"Ay, kenapa hemm?"
Alka menghampiri Raya yang tengah membereskan perlengkapan untuk OSPEK hari ini, dari bangun tidur istrinya ini hanya diam, bahkan Alka pun tak di indahkan nya.
Tak kunjung mendapat jawaban, Alka memeluk Raya dari belakang seraya menyimpan dagunya di pundak istrinya.
"Kenapa hemm? Kamu marah yah?"
"Lepas ih!"
Raya berusaha melepaskan dekapan suaminya, tapi Alka malah semakin mengeratkan pelukannya, akhirnya Raya diam saja tanpa menoleh ataupun menjawab pertanyaan suaminya.
"Aya marah sama Abang yah? Abang minta ma'af, Sayang."
"Abang emang salah!" jawab Raya sarkas.
Alka membalikan tubuh Raya menghadapnya, memeluk dan mengecupi pipi nya berulang, walaupun Raya nampak enggan.
"Iya Abang salah, Abang minta ma'af, Sayang."
"Gampang banget bilang maaf? Semalam aku tuh nungguin Abang, aku udah masak tapi bang nya gak pulang-pulang," ucap Raya bergetar.
Bukannya Raya tak mau mengerti dengan pekerjaan suaminya, tapi kelakuan Alka yang bahkan tak menghubunginya membuat ia kecewa.
Raya semalam menunggu Alka tanpa kepastian, tak tahukah ia begitu khawatir?
"Abang juga gak tau semalam bakal ada korban kecelakaan, Ay, sebagai dokter, Abang kan harus selalu siap." Alka mencoba memberi pengertian.
Alka benar- benar harus bersabar menghadapi sifat istrinya, Raya masih labil, sedikit saja keinginannya tak di penuhi, ia akan merajuk seperti ini.
"Tapi aku khawatir, Bang, Abang gak ngerti banget sih! Kenapa coba Abang malah mati'in ponselnya? Hiks hiks, Abang kenapa gak ngabarin aku dulu kalo mau pulang telat?"
"Maafin Abang, Sayang, Abang gak akan ulangi lagi."
Raya membenamkan wajahnya di d**a Alka, entah kenapa setelah menikah Raya semakin cengeng, apalagi mengenai Alka, Raya selalu di buat takut. Raya takut kehilangan Alka , Raya terlalu cinta, sampai-sampai ia selalu berpikir negatif jika alka pulang telat semenit saja.
"Pokok nya Abang harus selalu hungungin aku!"
"Iya, Abang bakal hubungin kamu."
"Udah dong jangan nangis, kan mau ke kampus, nantu matanya bengkak, jadi jelek loh!" gurau Alka.
"Ish, Abang kok hina istri sendiri sih?
Raya mengerucutkan bibir nya tak terima.
"Hahaha, habisnya kamu dari bangun tidur mukannya masam terus, eh sekarang malah nangis, kan jadinya makin jelek."
"Abang!"
"Iya Sayang, kenapa hemmm?"
"Abang mah ah, ngeledek mulu."
Raya menyilangkan tangannya di d**a, ia mengembungkan pipi nya, membuat Alka semakin gemas.
"Abang gak ngeledek kamu, Ay, kamu yang tadi memang jelek, masa suami di diemin? Kalo yang sekarang baru istri cantik Abang, sangat cantik malah."
Alka memeluk pinggang Raya agar mereka lebih dekat, Raya mengalungkan tangannya di leher Alka, mata mereka saling bertatapan.
"Bidadari surganya Alka."
Blush.
Pipi Raya memerah mendengan kalimat yang di ucapkan suaminya, Alka memang romantis, setiap tingkahnya mampu membuat Raya tersipu.
"Cieee pipinya merah, kenapa hemm? Pengen Abang cium yah?"
Cup
Tanpa aba-aba, Alka mengecup bibir Raya, membuat Raya semakin tersipu.
"Mau yang lebih gak, Ay? Mumpung masih pagi."
"Yang lebih? Apa?"
