Selama beberapa hari berikutnya, Sekar dan Maya hidup dalam waswas. Setiap kali Guru Hanindya tersenyum padanya di kelas, Sekar membalas dengan senyum yang dipaksakan, sementara di dalam dadanya rasa takut menggumpal. Ia mulai memperhatikan hal-hal yang dulu tak ia sadari: bagaimana para guru saling bertukar pandang saat membahas "tradisi tahunan", bagaimana lonceng tengah malam selalu disusul kesunyian yang terlalu pekat, bagaimana setiap murid Sihir Kelabu—dan ternyata cuma ada beberapa di seluruh Akademi—selalu diawasi diam-diam.
"Aku menemukan sesuatu," bisik Maya suatu malam, menyusup ke dipan Sekar dengan gulungan curian di tangannya. "Catatan jadwal upacara. Persembahan selalu dilakukan di malam Purnama Kabut—saat kabut paling tebal. Dan tahun ini..." ia menelan ludah, "...purnama itu sudah dekat sekali. Beberapa malam lagi."
Beberapa malam lagi. Sekar memeluk lututnya. "Dan korbannya?"
Maya tak menjawab. Ia tak perlu. Mereka berdua tahu.
Sejak malam itu, Sekar mulai mendengar bisikan. Awalnya samar, hanya saat ia hampir tertidur—suara-suara lembut yang menyebut namanya, datang dari arah dasar Akademi, dari tempat yang dalam dan gelap. Sumur Kabut. Ia tak pernah melihatnya, tapi ia tahu suara itu berasal dari sana.
"Sekar," bisik suara-suara itu. "Sekar berdarah kelabu. Datanglah. Kau milik kami. Kau bagian dari kami."
Suatu malam, bisikan itu begitu kuat hingga Sekar terbangun dan mendapati dirinya sudah berdiri di pintu kamar, tangannya di gagang pintu, tubuhnya bergerak sendiri menuju jembatan—persis seperti Anjani. Maya terbangun tepat waktu, menerjang, dan menariknya kembali.
"Sekar! Bangun! Kau berjalan dalam tidur!"
Sekar tersentak sadar, keringat dingin membasahi punggungnya. "Suara itu," ia tergagap. "Ia memanggilku. Maya, ia menarikku. Aku tidak bisa melawan kalau tidur. Itu yang terjadi pada Anjani. Sumur itu memanggil mereka, lalu kabut mengambil mereka."
Mereka mengikat pergelangan tangan Sekar ke tiang dipan dengan kain setiap malam setelah itu. Tapi keduanya tahu, ikatan kain takkan cukup saat Purnama Kabut tiba.
Mereka butuh sekutu. Mereka butuh tahu siapa yang bisa dipercaya.
Esoknya, dengan nekat, Sekar mendatangi Eyang Sastro di perpustakaan saat sepi. Ia menatap kakek tua itu lurus. "Eyang tahu, kan? Tentang Sumur. Tentang persembahan. Eyang sudah lama di sini."
Eyang Sastro lama tak menjawab. Tangannya berhenti menyusun buku. Lalu, dengan suara serak, ia berkata, "Aku sudah empat puluh tahun di Akademi ini, Nak. Empat puluh kali aku melihat anak Dipanggil. Aku menulis nama mereka di gulungan dengan tinta kelabu. Setiap kali, aku berkata pada diriku, ini demi kebaikan. Demi negeri. Tapi..." suaranya pecah, "...aku tua sekarang. Dan aku tahu, anak yang dipaksa mati untuk dosa orang lain bukanlah pahlawan. Ia korban."
"Bantu kami," pinta Sekar. "Tolong. Apa ada cara menutup Sumur tanpa pengorbanan?"
Eyang Sastro menatap sekeliling, memastikan tak ada yang mendengar. Lalu ia menarik Sekar ke sudut tergelap perpustakaan dan berbisik:
"Ada satu legenda. Bahwa Sumur Kabut bisa ditutup selamanya—bukan dengan satu nyawa, melainkan dengan satu hal yang lebih langka. Tapi catatan itu disembunyikan oleh para Rektor turun-temurun, karena... karena kalau benar, berarti semua pengorbanan selama ratusan tahun ini sia-sia. Dan tak ada penyihir agung yang sanggup mengakui itu."
"Di mana catatannya?" desak Sekar.
"Di Ruang Bawah Tanah Rektor. Di balik lukisan pendiri Akademi." Eyang Sastro mencengkeram tangan Sekar. "Tapi dengar, Nak—orang yang paling tahu rahasia Sumur, orang yang memimpin setiap upacara persembahan, orang yang merawat Sumur itu seperti anaknya sendiri... bukan Rektor Wirakusuma."
Sekar merasa darahnya membeku. "Siapa?"
Eyang Sastro menatapnya dengan mata penuh iba.
"Penjaga Sumur Kabut. Guru yang paling kau percaya. Guru Hanindya."