"Ray, gimana dong?" Naira tampaknya ketakutan.
"Tau ah, lo sih cari gara-gara!" Raya mencebik kesal.
"Cepat kedepan! Malah ngobrol lagi kalian."
"Saya, Kak?" tanya Raya dengan polos nya.
"YA SIAPA LAGI KALO BUKAN KAMU SAMA TEMEN KAMU ITU!"
Raya dan Naira saling dorong, mereka sama-sama enggan ke depan, semua pasang mata kini menatap kearah nya, apalagi tatapan para panitia, duh, jangan di tanya lagi bagaimana semengerikan apa tatapan mereka.
Salah sendiri sih, baru masuk sudah bikin masalah.
"Baru mulai OSPEK saja kalian sudah tidak disiplin, Dek, gimana sudah jadi mahasiswa nanti?" ucap panitia laki-laki dengan garang.
Raya dan Naira hanya nenunduk takut, ritme jantung mereka tak karuan, bahkan keringat sudah membanjiri wajahnya, antara takut dan malu pastinya.
"Nama kamu Naira Ardina Wiguna ?"
"Iya, Kak."
"Dan kamu ... Rafifa Aulia Wijaya?"
"Iya."
Panitia itu hanya mengangguk, matanya menelisik mereka dari bawah sampai atas.
"Kenapa kalian malah mengobrol?"
Bukannya menjawab, Naira dan Raya malah saling lirik, mereka bingung harus jawab apa.
Panitia dengan name tag Rizal itu mendengus kesal, tak mengerti dengan tingkah dua mahasiswi baru di depannya ini, untung saja mereka cantik, eh.
"Di tanya tuh jawab, Dek!" sentak Panitia perempuan.
"Naira tadi nanya, Kak, jadi ya saya jawab," jawab Raya polos, yang langsung mendapat injakan di kakinya.
"Aww," pekik Raya kesakitan.
"Sakit tau, Nai, ihh."
"Habisnya kamu jadi anak polos banget."
Panitia disana hanya bisa geleng-geleng kepala, kenapa dua mahasiswi ini tidak ada kapok nya sih?
"Ekhem, apa yang kalian obrolkan?" tanya Rizal kembali.
" Eh, i-itu, Kak, itu__"
"Tadi Raya liat kucing lahiran di jalan, Kak, tapi katanya ditungguin lama anak nya gak keluar-keluar, terus aku tanya, dia bawa ke rumah sakit gak kucingnya? Siapa tau gitu, butuh operasi caecar."
Raya terbelalak mendengar jawaban absurd sahabatnya, benar-benar memalukan, memang nya tidak ada apa, alasan yang lebih manusiawi?
"Alasan yang ... sulit di percaya. Baiklah, karena kalian sudah melanggar peraturan, jadi kalian harus mendapat hukuman," ujar Rizal menyerigai.
Sementara para panitia tengah merundingkan hukuman untuk mereka, Raya dan Naira semakin dibuat was-was.
"Oke baiklah, hukumannya kalian harus gombalin lresma kita," putus panitia dengan enteng nya.
"WHAT?"
"Kenapa? Mau di tambah lagi hukumannya?" tanya salah satu panitia perempuan.
Seorang panitia laki-laki nampak menarik paksa teman nya, seorang laki-laki yang dari tadi hanya menyimak, nampak enggan untuk mengikuti permainan gila temannya, siapa lagi kalau bukan Sang Presma.
Dengan langkah tegap ia melangkah menuju dua Peserta OSPEK yang bermasalah.
Rahang tegasnya menyiratkan kewibawaan yang membuat siapapun segan, memang pantas untuk ukuran seorang presiden mahasiswa.
Semua orang bertepuk tangan, ada rasa iri di hati para wanita, kapan lagi coba bisa dapat kesempatan berdekatan dengan seorang ketua BEM? Ahh, membayangkan wajah tampannya saja, menjadi suatu kebahagiaan untuk mereka.
Tapi lain bagi Raya, baginya gombalan itu hanya untuk kekasih halalnya saja, bukan untuk yang lain!
"Ganteng banget, Ray, presma kita," bisik Naira.
"Gantengan Abang."
"Iya deh, yang udah nikah mah emang beda."
"Gue cocok gak, Ray, sama dia?"
"Enggak."