"Itu loh, Ay."
"Itu apa sih?" Raya benar-benar tidak mengerti.
"Ehem-ehem. "
"Maksudnya?"
"Making love," bisik Alka.
Raya menggeplak tangan Alka cukup keras, kenapa suami nya m***m sih?
"Gak mau!"
Raya langsung pergi meninggalkan Alka yang lagi-lagi tertunduk lesu.
Alka menepuk kening nya melihat tingkah istri kecil nya, benar-benar masih kaya bocah.
"Yah, gagal lagi, sabar yah Tong, istri gue masih takut sama lo."
Alka menyusul Raya ke bawah, ternyata Raya tengah duduk manis di meja makan.
Alka tersenyum menghampiri istrinya, lalu duduk di sebelahnya.
"Abang mau apa?" tanya Raya seraya mengambil piring untuk Alka.
"Nasi goreng sama ayam saja."
"Abang mau makan sama ayam? Terus aku sama siapa?" tanya nya polos, entah polos atau blo'on Si Raya ini.
"Maksudnya ayam goreng, Ay, istri abang kok jadi loading sih? Kayaknya Abang harus bawa kamu ke spesialis saraf deh, Ay."
Raya mendelik tajam sambil mengambil sarapan untuk Alka.
"Sekalian aja ke spesialis kejiwa'an."
"Ide bagus tuh, Ay."
"Abang, ihh!"
Alka memperhatikan penampilan Raya, ia agak risih melihat rok Raya yang menurutnya kependekan.
"Ay."
"Ya, Bang?"
"Rok nya gak kependekan, Ay?"
"Engga kok," balas Raya setelah melihat rok nya.
"Tapi menurut abang itu kependekan, Dek."
"5 CM di atas lutut itu masih wajar kok, Bang. Emang kenapa sih? Kemarin juga segini," elak Raya.
"Abang gak mau saja kaki jenjang kamu di liat cowok lain, Ay, kamu kan sekarang istri Abang."
Raya menghembuskan nafasnya perlahan.
"Abang gak perlu cemburu, aku cintanya cuma sama Abang doang kok."
Alka hanya tersenyum samar, bukan ... bukan itu maksud Alka.
Abang gak mau aurat kamu terbuka, Ay, Abang ingin kamu jadi muslimah sesungguhnya, yang bisa menjaga kehormatan mu sendiri_batin Alka.
OSPEK hari ini berjalan lancar walau sangat melelahkan, 100% kegiataan dilalukan di lapangan, mulai dari pengenalan kampus, yang mengharuskan mereka keliling kampus, juga kegiatan-kegiatan lain yang membutuhkan tenaga ekstra, apalagi keadaannya mereka di jemur di tengah terik matahari.
Banyak mahasiswa yang kelelahan, tapi kegiatan harus tetap berjalan, bukan?
"Ray."
"Hemmm."
"Pusing gue, Ray, kapan sih pulangnya?"
"Sama, kepala gue juga kaya mau copot. Coba aja tiba-tiba turun hujan, kan enak," timpal Ray.
"Yaelah, Ray, lagi panas gini mah gak mungkin hujan."
Raya dan Naira kini tengah berteduh di bawah pohon, tapi tetap saja tak membuat mereka adem, panas hari ini bener-bener membuat mereka seperti terpanggang.
Tiba-tiba ada yang menempelkan benda dingin ke pipi Raya, sontak saja Raya terkejut.
Raya menolehkan wajahnya kesamping, matanya berbinar melihat siapa orang itu.
"Kak Dav, kangennnnn."
Ya, Dava lah orang nya, mereka memang masuk universitas yang sama, hanya saja baru bertemu sekarang, bahkan terakhir Raya dan Dava bertemu, itu sebelum Raya pindah ke rumah barunya.
Dava tersenyum hangat melihat adiknya, dia juga merasakan hal yang sama, rasanya rumah jadi sepi setelah Raya pergi.
