Pintu besi menutup sendiri di belakang Guru Hanindya dengan dentang berat yang menggema. Cahaya lentera kabut berkedip, dan untuk pertama kalinya, Sekar melihat wajah guru itu tanpa topeng kelembutannya. Senyumnya masih ada—tapi kini terlihat jelas betapa dinginnya senyum itu, betapa kosongnya.
"Kau tahu kebenarannya," kata Sekar, suaranya bergetar tapi tak surut. "Kau tahu Sumur tak butuh kematian. Tapi kau tetap mengorbankan mereka. Anjani. Semua anak itu. Kenapa?"
Guru Hanindya berjalan pelan mengelilingi ruangan, jemarinya menyusuri bingkai lukisan para Rektor. "Karena, Sekar sayang, kebenaran itu merepotkan." Suaranya tetap lembut, hampir mendidik, seperti di kelas. "Bayangkan kalau semua orang tahu Sumur bisa ditutup selamanya. Lalu Akademi tak lagi perlu menjaga rahasia, tak lagi perlu kekuasaan, tak lagi perlu... aku. Selama Sumur lapar, selama persembahan dibutuhkan, Penjaga Sumur adalah orang terpenting di Aswanta. Lebih penting dari Rektor. Lebih penting dari Raja."
"Jadi ini soal kuasa," desis Maya. "Kau biarkan anak-anak mati supaya kau tetap berkuasa."
"Aku menjaga keseimbangan," koreksi Guru Hanindya tajam, dan untuk sesaat kemarahan menyala di matanya sebelum ia menenangkan diri lagi. "Tiga ratus tahun, garis Penjaga menjaga negeri ini aman. Satu nyawa setahun adalah harga kecil untuk ketertiban. Eyang Brata Kelana mengerti itu. Aku mengerti itu. Suatu hari, Sekar, mungkin kau pun akan mengerti."
"Tidak akan pernah." Sekar mencengkeram gulungan kuno itu erat. "Anjani punya nama. Punya keluarga. Punya hidup. Kau menjadikannya umpan untuk dusta."
Guru Hanindya berhenti. Ia menatap Sekar lama, dan ada sesuatu yang hampir menyerupai penyesalan di wajahnya—lalu lenyap. "Kau tahu kenapa aku memilihmu sejak hari pertama? Cahaya kelabumu yang paling terang dalam tiga abad. Darahmu paling murni. Kau akan menjadi persembahan paling sempurna pada Purnama Kabut nanti. Sumur akan kenyang bertahun-tahun. Mungkin satu dekade. Pengorbananmu akan luar biasa berharga."
"Aku tak akan menyerah begitu saja."
"Kau tak punya pilihan." Guru Hanindya mengangkat tangan, dan kabut di ruangan itu mulai bergerak, merayap ke arah kaki Sekar, dingin dan lapar. "Bisikan Sumur sudah ada dalam darahmu. Pada Purnama Kabut, kau akan berjalan ke sana sendiri, dalam tidurmu, seperti yang lain. Aku bahkan tak perlu menyeretmu. Itu keindahan darah kelabu—ia rindu pulang."
Sekar merasa kabut itu mulai membelit pergelangannya, dan suara-suara dari Sumur kembali berbisik di kepalanya, manis dan memabukkan. Lututnya melemah. Maya berteriak memanggilnya, tapi suara itu terdengar jauh.
Datanglah, bisik Sumur. Kau milik kami.
Tapi kemudian Sekar teringat gulungan di tangannya. Kehendak bebas. Sumur menghormati kehendak yang merdeka. Kabut menariknya hanya karena ia membiarkannya. Karena ia takut. Karena selama ini ia merasa kecil, tak berarti, gadis biasa tanpa garis darah.
Ia memejamkan mata. Aku bukan korban. Aku memilih sendiri kapan dan bagaimana aku melangkah.
Dan ia menolak.
Kabut yang membelit pergelangannya tersentak, lalu—untuk pertama kalinya—tunduk. Alih-alih menariknya, kabut itu berputar mengelilinginya seperti pelindung, mengikuti kehendaknya. Sekar membuka mata, dan kedua tangannya kini berselubung kabut kelabu yang bercahaya, patuh pada perintahnya.
Guru Hanindya mundur selangkah, untuk pertama kalinya terkejut. "Tidak mungkin. Tak ada murid yang bisa menguasai kabut secepat itu—"
"Karena tak ada murid sebelumku yang tahu rahasianya," kata Sekar, suaranya kini mantap. "Mereka semua takut. Mereka dipaksa. Tapi aku memilih. Dan kabut menghormati pilihan."
Ia mengayunkan tangan, dan dinding kabut menerjang Guru Hanindya, melemparkannya ke pintu besi. Guru itu terjatuh, tudungnya tersingkap, wajahnya tak lagi tenang.
"Maya, lari!" seru Sekar. "Kita harus beri tahu semua orang sebelum Purnama Kabut!"
Mereka berdua menerobos pintu yang terbuka oleh kabut Sekar, berlari menaiki tangga gelap. Di belakang mereka, suara Guru Hanindya bergema, kini tanpa kelembutan sama sekali, dingin dan penuh murka:
"Lari sejauh apa pun, Sekar! Pada Purnama Kabut, Sumur akan memanggilmu, dan kau akan datang! Darah kelabu selalu pulang!"