"Ish, jahat amat sih!"
Naira mengerucutkan bibir nya kesal.
"Aduhh, saya malah pusing sama kalian, Dek, gak di sana, gak di sini, ngobrol terus bisanya."
Tuh kan kena lagi, mereka berdua memang keras kepala, gak nyadar apa di depannya Bapak Presma lagi lihatin?
Mereka hanya cengengesan sambil bilang ma'af, pas tahu presma lagi lihatin, si Naira jadi salting, beda sama Raya yang malah lihatin balik.
"Ayo cepat, siapa dulu yang mau jalanin hukumannya?"
Naira maju terlebih dahulu, belum apa-apa dia sudah senyum-senyum saja, malu-maluin memang.
"Hallo Kak Presma, Kakak tau kan, di atas langit itu masih ada langit."
"Saya tahu," balas Pak Presma datarm
Njirr, dingin banget nih cowok _batin naira
"Iya, Kak, jangan dingin-dingin amat lah, jadi deg-deg'an nih. Oke-oke, nah Kak, di bawah langit itu masih ada aku yang tulus mencintai kamu."
Sorakan dari peserta juga panitia seketika menggema, agak absurd sih, tapi ya lumayan lah.
Ekspresi si target sendiri masih sama aja, datar.
"Kalo menurut Kakak, aku bisa jadi anggota DPR tidak? "
"Bisa saja."
"Menurut aku sih kayaknya engga , gimana mau mikirin rakyat coba, jika tiap hari aja hanya Kakak yang ada di pikiran aku."
Receh.
"Cie...cie...cieeeee."
Raya malah tertawa mendengan gombalan yang di lontarkan sahabatnya, menurut nya itu terlalu alay.
Kini giliran Raya menjalani hukuman yang sama, jujur saja ia masih bingung harus ngegombal apa.
Beberapa menit berlalu dengan kebisuan.
"Kalo boleh tahu ... nama Kakak siapa?"
"Ilham."
"Ah ya, Kak ilham, nama yang indah."
Krik krik krik.
"Emmm, aku itu paling suka senja, tapi aku selalu merasa kehilangan ketika senja itu pergi. Tapi sekarang berbeda, ada hal yang lebih indah dari senja tanpa harus kehilangannya, yaitu ... Kakak."
Ilham a.k.a lresma memalingkan wajahnya, banyak orang yang terbuai oleh rayuan yang Raya lontarkan, andai kalian tahu, Raya sendiri wajahnya sudah sangat merah.
"Jika senja datang hanya untuk sementara, aku berharap Kakak ada untuk selamanya, selamanya menemani kesendirian setelah senja itu tiada," ujar Raya kembali.
Sepulang sekolah, Raya di jemput supir pribadinya yang memang sengaja di siapkan oleh Alka, Alka tidak bisa menjemputnya setiap hari, kalau di tanya, apakah Raya kesepian? Jelas dia kesepian, tapi mau bagaimana lagi, resiko nikah sama dokter kan memang harus siap di tinggal.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
"Eh, Non udah pulang? Mau makan apa, Non? Biar Bibi siapkan," tanya Bi Sumi, ART baru di rumah nya.
"Panggil Raya aja, Bi," ujar Raya tersenyum dan menyalimi Bi Sumi.
Bi Sumi terkejut mendapat perlakuan demikian, majikan nya ternyata sangat ramah, attitude Raya memang tidak di ragukan.
"Iya, Neng Raya, Bibi siapin buat makan dulu yah, Neng."
"Iya, Bi."
Raya menuju kamarnya dan Alka, merebahkan dirinya di ranjang, sekiranya hal itu dapat mengurangi lelah nya.
Pengalaman pertama yang membuatnya merasa benar -benar di permalukan, kenapa nasibnya selalu s**l?
Merayu seorang presma benar-benar tak pernah ada dalam bayangan nya, memang sih, Ilham itu tampan, bahkan sahabatnya yang belum move on dari Dio saja dibuat klepek-klepek, tapi percaya deh, Raya tak tertarik sedikitpun, hati dan jiwanya telah terpaku pada satu nama, siapa lagi kalau bukan Alka.
Melihat laki-laki tampan sudah hal biasa baginya, jadi Raya tidak akan tergoda hanya dengan makhluk tampan lainnya.
"Jadi kangen Abang."
