Aula Besar Akademi adalah ruangan yang membuat Sekar lupa cara bernapas. Langit-langitnya begitu tinggi hingga awan sungguhan mengambang di bawahnya, dan dari awan itu sesekali turun titik-titik cahaya seperti bintang jatuh yang lembut. Ribuan lilin melayang tanpa pegangan. Di dinding tergantung lukisan-lukisan penyihir agung yang—Sekar bersumpah ia melihatnya—sesekali menggerakkan kepala mengikuti murid yang lewat.
Di depan aula, di atas mimbar batu, berdiri seorang lelaki tua berjanggut perak panjang. Tubuhnya bungkuk, tapi sorot matanya tajam menembus. Jubahnya kelabu bersulam benang emas yang membentuk pola rasi bintang.
"Aku Rektor Wirakusuma," suaranya bergema lembut tapi penuh wibawa. "Selamat datang di Akademi Mantra Kelabu. Di sini, kalian akan belajar bahwa sihir bukan tentang kekuatan. Sihir adalah tentang harga. Setiap mantra menuntut bayaran. Dan tugas kalian adalah belajar membayar dengan bijak."
Ia menyapu pandangan ke seluruh murid baru. Saat matanya berhenti sejenak di Sekar, Sekar merasa ada yang menusuk dadanya, lalu menghilang.
"Kalian akan dibagi ke menara-menara asrama," lanjut Rektor. "Patuhi gurumu. Hormati Akademi. Dan satu peraturan di atas semua peraturan—" suaranya mengeras, "—jangan pernah keluar dari asrama setelah lonceng tengah malam berdentang. Apa pun yang kalian dengar. Apa pun yang kalian lihat. Ini bukan saran. Ini hukum."
Bisik-bisik gelisah menyebar. Maya menyikut Sekar pelan. "Selalu ada peraturan begitu di sekolah sihir," bisiknya, mencoba terdengar berani. "Pasti cuma supaya kita tidur tepat waktu."
Tapi Sekar memperhatikan wajah para guru yang berbaris di belakang Rektor. Tak ada satu pun yang tersenyum saat peraturan itu disebut.
Sekar dan Maya, beruntungnya, dimasukkan ke menara yang sama—Menara Ketiga, asrama murid tahun pertama. Mereka bahkan sekamar, sebuah ruangan bundar di lantai tujuh dengan dua dipan, dua meja belajar, dan jendela melengkung yang menghadap lautan kabut.
"Kita teman sekamar!" Maya melompat ke dipannya, tertawa. "Aku tahu kita bakal cocok dari awal. Kau dan aku, Sekar—si gadis air dan si gadis kelabu misterius."
Sekar tertawa untuk pertama kalinya sejak meninggalkan rumah. "Aku bukan misterius. Aku cuma bingung."
"Itu yang bikin menarik." Maya berguling, menatap langit-langit. "Tahu nggak, di Aula tadi, semua orang ngomongin kamu. Cahaya kelabu. Nggak ada di buku mana pun. Kakakku pernah sekolah di sini, dia cerita warna cahaya nentuin bakat sihir kita. Merah itu Api, biru Air, hijau Tanah, emas Cahaya. Tapi kelabu...." Maya mengangkat bahu. "Nggak ada yang tahu kelabu itu apa."
Malam pertama, Sekar terbangun karena haus. Ia bangkit untuk mengambil air, dan tanpa sengaja melirik jendela. Bulan tergantung tinggi. Lonceng tengah malam belum berdentang.
Lalu ia melihatnya.
Di jembatan melengkung yang menghubungkan Menara Ketiga dengan menara di seberang, seorang murid berjalan sendirian—seorang gadis berambut panjang, berjubah tidur, melangkah pelan seperti dalam mimpi. Sekar hendak memanggil, tapi sesuatu menahannya.
Di belakang gadis itu, kabut bergerak. Bukan tertiup angin—bergerak dengan sengaja, mengikuti, merayap naik membungkus kakinya, lalu pinggangnya, lalu seluruh tubuhnya. Gadis itu tak melawan. Tak berteriak. Ia hanya terus melangkah hingga kabut menelannya bulat-bulat.
Dan kemudian jembatan itu kosong.
Sekar mengusap matanya, jantungnya berpacu. Apakah ia bermimpi? Ia menatap jembatan lama-lama, tapi tak ada apa-apa di sana. Hanya kabut dan lentera biru yang berkedip.
Esok paginya, di meja sarapan, ada satu kursi kosong di antara murid tahun kedua. Tak ada yang membicarakannya. Tak ada yang bertanya. Ketika Sekar memberanikan diri menyenggol seorang murid senior dan bertanya "Siapa yang biasa duduk di situ?", murid itu menatapnya dengan mata kosong dan berkata pelan,
"Di situ tidak pernah ada siapa-siapa."