"Guru Hanindya," Sekar tergagap, mencoba mengatur napas. "Kami cuma... mencari bahan untuk tugas. Kami tersesat."
Guru Hanindya berhenti beberapa langkah dari mereka. Ia memungut buku kelabu yang tergeletak, menatapnya sejenak, lalu menutupnya dengan lembut, seolah menidurkan bayi. Senyumnya tak pernah hilang.
"Tersesat," ulangnya, nadanya ramah. "Tentu. Perpustakaan ini memang membingungkan." Ia mengangkat buku itu. "Tapi buku ini bukan untuk murid, Sekar. Bukan karena kalian dilarang tahu—melainkan karena kalian belum siap untuk mengerti. Beberapa kebenaran terlalu berat untuk pundak yang masih muda."
Maya menarik lengan Sekar, hendak mundur. Tapi Sekar tetap berdiri di tempat. Sesuatu dalam dirinya—mungkin keberanian, mungkin kenekatan—menolak untuk takut.
"Apa yang terjadi pada Anjani, Guru?" tanyanya. Suaranya gemetar, tapi tegas. "Pada Wisnu? Renjana? Semua murid Sihir Kelabu yang menghilang?"
Untuk pertama kalinya, senyum Guru Hanindya goyah. Hanya sekejap. Lalu ia menghela napas panjang, dan duduk di kursi baca terdekat, gesturnya santai, seperti seorang paman yang hendak bercerita.
"Duduklah," katanya. "Kalian sudah membaca buku itu. Tak ada gunanya aku berbohong. Kalian berhak tahu kebenaran—setidaknya sebagian."
Sekar dan Maya tak bergerak.
"Baiklah, berdiri pun tak apa." Ia melipat tangan. "Ya, Sumur Kabut itu nyata. Ya, ia harus diberi makan. Aswanta dibangun di atas retakan menuju Alam Antara—dunia di mana yang hidup dan yang mati bercampur. Tanpa penjagaan, kabut dari sana akan tumpah dan menelan semua. Bukan cuma Akademi. Seluruh negeri. Jutaan orang."
"Jadi kalian membunuh murid," kata Sekar tajam. "Anak-anak. Untuk menutup lubang itu."
"Kami tidak membunuh." Suara Guru Hanindya tetap lembut, dan justru kelembutan itu yang membuat Sekar merinding. "Kami mempersembahkan. Murid berdarah kelabu adalah satu-satunya yang bisa bertahan menyeberang ke Alam Antara dan menutup sumur dari dalam. Mereka tidak mati, Sekar. Mereka menjadi penjaga. Pahlawan. Tanpa mereka, kau, aku, orang tuamu di desa—semua sudah lama lenyap."
Sekar terdiam. Ada logika dingin dalam kata-kata itu, logika yang membuatnya bimbang. Bukankah satu nyawa demi jutaan adalah pengorbanan yang mulia? Bukankah Guru Hanindya selama ini baik padanya?
Lalu ia teringat wajah Anjani di jembatan—melangkah dalam keadaan tak sadar, ditelan kabut tanpa bisa melawan. Itu bukan kesukarelaan. Itu penculikan yang dibungkus kata indah.
"Mereka tidak memilih," bisik Sekar. "Anjani tidak memilih. Kabut mengambilnya saat ia tidur. Aku melihatnya."
Mata Guru Hanindya menyipit. Suasana berubah. "Kau melihatnya," ulangnya pelan. "Malam itu. Di luar asrama setelah lonceng tengah malam." Ia berdiri perlahan. "Sekar, kau melanggar peraturan utama Akademi. Itu... membuat segalanya jadi rumit."
Maya menarik Sekar mundur dengan keras. "Kami akan kembali ke kelas, Guru. Kami tidak akan cerita ke siapa-siapa. Sumpah."
Guru Hanindya menatap mereka lama. Lalu, perlahan, senyum hangatnya kembali—dan kali ini senyum itu lebih menakutkan daripada kemarahan mana pun.
"Tentu," katanya. "Kembalilah ke kelas. Lupakan buku ini. Lupakan Anjani. Anggap saja kalian tidak pernah ke lorong ini." Ia berbalik, lalu menambahkan tanpa menoleh, "Tapi Sekar—ingatlah satu hal. Darah kelabu di tubuhmu adalah anugerah, bukan kutukan. Suatu hari, kau akan mengerti betapa istimewanya dirimu. Dan saat hari itu tiba, kuharap kau memilih dengan bijak."
Mereka berlari keluar perpustakaan, melewati Eyang Sastro yang menatap mereka dengan ekspresi tak terbaca.
Di tangga menara, Maya akhirnya berhenti, terengah. "Sekar, dia tahu kau yang berikutnya. 'Kau akan mengerti betapa istimewanya dirimu'—itu bukan pujian. Itu ancaman."
Sekar bersandar ke dinding batu, jantungnya berdebar. Kekaguman yang selama ini ia rasakan pada Guru Hanindya retak, dan dari celahnya merembes ketakutan yang dingin. Kata-kata ayahnya kembali bergema: kekaguman bisa jadi racun paling manis.
"Kita harus tahu lebih banyak," kata Sekar akhirnya, suaranya bergetar tapi mantap. "Kapan persembahan berikutnya. Bagaimana cara menghentikannya. Dan kenapa harus aku."