Mbah Sumirah pulang dari rumah sakit pada hari kedua belas, diangkut dengan tandu bambu menaiki tangga rumah panggung, dibawa oleh Bujang dan dua tetangga, sementara Sekar berjalan di belakang memegangi selang infus yang sudah dilepas dan tas berisi obat-obatan yang harganya membuat tabungannya menyusut lagi.
Perempuan tua yang mereka baringkan di amben dekat jendela bukan lagi perempuan yang sama dengan yang Sekar tinggalkan empat tahun lalu, bahkan bukan yang sama dengan yang ia temui saat pulang. Stroke kedua telah mengambil bicaranya. Mulut Mbah Sumirah kini perot sebelah, dan ketika ia mencoba bersuara, yang keluar hanya geraman pelan yang tak berbentuk kata, yang membuat matanya sendiri berkaca-kaca karena frustrasi. Tangan kanannya, yang dulu mencengkeram tangan Sekar dengan kekuatan penenun, kini hanya bisa bergerak lemah, jari-jari yang gemetar.
Yang tersisa adalah matanya. Mata Mbah Sumirah masih hidup, masih tajam di balik wajah yang melayu, dan Sekar segera belajar membaca bahasa baru itu—bahasa tanpa kata, hanya gerak mata, kerlingan, arah pandang, dan sesekali ketukan lemah jari kanan di kain selimut.
Pada malam-malam pertama, Sekar duduk di samping amben dan berbicara untuk mereka berdua. Ia menceritakan semuanya, karena ia tak tahu seberapa banyak neneknya mengerti, dan ia memilih percaya neneknya mengerti semua. Ia bercerita tentang Koh Bandi, tentang separuh utang yang sudah dibayar, tentang kain yang ia jual murah—dan saat ia mengakui bagian itu, mata Mbah Sumirah menutup sebentar, lama, seperti orang yang menelan sesuatu yang pahit, lalu membuka lagi tanpa amarah, hanya kesedihan yang menerima.
Ia bercerita tentang Bagas. Tentang kontrak. Tentang pena yang menyentuh kertas, dan tentang tangannya yang berhenti. Saat ia menceritakan bahwa ia tidak menandatangani, mata Mbah Sumirah berubah. Sesuatu menyala di sana, terang, dan jari kanan yang lemah itu bergerak, mencari, sampai menyentuh punggung tangan Sekar dan menekannya—pelan, hampir tak terasa, tapi Sekar merasakannya seperti seluruh kekuatan yang dulu ada di cengkeraman itu, dipadatkan ke dalam satu sentuhan ringan yang berkata: bagus, Nduk. Kamu jaga janjimu.
Tapi ada malam lain, malam yang membuat Sekar mengerti betapa berat warisan yang kini ia pikul sendiri.
Ia sedang melatih dirinya mengingat tujuh nama gunung, menyebutnya pelan di samping amben sebelum tidur, takut lupa. "Gunung Wungkal," bisiknya, "Sela Putih..." Ia berhenti pada yang ketiga. Ia tahu Mbah Sumirah pernah menyebutnya, malam saat ia menggelar kain di pangkuan neneknya, tapi malam itu begitu penuh, begitu banyak nama, dan kini yang ketiga menggantung di ujung ingatannya, tak mau turun.
"Mbah," katanya pelan, menoleh ke amben, "gunung ketiga... saya lupa. Apa namanya?"
Mata Mbah Sumirah membesar. Ia membuka mulut, dan geraman itu keluar—berusaha, berusaha keras membentuk kata, bibir perotnya bergerak-gerak, tapi yang lahir hanya bunyi yang tak berbentuk, suku kata yang patah. Tangan kanannya terangkat, gemetar, mencoba menggambar di udara, di kain selimut, garis-garis yang tak terbaca. Dan air mata mengalir dari sudut matanya, turun ke pelipis yang keriput—air mata seorang perempuan yang menyimpan tujuh nama selama lebih dari enam puluh tahun, yang kini tahu salah satunya tergelincir dari ingatan cucunya dan ia, sang pemegang, tak lagi punya mulut untuk menyelamatkannya.
Sekar memeluk neneknya, menahan tangisnya sendiri, dan dalam pelukan itu ia merasakan beban yang sebenarnya—bukan utang, bukan rumah sakit, bukan tenggat. Beban yang sesungguhnya adalah ini: tujuh nama gunung yang dulu hidup di tiga kepala, kini tinggal di dua kepala tua dan satu kepalanya sendiri yang sudah mulai bocor. Bu Ngatiyem hafal. Bu Lastri hafal. Tapi keduanya sudah lewat enam puluh, dan kalau sesuatu terjadi pada mereka seperti yang terjadi pada Mbah Sumirah, tujuh gunung itu akan bergantung sepenuhnya pada satu kepala dua puluh enam tahun yang baru saja melupakan yang ketiga.
Keesokan harinya, sebelum subuh, Sekar turun ke kolong tempat Bu Ngatiyem sudah menyiapkan tarum. Ia tidak datang untuk dagang kali ini. Ia datang sebagai murid.
"Bu," katanya, "gunung ketiga. Saya lupa namanya. Tolong ajari saya. Ketujuhnya. Dari awal. Dan jangan berhenti sampai saya hafal mati, sampai kalau Bu sama Bu Lastri pergi, masih ada satu kepala yang nggak akan lupa."
Bu Ngatiyem menatapnya lama, busa biru tarum berkilau di antara mereka. Kekecewaan lelah yang ada di matanya sejak hari obral masih ada di sana, tapi di belakangnya kini ada sesuatu yang lain—pengakuan, mungkin, bahwa cucu Sumirah yang berbau kota ini akhirnya datang bukan untuk menjual, melainkan untuk menggendong.
"Gunung ketiga namanya Watu Gentong," kata Bu Ngatiyem akhirnya, dan suaranya pelan, hampir seperti doa. "Tempat leluhur kita nemu air pertama. Garisnya nomor tiga dari kiri, agak melengkung di puncaknya, kayak bibir kendi." Ia mengambil sebatang benang yang sudah diikat motifnya, menyodorkannya ke tangan Sekar. "Pegang. Rasain ikatannya. Nama nggak cukup di kepala, Nduk. Tujuh gunung itu hidup di tangan, bukan cuma di mulut. Kamu mau jadi yang nggak akan lupa? Belajar dari tangan. Tangan nggak bohong, tangan nggak lupa kayak mulut."
Di pagi yang dingin itu, dengan jari yang mulai membiru lagi oleh tarum, Sekar membuat janji baru—bukan kepada neneknya yang kini bicara dengan mata, bukan dengan suara, melainkan kepada dirinya sendiri, sunyi dan tanpa saksi. Ia tak akan memilih antara membunuh kampung atau membiarkannya mati. Itu dua pilihan yang ditawarkan dunia padanya, dan ia menolak keduanya. Pasti ada pilihan ketiga. Ia belum tahu bentuknya. Tapi ia tahu, kini dengan tubuhnya sendiri, persis apa yang akan hilang kalau ia menyerah pada dua pilihan pertama—dan pengetahuan itu, berat seperti tujuh gunung, menjadi alasannya untuk tetap mencari.