Ruang Kelas Mantra Dasar berada di puncak Menara Kelima, sebuah ruangan melingkar yang dindingnya dipenuhi simbol-simbol bercahaya yang terus berubah bentuk. Di tengah ruangan berdiri sebuah meja batu, dan di belakangnya, seorang guru yang membuat seluruh kelas terdiam begitu ia masuk.
Namanya Guru Hanindya. Ia masih muda untuk seorang guru—mungkin tiga puluhan—dengan wajah tenang yang menyiratkan kecerdasan, dan senyum yang hangat tanpa dibuat-buat. Jubahnya kelabu seperti yang lain, tapi caranya membawa diri membuatnya tampak berbeda: tidak angkuh, tidak menakutkan, melainkan seperti seseorang yang benar-benar peduli.
"Selamat datang," katanya, dan suaranya membuat seluruh kelas rileks. "Aku tahu kalian gugup. Sihir itu menakutkan kalau tidak dimengerti. Jadi mari kita mulai dengan memahami, bukan menghafal."
Ia mengangkat tangan, dan di telapaknya tumbuh setangkai bunga dari cahaya. "Ini mantra paling sederhana—Wujud. Menciptakan sesuatu dari niat. Tapi perhatikan—" bunga itu layu dan menghilang, "—setiap ciptaan menuntut bayaran. Bunga ini kuciptakan dari sedikit kehangatan tubuhku. Itu sebabnya tanganku sekarang dingin. Sihir selalu mengambil sesuatu. Jangan pernah lupa itu."
Sekar mendengarkan dengan terpesona. Inilah guru yang ia harapkan—yang menjelaskan, bukan menggurui; yang membuat sihir terasa masuk akal alih-alih ajaib semata.
"Sekarang, kalian coba," kata Guru Hanindya. "Pejamkan mata. Bayangkan sesuatu yang sederhana—setitik cahaya. Lalu beri ia bayaran: secuil napas kalian. Hembuskan niat itu."
Satu per satu murid mencoba. Beberapa berhasil menciptakan kerlip kecil. Maya membuat setetes air mengambang di udara dan berseru bangga. Tapi saat giliran Sekar, sesuatu yang aneh terjadi.
Ia memejamkan mata, membayangkan setitik cahaya, menghembuskan napas. Tapi yang muncul bukan cahaya. Yang muncul adalah kabut—segenggam kabut kelabu yang berputar di atas telapaknya, dingin dan hidup, dan untuk sesaat Sekar bersumpah ia mendengar bisikan dari dalamnya. Bisikan yang menyebut namanya.
Kelas tersentak. Maya menahan napas.
Guru Hanindya melangkah cepat ke meja Sekar. Wajahnya tetap tenang, tapi matanya berubah—ada sesuatu yang menyala di sana, ketertarikan yang dalam, hampir seperti lapar.
"Menarik," gumamnya, menatap kabut di tangan Sekar. Ia mengulurkan tangan, dan kabut itu meredup, kembali ke ketiadaan. "Kau Sekar, ya? Yang menyalakan gerbang kelabu kemarin."
Sekar mengangguk gugup. "Maaf, Guru. Aku tidak tahu kenapa jadi kabut. Aku tidak sengaja—"
"Jangan minta maaf untuk berbakat," potong Guru Hanindya lembut, dan senyumnya kembali. "Kau tidak melakukan kesalahan. Kau hanya... berbeda. Datanglah ke ruanganku selepas kelas. Aku ingin membantumu memahami bakatmu. Bakat sepertimu tak boleh disia-siakan."
Sepanjang hari, Sekar tak bisa berhenti memikirkan kata-kata itu. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, seseorang menyebutnya berbakat. Seseorang yang pintar, yang dihormati, yang baik. Ia merasa seperti akhirnya menemukan tempat.
Selepas kelas, ia menemui Guru Hanindya di ruangannya—sebuah perpustakaan kecil penuh buku tua dan benda-benda aneh. Guru itu menyuguhinya teh hangat dan bertanya banyak hal: tentang keluarganya, tentang desanya, tentang apa yang ia rasakan saat kabut muncul.
"Kabut itu," kata Guru Hanindya, menatap keluar jendela, "adalah sihir paling langka di Aswanta. Sihir Kelabu. Sihir antara—antara hidup dan mati, antara ada dan tiada. Sangat sedikit yang terlahir dengannya. Dan mereka yang terlahir dengannya..." ia berhenti, lalu tersenyum lagi. "...ditakdirkan untuk hal-hal besar."
Sekar pulang ke asramanya malam itu dengan hati melayang. Ia menceritakan semuanya pada Maya.
Tapi Maya tidak ikut senang. Ia duduk di tepi dipan, memeluk lutut, wajahnya gelisah.
"Sekar," katanya pelan. "Kakakku pernah bilang sesuatu sebelum aku berangkat. Katanya, di Akademi, hati-hati dengan guru yang terlalu cepat menyukaimu. Karena di tempat ini, perhatian itu... kadang bukan berkah."
Sekar mengernyit. "Maya, Guru Hanindya baik. Dia cuma mau membantu."
"Mungkin." Maya tersenyum tipis, tapi matanya tetap khawatir. "Aku cuma... punya firasat. Kau ingat gadis yang menghilang dari meja sarapan tadi pagi? Yang katanya 'tidak pernah ada'?"
Sekar terdiam.
"Dia murid Sihir Kelabu juga," bisik Maya. "Aku menyelinap baca catatan asrama tadi siang. Namanya Anjani. Dan dia... menghilang persis seperti yang lain. Setiap tahun, Sekar. Satu murid. Selalu."