah beres."
Raya lagi-lagi mendengus kesal, suaminya memang gak peka, Raya kan ingin nya tadi di bantuin, bukan malah sibuk dengan kerjaannya sendiri.
"Abang."
"Iya, Ay?"
"Abang emang sibuk banget yah di rumah sakit? Pulangnya malem mulu, dulu Papah sama Kak Raka selalu pulang cepat."
Raya membenarkan posisinya agar lebih nyaman.
"Abang kan Residen, Ay, bisa dibilang kesibukannya itu lebih dari Koas. Selain bertanggung jawab sama pasien, abang juga bertanggung jawab sama konsulen, setiap perintah dari konsulen harus abang kerjakan dengan baik. Sama koas juga abang harus jadi contoh yang baik, mereka minta bantuan ya kita bantu."
"Jadi Abang cerita nya ngurusin Koas-Koas di sana?"
Lah, salah paham nih Si Raya.
"Ya gak ngurusin juga, Ay, kita cuma ngasih bimbingan saja, itupun kalau di perlukan, atau konsulen nya yang suruh."
"Koas nya cowok atau cewek?"
"Dua-dua nya" jawab Alka jujur.
"Abang gak genit kan sama Koas ceweknya? mereka gak ada yang godain Abang kan?" tanya Raya penuh selidik.
Alka mengernyit heran, apakah istri nya sedang cemburu?
"Hahahaha "
"Ish, kok Abang malah ketawa?" dumel Raya bersedekap d**a.
"Kamu cemburu ya, Ay? Takut kehilangan abang yah?" Goda Alka menaik turunkan alisnya.
"Siapa yang cemburu sih? Aku tuh takut aja Abang berpaling, kan banyak tuh di novel-novel, koas pacaran sama residen, cinta lokasi istilah nya."
Pletak
"Akhh, Abang ihh sakit," rengek Raya.
"Novel tuh cuma cerita fiktif, jangan kebanyakan baca yang gituan, Ay, jadinya kan kayak gini, halu."
"Jaga-jaga kan gak papa, takutnya nanti kejadian."
"Memang kalo sampai kejadian, kamu mau ngapain?"
"Mau aku nikahin sama Abang."
"Emang nya siap di poligami?"
"Nikahinnya di tengah kolam buaya," jawab Raya sarkas.
"Astaghfirullah, kejam banget sih istri Abang."
Alka mencubit kedua pipi Raya pelan .
"Awas aja kalo Abang nikah lagi!" ancam Raya mengepalkan tangan nya di depan Alka.
"Lah, kan gak ada yang tau takdir Allah gimana, Ay," goda Alka.
"Oh, jadi maksudnya Abang mau nikah lagi gitu?"
Alka hanya tersenyum dan mengelus lengan Raya penuh kasih.
"Sudah ah, kamu makin ngelantur aja ngomong nya, kita tidur yah, sudah malam."
Alka membawa Raya berbaring menghadapnya, memeluk Raya erat seakan tak mau kehilangan.
Pagi-pagi sekali Raya telah siap dengan seragam nya, memakai papan nama yang di kalungkan dilehernya mengingatkan ia pada masa awas masuk SMA. Ahh, rasanya baru kemarin ia mengikuti MOPD, dan sekarang ia harus OSPEK, sebagai mahasiswa baru tentu menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi siapapun, menyandang gelar mahasiswa dan juga menyandang gelas Istri di waktu yang bersama'an seakan menjadi bonus untuk nya, tak pernah sedikitpun terpikirkan ia akan menikah di usia yang masih sangat muda.
"Istri abang lucu banget sih, gemas deh, jadi pengen cium."
"Ihh, Abang gak usah ngeledek deh!"
Alka tergelak mendengar ucapan istrinya.
"Siapa yang ngeledek, Ay? Adek kan kenyata'an nya emang comel," goda Alka menoel pipi Raya.
"Ay, jangan cantik-cantik lah!" ujar Alka memelas.
"Kenapa?"
"Nanti banyak Senior yang suka, abang pokoknya gak ridho!"
Lah, kenapa sekarang malah Alka yang cemburu?
Raya terkikik geli melihat suami nya cemburu.
"Ya gapapa dong, banyak kenalan senior kan baik untuk mahasiswa baru kaya aku," goda Raya.
Baru begitu saja, kuping Alka sudah merah.
"Ayy!" peringat Alka tegas.
"Hahaha, cie cemburu? Tenang aja, Abang gak tergantikan kok."
Cup
Alka terbelalak kaget ketika Raya mengecup pipinya, ini baru pertama kalinya loh! biasanya kan Alka yang cium Raya mulu.
"Istri abang mulai nakal nih, yah?"
Alka memeluk pinggang Raya dan menciumi wajahnya, membuat Raya kegelian.
