Majalah itu datang lewat Bagas, dikirim dalam amplop tebal dengan catatan tangan singkat: "Halaman 44. Saya kira kampung harus lihat ini lebih dulu sebelum dunia mode meributkannya. Selamat. — B." Sekar membukanya di balai, dikerumuni Warni, Yanti, Nimas, dan beberapa penenun muda yang penasaran. Majalah mode internasional, tebal dan licin, halaman-halamannya penuh foto kain dari berbagai negeri, dan di halaman 44, di antara tekstil dari tanah-tanah jauh yang namanya bahkan asing di lidah mereka, ada foto kain tujuh gunung.
Fotonya besar, memenuhi dua halaman. Kain itu tergantung di latar polos, biru tarum yang dalam dengan tujuh garis cokelat mengkudu, tepinya yang hidup terlihat jelas dalam cahaya yang sengaja dibuat menyamping supaya tekstur tenunnya tertangkap. Dan di bawahnya, dalam huruf kecil yang rapi, tertulis nama yang membuat Warni menutup mulut dengan tangan: nama penenunnya. Bukan nama kampung saja, bukan nama Sekar, bukan nama merek. Nama perempuan yang mengikat dan menenun kain itu, tercetak di majalah yang dibaca orang-orang mode di kota-kota yang Warni hanya tahu dari peta.
"Itu... itu kain yang aku kerjain bulan kemarin, Mbak," kata Warni, suaranya nyaris tak keluar. "Yang celupnya tujuh kali, yang aku ulang ikatnya dua kali karena kurang rapat. Itu... itu namaku?"
"Itu namamu, Warni," kata Sekar pelan.
Warni menatap fotonya sendiri—bukan wajahnya, tapi kainnya, kainnya yang bernama dengan namanya—dan ia menangis tanpa suara, tangan birunya menutup mulut, bahunya berguncang. Penenun-penenun muda lain memeluknya, dan untuk beberapa saat balai itu penuh tawa dan tangis yang campur aduk, suara yang lebih ramai dari derit ATBM mana pun.
Sekar membaca tulisan di majalah itu sendiri, menerjemahkan dalam kepalanya. Tulisan itu memuji tujuh gunung bukan sebagai barang etnik eksotis, bukan sebagai kerajinan murah dari negeri jauh, melainkan sebagai tekstil bermartabat—dikerjakan tangan, diwarnai dengan akar, dengan motif yang punya makna dan sejarah, dan—ini yang membuat Sekar berhenti membaca dan menatap dinding sejenak—dengan nama penenun yang selalu menyertainya, sebagai bentuk penghormatan pada tangan manusia yang membuatnya. Penulisnya menyebut model itu sebagai "cara baru menghargai kain lama": bukan menjadikannya cetakan massal yang murah, melainkan menjaganya tetap langka, tetap bertangan, tetap bernama.
Sekar duduk di dingklik, majalah di pangkuannya, dan ia teringat Bagas. Bukan Bagas yang sekarang, mitra yang jujur, tapi Bagas dua tahun lalu, di kantornya yang dingin, dengan map biru dan tawaran lisensi. Ia ingat betul kalimat Bagas waktu itu, kalimat yang diucapkan dengan tulus, dengan keyakinan seorang yang benar-benar mengira sedang menyelamatkan: "Bayangin, Mbak. Motif kampung kamu dicetak di kain pabrik, dijual di mana-mana, dipakai orang dari Sabang sampai Merauke, bahkan sampai luar negeri. Tujuh gunung dikenal di seluruh dunia. Bukannya itu yang kamu mau? Kampung kamu jadi terkenal, motifnya nggak mati, malah dikenal di mana-mana."
Sekar dulu menolak mimpi itu, karena harganya adalah mesin yang menghapus tangan, dan eksklusivitas yang melarang kampung menenun motifnya sendiri. Ia menolak "dikenal di mana-mana" karena yang ditawarkan adalah dikenal sebagai cetakan, sebagai pola tanpa pembuat, sebagai motif yang terlepas dari tangan yang melahirkannya.
Dan kini, di halaman 44 majalah ini, mimpi Bagas itu terwujud—tujuh gunung dikenal di lingkar mode internasional, dibicarakan di kota-kota jauh. Tapi terwujud dengan cara yang sama sekali berbeda dari yang Bagas tawarkan. Bukan lewat mesin, tapi lewat tangan. Bukan tanpa asal, tapi dengan akar yang justru ditonjolkan. Bukan sebagai pola anonim yang dicetak jutaan meter, tapi sebagai kain langka yang tiap helainya membawa nama perempuan yang menenunnya. Tujuh gunung mendunia—tapi tetap menjadi milik kampung, tetap dikerjakan tangan, tetap punya jiwa.
Ia menyadari sesuatu yang membuatnya tersenyum sendiri. Bagas dulu mengira jalan ketiga itu mustahil—mengira satu-satunya cara motif kampung bisa dikenal luas adalah dengan menyerahkannya ke mesin. Ia mengira keaslian dan kelangkaan adalah penghalang yang harus dibuang demi jangkauan. Tapi ternyata sebaliknya: justru keaslian dan kelangkaan itulah yang membuat tujuh gunung diperhatikan dunia. Kalau kampung dulu menerima tawaran Bagas, tujuh gunung mungkin memang akan ada di mana-mana—murah, di pasar grosir, di kain pabrik—tapi tak akan ada di halaman 44 majalah ini, karena yang dipuji di sini justru hal-hal yang akan dihapus oleh mesin: tangan, kelangkaan, nama, cerita.
"Mbak," kata Yanti, memecah lamunannya. "Ini artinya apa? Kita... terkenal di luar negeri?"
Sekar menutup majalah itu pelan. "Artinya," katanya, memilih kata-katanya hati-hati karena ia tahu pelajaran soal sukses yang membawa beban, "orang di mana-mana sekarang tau tujuh gunung itu ada, dan tau itu dikerjakan tangan kalian. Itu bagus. Tapi ini juga artinya pesanan bakal banyak, dan kita bakal digoda lagi buat bikin cepat dan banyak. Kita nggak boleh kebawa. Yang bikin kita masuk majalah ini bukan karena kita banyak. Justru karena kita sedikit, lambat, dan bener-bener tangan. Kalau kita mulai cepat-cepatan biar banyak, kita malah jadi yang bikin diri kita sendiri nggak istimewa lagi."
Ia memandang Warni, yang masih memeluk majalah dengan namanya di dalamnya. "Yang kita rayain hari ini bukan kita terkenal," kata Sekar lembut. "Yang kita rayain adalah nama Warni dibaca orang yang nggak pernah ketemu Warni, dan mereka tau ada perempuan di lereng gunung yang ngikat kain ini dengan tangannya. Itu yang nggak bisa dibeli pabrik berapa pun. Tujuh gunung mendunia, tapi mendunia sambil tetap bawa nama kita. Itu bedanya. Itu yang kita perjuangin dari awal."