Kebenaran itu menghantam Sekar seperti gelombang dingin. Guru Hanindya—yang menyebutnya berbakat, yang menyuguhinya teh, yang membuatnya merasa istimewa untuk pertama kalinya—adalah Penjaga Sumur. Tangan yang sama yang mengangkat bunga cahaya di kelas adalah tangan yang mengantar Anjani dan puluhan anak lain ke kematian.
"Aku bodoh," gumam Sekar di kamar, malam itu. "Aku mengaguminya. Aku merasa beruntung dia memperhatikanku. Padahal sejak awal, dia cuma melihatku sebagai... persembahan berikutnya."
Maya duduk di sampingnya, menggenggam tangannya. "Kau tidak bodoh. Kau cuma butuh seseorang yang percaya padamu. Itu manusiawi. Dia memanfaatkan itu—itu yang jahat, bukan kau."
Sekar mengusap matanya, lalu menegakkan punggung. Air mata tak akan menyelamatkan siapa pun. "Kita harus masuk ke Ruang Bawah Tanah Rektor. Malam ini. Sebelum Purnama Kabut. Kita cari cara menutup Sumur tanpa pengorbanan."
"Itu di lantai paling bawah Menara Utama," kata Maya. "Dijaga. Dan kita harus keluar asrama setelah lonceng tengah malam—pelanggaran terbesar."
"Aku sudah dengar bisikan Sumur tiap malam," kata Sekar pelan. "Aku ini sudah ditandai mati, Maya. Apa lagi yang bisa kuhilangkan?"
Maya menggenggam tangannya lebih erat. "Kita. Kita lakukan bersama."
Tengah malam, setelah lonceng berdentang dan kesunyian pekat turun, mereka menyelinap keluar. Sekar menemukan, anehnya, bahwa darah kelabunya berguna: kabut yang biasanya menghalangi murid lain justru menyibak saat ia melewatinya, seolah mengenalinya sebagai bagian dari dirinya. Ia menuntun Maya melewati lorong-lorong yang diselimuti kabut, tak terlihat oleh para penjaga.
Mereka menuruni tangga Menara Utama, makin dalam, makin gelap, hingga udara terasa lembap dan dingin seperti gua. Di dasar, sebuah pintu besi berukir menghadang. Sekar menyentuhnya, dan dari ujung jarinya merembes kabut kelabu yang merayap ke lubang kunci. Pintu itu terbuka dengan derit panjang.
Di dalam, ruangan itu penuh lukisan tua—para Rektor terdahulu, berbaris menatap turun dengan mata yang seakan hidup. Di dinding terjauh tergantung lukisan terbesar: seorang lelaki berjubah kelabu, pendiri Akademi, dengan tulisan di bawahnya: "Eyang Brata Kelana, Penjaga Pertama."
Sekar mendorong lukisan itu. Di baliknya, seperti kata Eyang Sastro, ada ceruk rahasia—sebuah persembunyian yang justru dipilih karena tak seorang pun berani mengusik wajah sang pendiri. Di dalamnya tersimpan sebuah gulungan kuno yang segelnya berdebu ratusan tahun.
Tangan Sekar gemetar saat membukanya. Tinta di dalamnya pudar, tapi masih terbaca. Tulisan tangan itu tergesa, penuh sesal, dan di bawahnya tertera satu nama: Nawang Wulan, Penjaga Kedua.
"Aku menulis ini karena guruku berbohong, dan aku terlalu lama diam. Sumur Kabut tidak menuntut darah. Itu dusta yang diciptakan Eyang Brata Kelana, Penjaga Pertama, untuk menjaga kekuasaannya. Sumur hanya bisa ditutup oleh seorang berdarah kelabu yang masuk dengan SUKARELA dan KESADARAN PENUH—bukan dipaksa, bukan tertidur. Jiwa yang dipaksa hanya memberi makan Sumur sementara, membuatnya lapar lagi tiap tahun. Tapi jiwa yang masuk dengan kehendak bebas dapat menutupnya selamanya—dan KELUAR HIDUP, karena Sumur menghormati kehendak yang merdeka. Aku sembunyikan kebenaran ini di balik wajah pendusta itu sendiri, sebab di sanalah ia tak akan pernah mencarinya. Siapa pun yang membaca ini: pengorbanan paksa lebih mudah dikendalikan daripada keberanian yang merdeka. Jangan biarkan mereka memaksamu. Pilihlah sendiri."
Sekar membaca ulang, jantungnya berdebar kencang. "Maya—dengar ini. Mereka berbohong. Korban-korban itu mati sia-sia karena mereka dipaksa. Sumur tak pernah butuh kematian. Ia butuh... keberanian. Kehendak bebas."
Maya mengernyit, ngeri. "Artinya—kalau ada yang masuk dengan sukarela dan sadar penuh, ia bisa menutup Sumur selamanya dan keluar hidup? Tak akan ada korban lagi?"
"Selamanya," bisik Sekar. "Tak ada lagi anak yang harus mati tiap tahun. Anjani, Wisnu, semuanya—mereka mati karena rahasia ini disembunyikan."
Lalu, dari balik pintu besi yang masih terbuka, terdengar suara tepuk tangan pelan. Tunggal. Bergema.
Sekar membeku.
"Bagus sekali," kata Guru Hanindya, melangkah masuk dari kegelapan, senyum hangatnya bersinar di cahaya kabut. "Kalian menemukan gulungan tua Nawang Wulan—Penjaga Kedua, pengkhianat lemah hati. Garis Penjaga sudah memburu tulisan terkutuk ini selama tiga ratus tahun, dan dia menyembunyikannya di tempat yang bahkan tak pernah terpikir oleh kami. Sungguh murid yang berbakat, kalian, bisa menemukannya." Matanya berkilat. "Sayang sekali, Sekar. Sekarang aku harus memastikan kalian tidak pernah keluar dari ruangan ini."