Perpustakaan Agung Akademi menempati seluruh Menara Keenam, dengan rak-rak buku yang menjulang begitu tinggi hingga tangga spiralnya harus berputar berkali-kali untuk mencapai puncak. Buku-buku di sana hidup dengan caranya sendiri: ada yang berdengung, ada yang sesekali membalik halamannya sendiri, ada yang terkurung dalam sangkar besi dan menggeram bila didekati.
Sekar dan Maya datang ke sana dua hari kemudian, di sela jam belajar, mencari satu hal: catatan tentang murid-murid yang menghilang.
"Kita harus tahu," kata Maya, suaranya berbisik di antara rak. "Kalau benar setiap tahun ada yang hilang, pasti ada polanya. Pasti ada catatannya."
Penjaga perpustakaan, seorang kakek bernama Eyang Sastro yang punggungnya bungkuk dan kacamatanya setebal dasar botol, mengawasi mereka dari mejanya. Saat Sekar bertanya tentang daftar murid lama, ekspresinya tak berubah, tapi ia berkata pelan, "Daftar murid ada di lantai dua, lorong barat. Tapi anak-anak..." ia menurunkan kacamatanya, menatap mereka tajam, "...beberapa lorong di perpustakaan ini lebih baik tidak dimasuki. Lorong yang bukunya bersampul kelabu, misalnya. Camkan itu."
Tentu saja, justru lorong itulah yang menarik perhatian Sekar.
Mereka menemukan daftar murid—gulungan-gulungan tebal yang mencatat setiap murid yang pernah masuk Akademi. Maya membukanya, jarinya menyusuri nama-nama, dan wajahnya makin pucat tiap baris.
"Lihat," bisiknya. "Anjani Larasati, tahun ini. Sebelumnya, tahun lalu, Wisnu Pradipta. Dan jauh sebelum mereka, nama-nama lain—Renjana, Galuh, dan puluhan lagi." Ia menelan ludah. "Sekar, semuanya ditandai dengan tinta kelabu. Dan di sebelah nama mereka cuma ada satu kata: 'Dipanggil'."
"Dipanggil ke mana?" tanya Sekar.
Maya menggeleng. "Nggak ada keterangan. Tapi lihat ini—" jarinya berhenti di catatan kecil di pinggir gulungan, tulisan tangan yang berbeda, tergesa-gesa. "'Semua yang Dipanggil adalah murid Sihir Kelabu. Mereka tidak hilang. Mereka diberikan.'"
Sekar merinding. "Diberikan pada siapa?"
Saat itulah ia melihatnya. Di ujung lorong, di balik rak terlarang bersampul kelabu, satu buku menyala redup—memancarkan cahaya keperakan yang sama persis dengan cahaya gerbang yang dulu ia nyalakan. Buku itu seolah memanggilnya.
Tanpa sadar, kakinya melangkah ke sana. Maya mencengkeram lengannya. "Sekar, jangan! Kata Eyang Sastro—"
Tapi tangan Sekar sudah menyentuh buku itu. Sampulnya dingin seperti kabut. Begitu ia menariknya dari rak, seluruh perpustakaan bergetar. Lampu-lampu meredup. Dan buku itu terbuka sendiri di tangannya, halaman demi halaman berputar hingga berhenti di satu halaman.
Di sana, tertulis dengan tinta kelabu yang masih basah:
"Akademi Mantra Kelabu berdiri di atas Sumur Kabut—gerbang menuju Alam Antara. Sumur itu harus diberi makan, atau ia akan menelan seluruh negeri. Setiap tahun, satu jiwa berdarah kelabu dipersembahkan untuk menutup mulutnya. Tanpa persembahan, kabut akan bangkit, dan Aswanta akan lenyap."
Sekar menjatuhkan buku itu. Tangannya gemetar.
"Sihir Kelabu," bisiknya. "Anjani. Mereka semua... dikorbankan. Untuk memberi makan sumur itu."
Maya menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Dan kau," katanya nyaris tak terdengar, "kau juga murid Sihir Kelabu. Sekar—mereka memilihmu untuk—"
"Apa yang kalian lakukan di sini?"
Suara itu memotong udara seperti pisau. Sekar dan Maya berputar.
Di mulut lorong, berdiri Guru Hanindya. Wajahnya masih tenang seperti biasa. Senyumnya masih ada. Tapi matanya tertuju pada buku yang tergeletak di lantai, dan untuk sekejap—hanya sekejap—Sekar melihat sesuatu yang dingin melintas di balik tatapan ramah itu.
"Buku itu," kata Guru Hanindya pelan, melangkah masuk, "tidak boleh dibaca oleh murid."