Raya memeluk Dava erat, begitupun sebaliknya, banyak maba yang iri melihat mereka.
Dava yang hanya memakai kaos lengan pendek dipadukan jeans denim, serta jas almamater yang tergantung di tangannya, membuat siapapun terpesona, apalagi bagi cewek-cewek pencari senior tampan, Dava langsung masuk dalam nominasi mereka.
Mereka yang tak tau, pasti berpikir kedua nya adalah pasangan kekasih, lain hal nya dengan Naira yang malah cekikikan, tapi tak lama ekspresinya berubah setelah melihat Dio ikut bersama Dava.
"Kemarin ke mana aja? kok baru nyamperin aku sekarang sih?"
"Kemarin kelas nya penuh, Ray. Nih minum! Biar seger."
Dava menyerahkan air mineral dingin yang di bawanya.
"Kak Dav, aku kok gak di kasih?" Rajuk Naira.
"Minta aja sama mantan lo, Nai."
"Nih." Dio menyerahkan botol mineral pada Naira, tetapi Naira tidak menerima nya.
"Yaelah, katanya pengen, ambil aja kali, Nai, gak usah malu-malu kaya gitu, kan Si Dio mantan terindah, lo," goda Dava membuat Raya terkikik.
"Kalo Nai gak mau, buat aku aja lah, Kak. *
Raya hendak mengambil botol di tangan Dio. tapi Naira segera mengambil nya cepat, tentu saja Rya dan Dva tertawa puas.
"Udah lah, Yo, lo balikan aja sama Dedek Enay lo, ya gak, Ray?"
"He'em."
"Enak aja, gue udah move on, Kak. Sekarang malah sudah ada gebetan." Naira mendelik Dio tajam.
"Siapa?" tanya Dava.
"Naira suka sama Kakak Presma," jawab Raya.
"Wah, lo suka sama Bang Ilham, Nai? Duh kejauhan, Nai, udahlah lo sama Dio aja," sahut Dava tertawa jahat.
"Ih, Kak Dav, jahat banget sih!" .
Dava dan Dio ikut duduk bersama mereka, Dava terlihat sedang menghapus keringat di pelipis adiknya.
"Cape banget yah, Ray?"
"Iya."
"Sudah makan belum?"
"Udah, tadi kan di kasih sama Panitia."
"Oh, syukurlah."
"Kak, kemarin aku sama Naira di suruh kedepan sama panitia, malu banget sumpah!" adu Raya pada Dava.
"Kenapa? kok bisa?"
"Itu tuh, Naira ngajakin ngobrol mulu." Raya melirik Naira yang tengah ngobrol dengan Dio.
"Ya itu sih salah kalian sendiri, baru juga masuk sudah berulah, kan jadi santapan panitia."
"Ish, emangnya makanan," delik Raya tajam.
Dava melihat jam tangannya sekilas.
"Bentar lagi Kakak ada kelas, pulangnya nanti mau bareng gak?" tanya Dava.
"Engga, Kak, OSPEK nya masih lama, kasian nanti Kakak nunggu nya lama."
Dava dan Dio akhirnya kembali lagi Fakultas nya, Raya dan Naira pun kembali ke lapangan karena waktu istirahat sudah habis.
Kegiatan OSPEK hari ini baru selesai jam lima sore, Raya kini di jempul Alka. Sekarang mereka sudah ada di dalam mobil, Raya bersandar sambil memejamkan matanya, ia merasa pusing.
Alka menempelkan telapak tangan nya di kening Raya, kemudian memijat kening istri nya lembut, terasa lebih hangat memang .
"Pusing, Ay?" tanya Alka memastikan.
"Cape aja kok, Bang, hari ini panas banget cuacanya."
"Kamu tidur aja, Ay, biar agak mendingan."
Raya hanya mengangguk sebagai jawaban, sepanjang perjalanan, Raya hanya tertidur, sampai di rumah pun Raya masih tertidur, akhirnya Alka menggendong Raya dan menidurkan istrinya di ranjang.