Mereka berlari hingga napas tercekat, menerobos lorong demi lorong, hingga akhirnya tiba di tangga Menara Ketiga dan menghempaskan diri ke kamar mereka, mengunci pintu—seolah kayu dan besi bisa menahan seorang Penjaga Sumur.
"Dia akan mengejar kita," Maya terengah, punggungnya menempel di pintu. "Sekar, dia guru. Penjaga Sumur. Siapa yang akan percaya pada kita? Dua murid tahun pertama yang menuduh guru paling dihormati?"
Sekar berdiri di tengah kamar, dadanya naik turun, tapi pikirannya berputar cepat. Gulungan kuno itu masih tergenggam di tangannya. Bukti. "Kita punya ini," katanya. "Pengakuan Nawang Wulan, Penjaga Kedua—orang yang menjaga Sumur tepat setelah sang pendiri. Dia membongkar dusta gurunya sendiri dan menyembunyikannya di balik lukisan si pendusta. Ini membuktikan persembahan paksa itu dusta. Kalau kita bisa menunjukkannya ke Rektor Wirakusuma—ke seluruh Akademi—"
"Kalau Rektor juga bagian dari rahasia ini?"
Sekar terdiam. Itu kemungkinan yang menakutkan. Tapi ia teringat sesuatu—cara Rektor Wirakusuma menatapnya di Aula Besar pada hari pertama, tatapan yang berbeda dari para guru lain. Mungkin Rektor tahu sebagian, tapi tak sepenuhnya. Mungkin Rektor pun korban dari dusta yang diwariskan turun-temurun.
"Kita harus ambil risiko," kata Sekar. "Eyang Sastro berpihak pada kita. Dia saksi empat puluh tahun. Dengan gulungan ini dan kesaksiannya, kita punya peluang."
Maya mengangguk, meski wajahnya masih ketakutan. Lalu ia memandang Sekar dengan tatapan baru—tatapan yang bercampur cemas dan kagum. "Kabut tadi. Yang kau kendalikan. Kau bukan gadis biasa, Sekar. Kau tak pernah jadi gadis biasa."
Sekar menatap kedua tangannya. Sisa kabut kelabu masih menari samar di sela jarinya, patuh, hidup. Untuk pertama kalinya, ia tak takut pada darah kelabunya. Itu bukan kutukan yang menyeretnya ke kematian. Itu kekuatan—kekuatan yang, kalau ia memilih dengan sadar, bisa menutup Sumur selamanya dan menyelamatkan setiap anak berdarah kelabu yang akan datang.
"Maya," katanya pelan. "Aku sudah memikirkan sesuatu. Gulungan itu bilang Sumur bisa ditutup selamanya oleh seseorang berdarah kelabu yang masuk dengan sukarela dan sadar penuh—dan ia keluar hidup. Itu... mungkin aku. Aku bisa mengakhiri ini. Bukan dengan mati, tapi dengan memilih masuk dengan mataku terbuka."
Mata Maya membelalak. "Sekar, jangan. Itu terlalu berbahaya. Bagaimana kalau gulungan itu salah? Bagaimana kalau kau—"
Tok. Tok. Tok.
Ketukan di pintu menghentikan mereka. Pelan, sopan, sabar. Lalu suara itu terdengar—lembut, hangat, persis seperti hari pertama di kelas, suara yang dulu membuat Sekar merasa istimewa dan kini membuat darahnya membeku.
"Sekar," panggil Guru Hanindya dari balik pintu. "Maya. Buka pintunya. Mari kita bicara baik-baik. Tak perlu ada yang terluka."
Maya menutup mulutnya, gemetar. Sekar mengisyaratkan diam.
"Aku tahu kalian di dalam," lanjut suara itu, tetap tenang. "Kalian tahu, tiga hari lagi Purnama Kabut tiba. Aku bisa menunggu. Sumur bisa menunggu. Tapi kuharap kalian berpikir jernih sampai saat itu. Lawan aku, dan kalian berdua yang menghilang. Tapi serahkan dirimu dengan tenang, Sekar, dan Maya boleh hidup. Pikirkan itu."
Langkah kaki menjauh perlahan, lalu lenyap.
Hening panjang. Maya merosot ke lantai, menangis tanpa suara. Sekar berdiri mematung, gulungan di satu tangan, kabut kelabu di tangan lain. Ancaman itu masih bergaung di telinganya: serahkan dirimu, dan Maya boleh hidup. Bukan hanya nyawanya sendiri yang kini tergantung pada Purnama Kabut—tapi nyawa sahabat sekamarnya, satu-satunya orang yang berdiri di sisinya sejak hari pertama. Anjani sudah diambil. Sekar bersumpah dalam diam: Maya tidak akan menyusul.
Tiga hari. Tiga hari hingga Purnama Kabut. Tiga hari untuk membuktikan kebenaran pada seluruh Akademi, atau untuk dijemput kematian yang dibungkus senyuman.
Sekar berjalan ke jendela. Di luar, lautan kabut bergulung di bawah cahaya bulan yang mulai membulat. Di kejauhan, jauh di dasar Akademi, ia bisa merasakannya kini—denyut pelan Sumur Kabut, memanggil, menunggu, lapar.
Ia mengepalkan tangan, dan kabut di sela jarinya menyala terang.
"Tiga hari," bisiknya pada dirinya sendiri, pada Maya, pada para korban yang namanya ditulis dengan tinta kelabu. "Tiga hari untuk mengubah segalanya. Dan kali ini, bukan Sumur yang memilih. Aku yang memilih."
Di luar jendela, bulan terus membulat, dan kabut kelabu mulai naik dari laut—lebih tebal dari biasanya, lebih lapar dari biasanya, seakan dunia itu sendiri menahan napas, menunggu untuk melihat siapa yang akan menang.