Sekar menghabiskan tiga hari merumuskan gagasannya menjadi sesuatu yang bisa ia jelaskan tanpa terdengar seperti orang yang putus asa mengarang harapan. Ia menulis, mencoret, menulis lagi, di buku butiknya, sampai kasar gagasan itu mengeras menjadi bentuk.
Edisi terbatas. Itu intinya. Kampung tak akan pernah bisa membuat ribuan meter, jadi berhenti berpura-pura bisa, dan jadikan kelangkaan itu sebagai janji, bukan permintaan maaf. Setiap kain tujuh gunung yang keluar dari kampung akan diberi nomor—satu dari dua belas, satu dari dua puluh—jumlah yang sengaja dibatasi, bukan karena kampung tak mampu lebih, tapi karena kampung memang tak akan membuat lebih. Setiap kain akan datang dengan kartu: nama penenun yang membuatnya, tanggal mulai dan selesai, nama gunung yang dominan di motifnya, dan keterangan singkat bahwa warnanya dari tarum dan mengkudu, tujuh celup, dikerjakan tangan di lereng.
Yang ia jual bukan lagi kain. Yang ia jual adalah satu helai dari sesuatu yang hampir punah, ditandatangani oleh tangan yang membuatnya, dengan bukti tertulis bahwa di seluruh dunia tak ada yang persis sama.
Ia mengujinya pertama kali pada Bujang, karena Bujang adalah ukuran realitasnya—kalau Bujang yang skeptis bisa melihat masuk akalnya, mungkin orang lain juga bisa.
"Jadi," kata Bujang setelah Sekar menjelaskan, mengernyit, "kain yang sama yang kemarin kamu jual sembilan puluh ribu ke Bu Tini, sekarang kamu mau jual mahal—berapa?"
"Bukan kain yang sama, Jang. Itu bedanya." Sekar mengeluarkan satu kain tujuh gunung dari yang tersisa, menggelarnya. "Yang aku jual ke Bu Tini itu kain motif sederhana, yang kita anggap stok biasa. Yang ini"—ia menyentuh tujuh garis di kain—"ini motif penuh, tujuh celup, dikerjakan Bu Lastri tiga minggu. Aku mau jual ini delapan ratus ribu. Mungkin sejuta."
Bujang tertawa pendek, tapi tidak mengejek, lebih seperti orang yang tak yakin apakah ia sedang mendengar kebodohan atau keberanian. "Sejuta. Buat kain yang kemarin nggak laku dua ratus lima puluh."
"Karena kemarin aku jual ke orang yang salah, dengan cara yang salah," kata Sekar. "Aku bawa ke Pak Tarno, yang jual per kodi. Ke Mbak Vira, yang cari tren. Ke Bu Tini, yang cari oleh-oleh. Semuanya orang yang ngukur kain dari murahnya atau trennya. Aku nggak akan jual ke mereka lagi. Aku akan cari orang yang justru mau bayar mahal karena ini langka, karena ada tangan dan cerita di baliknya. Orang yang udah bosan barang massal. Aku ngelayani mereka empat tahun di butik, Jang. Mereka ada. Mereka punya uang. Mereka cuma nggak pernah ketemu kain ini, karena kain ini selalu dijual ke pasar yang salah."
Bujang diam, dan Sekar bisa melihat keraguannya tak hilang, tapi juga tak menutup. "Anggap kamu bener," katanya akhirnya. "Anggap ada orang yang mau bayar sejuta. Bu Ngatiyem gimana? Kamu lupa rapat kemarin? Kamu mau ubah-ubah lagi, dia bakal—"
"Itu yang paling penting," potong Sekar, dan inilah yang membuatnya yakin gagasan ini berbeda dari semua yang sebelumnya. "Aku nggak ubah motifnya, Jang. Sama sekali. Tujuh gunung tetap tujuh gunung, tetap rapat, warnanya tetap tujuh celup. Aku nggak nyentuh kainnya sama sekali. Yang aku tambahin cuma di luar kain—nomor, kartu, cerita. Bu Ngatiyem nggak bisa nolak yang nggak ngubah motif."
Malam itu Sekar membawa gagasannya ke kolong, ke Bu Ngatiyem yang sedang membereskan benang. Ia tidak menggelar gambar motif baru kali ini. Ia tidak meminta merenggangkan garis atau memudakan warna. Ia hanya menjelaskan: kain tetap seperti yang Bu Ngatiyem buat, tak tersentuh, tapi dijual dengan kartu yang mencantumkan nama penenunnya, ceritanya, dan dijual mahal justru karena lambat dan tak seragam.
Bu Ngatiyem mendengarkan tanpa memotong, yang sudah merupakan sesuatu. Ketika Sekar selesai, perempuan tua itu diam lama, jarinya memilin ujung benang.
"Jadi kamu nggak mau aku ubah apa-apa," katanya akhirnya, perlahan, seakan menguji kalimat itu di lidahnya.
"Nggak ada, Bu. Satu garis pun nggak. Tujuh celup tetap tujuh. Kalau Bu bikin yang sama persis kayak yang Bu bikin seumur hidup, itu yang aku mau jual."
"Kenapa orang mau bayar mahal buat yang lama nggak ada yang mau?"
Sekar berlutut di samping bangku rendah Bu Ngatiyem, menatapnya. "Karena selama ini kita jual kain ini ke orang yang nggak ngerti apa yang mereka pegang, Bu. Mereka cuma lihat kain. Aku mau jual ke orang yang ngerti—atau yang aku ajarin ngerti—bahwa yang mereka pegang itu tiga minggu kerja tangan Bu Lastri, tujuh celup tarum, motif yang umurnya tujuh generasi. Kartunya yang ngajarin mereka. Nama Bu di kartu itu yang bikin kain ini punya tangan, bukan barang anonim."
Bu Ngatiyem mengangkat wajah, dan untuk pertama kalinya sejak hari obral, ada sesuatu di matanya yang bukan kekecewaan. Bukan persetujuan penuh—Sekar tahu perempuan ini tak akan pernah memberikan persetujuan penuh dengan mudah—tapi sesuatu yang lebih berharga: ketiadaan penolakan. Ruang. Celah.
"Nama penenun di kartu," gumam Bu Ngatiyem. "Selama ini kain kami keluar dari kampung tanpa nama. Orang beli, dipakai, dibuang, dan nggak ada yang pernah tahu tangan siapa yang bikin." Ia menatap tangannya sendiri, yang biru samar dan keriput. "Mungkin... mungkin itu salah satu sebab kenapa kain kami murah. Karena dia keluar tanpa nama, kayak nggak ada yang ngaku bikin."
Ia tak berkata ya. Ia hanya berkata, "Coba dulu satu. Kalau kamu ubah motifnya barang seujung kuku, aku berhenti."
Dan itu, bagi Sekar, adalah kemenangan terbesar sejak pulang. Untuk pertama kalinya, tradisi dan pasar tidak berdiri berhadap-hadapan di dua sisi jurang. Untuk pertama kalinya, ada satu gagasan di mana keduanya bisa berdiri di sisi yang sama—penjaga pakem tak perlu mengorbankan satu garis, dan pasar tetap punya sesuatu untuk dibeli. Bukan jembatan yang dibangun dengan merobohkan satu sisi. Jembatan yang dibangun tanpa menyentuh kedua tepinya sama sekali. Sekar naik ke rumah malam itu dan menuliskan, di buku butiknya, kartu pertama: Penenun—Lastri. Motif—Lungsin Tujuh Gunung, gunung dominan Watu Gentong. Lama pengerjaan—tiga minggu. Edisi—satu dari satu. Karena hanya akan pernah ada satu.