Raya mengeluarkan ponsel nya mencoba menghubungi Alka, panggilan pertama tidak ada jawaban, kedua juga sama, di panggilan ketiga barulah Alka mengangkatnya.
"Assalamu'alaikum, Abang."
Wa'alaikumsalam, Ay, kamu sudah pulang, Ay?
"Udah lah, Abang kapan pulangnya?"
Abang masih ada visit Pasien, Ay, nanti paling jam 8 malam Abang baru pulang.
"Yahh...aku sendiri dong, Bang?"
Sabar yah, Sayang, jangan cemberut gitu dong! Abang kan jadi makin kangen.
"Ya makanya cepetan pulang!"
Iya Ay, secepatnya Abang pulang. Kamu kayak nya capek banget yah? Lusuh gitu mukanya.
"He'em, tau gak, Bang, masa aku di permaluin di depan umum?"
Mode manja nya kumat.
Dipermalukan gimana?
"Naira kan ngajakin ngobrol, eh malah ketahuan sama senior, jadi kita di suruh ke depan."
Itu berarti kamu yang salah.
"Ya engga 100% salah aku lah! terus, masa kita di suruh gombalin presma? Untung ganteng."
Ohh, jadi kau ceritanya mau duain Nbang nih?
"Ish apaan sih, ya engga lah."
Itu, tadi bilang presmanya ganteng.
"Ya kan Abang tetal lebih ganteng."
Awas yah jangan nakal! inget suami di rumah.
"Abang juga, inget istri di rumah, jangan godain yang lain!"
Engga lah, Ay. Kamu tetap satu-satunya di hati abang.
"Uhh, so sweet."
Pokok nya kalo kamu nakal, Abang kurung kamu di kamar seharian.
"Wah, enak dong ."
Dasar!
"Hahaha."
Ay, sudah dulu yah, Abang mau visit. Assalamu'alaikum.
"Iya, Bang. Wa'alaikumsalam."
Raya menyimpan kembali ponsel nya, ia senyum-senyum sendiri sambil guling-guling, persis seperti remaja yang baru kasmaran.
Benar kata kakak nya, kalau pacaran setelah halal itu lebih menyenangkan, tak perlu takut dosa meski melakukan hal intim sekalipun.
"Abang seperti senja, selalu aku nantikan sampai kapan pun. Tak peduli jika nanti Abang membuatku sedih karena harus pergi, aku akan jadi langit yang sama sebagai tempat mu kembali."
Raya menunggu kepulangan Alka di ruang tamu, bagaimana pun juga, ia ingin jadi istri yang baik, menyambut suaminya sepulang kerja adalah hal yang selalu ia impikan sejak dulu.
Menit berganti jam, tapi Alka belum pulang juga, bahkan kini sudah lewat jam 8 malam.
Beberapa kali Raya hubungi, namun tetap saja tidak ada jawaban.
Kemana sebenarnya suaminya?
Apakah ada panggilan darurat di rumah sakit?
Tapi walaupun begitu, setidaknya Alka harus menghubunginya dulu, agar tidak membuatnya khawatir sekaligus kesal seperti saat ini.
Raya masih tetap bertahan, sampai akhirnya ia ketiduran karena malam semakin larut.
Jam 23.00 malam Alka baru pulang, pemandangan pertanama yang ia lihat adalah istrinya yang tengah tertidur di kursi tamu.
Ada rasa bersalah di hati Alka , tapi mau bagaimana lagi, waktunya memang tersita bukan hanya untuk Raya. Rasa lelah yang Alka rasakan sedikit berkurang ketika melihat wajah istri nya, wajah Raya begitu damai dan menenangkan hati nya.
Memang benar, Raya sekarang adalah rumahnya, Raya adalah tempatnya untuk kembali.
Alka tersenyum menghampiri Raya, walaupun Raya tidak akan melihat nya, ia mengelus lembut kepala istrinya penuh kasih, mengecup keningnya lama, memandangi wajah teduh Raya tak pernah membuatnya bosan.
Alka membawanya Raya ke kamar mereka , membaringkan Raya hati-hati seakan Raya adalah barang yang mudah pecah.
"Ma'afkan Abang karena sudah mengecewakan mu, Ay, abang sayang kamu, dan itu akan selalu sama sampai kapan pun."