"Biarin dong, Abang kan suami aku."
"Ya ya ya, Aya cuma milik Alka seorang."
Hanya percakapan sederhana, tetapi itu selalu menjadi moodbooster bagi mereka.
Alka mengantar Raya ke kampus barunya, di perjalanan mereka tak henti mengobrol.
"Abang, boleh gak sih kalo gak ikutan OSPEK aja?"
"Kenapa memangnya?"
"Males aja, Bang, biasanya kan banyak tuh Senior yang sok berkuasa, aku gak suka!"
"Yang penting mereka gak lakuin macem-macem, Ay. Zaman sekarang sudah gak ada perploncoan seperti itu," jelas Alka.
"Alah, kata siapa? Dulu aja waktu MOPD, aku di labrak sampai pingsan."
Alka terkejut dengan pengakuan Raya, benarkah istrinya pernah mengalami hal itu?
"Beneran, Ay?"
"Iya, Bang. Penyebab nya itu gara-gara aku deket sama Kak Dava, padahal Kak Dav kan kakak aku."
"Terus?" tanya Alka penasaran.
"Ya ... gitu."
Mereka sudah sampai di gerbang kampus Raya.
"Baik-baik ya, Ay. Kalau ada apa-apa langsung telepon abang, jangan nakal!"
"Iya, Abang juga jangan genit!"
Raya meraih tangan alka dan menciumnya, hari baru bagi Raya dalam dunia pendidikan, menjadi mahasiswa sekaligus seorang istri tentu tidaklah mudah, tapi apapun itu Raya yakin bisa melewatinya.
Raya berkumpul dengan mahasiswa baru lainnya, ia berdampingan dengan Naira yang memang satu fakultas dan satu Jurusan, sementara sahabatnya yang lain entah dimana, yang pasti mereka bersama anak-anak satu fakultas nya.
"Nai, lo mah ih, napa ambil di depan sih? Entar kena semprot sama senior," dumel Raya.
Bisa-bisanya sahabatnya ini ngambil barisan di depan, ya walaupun gak yang paling depan, tapi kan tetap saja pasti keliatan para senior.
"Biarin, Ray, siapa tau ada yang bening, kan lumayan dijadiin gebetan."
Lah, Si Naira malah cekikikan.
"Terus Kak Dio mau di kemanain?"
"Udah putus gue, Ray, sama dia hiks hiks, tapi gak papa lah, di sini banyak kayanya yang lebih keren."
Dasar drama!
"Alah, palingan entar juga balikan."
"Gak akan, gue udah move on."
"PERHATIAN UNTUK SEMUANYA."
Suara salah satu panitia menyudahi perdebatan mereka, semua mahasiswa baru mengikuti serangkaian kegiatan yang sudah di susun oleh panitia dengan tertib. Benar kata Alka, kegiatan OSPEK tak seperti yang ada di pikirannya, kegiatannya memang sangat disiplin, tapi tidak ada Senior yang se'enaknya memarahi mereka, atau mungkin ini karena baru hari pertama.
Di sela kegiatan, mereka diberi waktu untuk makan siang, mereka mengisi perut di lapangan yang sama, untunglah konsumsi di sediakan panitia, ditambah cuaca yang mendukung membuat mereka tak kepanasan.
"Ray."
"Hemm."
"Lo dari tadi di liatin senior mulu, nyadar gak sih?" tanya Naira berbisik .
"Masa?"
"Ho'oh."
"Gue kan gak punya salah, masa udah di tandain sih?" ucap Raya berbisik juga.
"Ya gue gak tau, tapi yang liatin cowok loh, Ray, ganteng lagi," sahut Naira semangat.
"Abang tetap yang paling tampan," ujar Raya bangga.
"Alah, bucin lo!"
"Tuh...tuh, dia liatin lo lagi, Ray, liat deh!" ujar Naira kembali.
"KALIAN JANGAN MALAH MENGOBROL, DEK, CEPAT HABISIN MAKANAN NYA!" intrupsi salah satu panitia yang melewati mereka, Raya yang hendak melihat yang di tunjuk Naira, kembali menunduk lagi.
"Mampus," ucap keduanya pelan.
"Tuh kan, kalo di depan pasti kena semprot senior, Nai," ujar Raya setelah panitia tadi meninggalkan mereka.
"Gak papa lah, Ray, anggap aja cuci mulut gratis," jawabnya enteng.
"Dasar!"
"Ray."
Lagi -lagi Naira mengajaknya berbicara, memang paling gak bisa diem nih orang.
"Bisa diem gak sih, Nai? gue gak mau dapet masalah di awal, baru juga ni kaki nginjek kam__"
"KALIAN BERDUA, KEDEPAN!"
"Tuh kan," ucap Raya memelas.
"CEPAT!"