Pagi itu Sekar bangun lebih awal dari biasanya, sebelum derit pertama terdengar di kampung, dan ia turun ke kolong rumah neneknya tempat ATBM tua Mbah Sumirah masih berdiri. ATBM itu sudah ia perbaiki sendiri berbulan-bulan lalu, mengganti tali yang putus, mengganjal kaki yang goyah, meminyaki kayunya yang kering. Ia duduk di bangku penenun, di tempat neneknya dulu duduk selama puluhan tahun, dan untuk beberapa saat ia hanya meletakkan tangannya di atas kayu yang halus oleh sentuhan tujuh generasi, merasakan dinginnya subuh yang perlahan menghangat.
Ia mulai mengikat. Bukan motif sederhana untuk pemula, melainkan tujuh gunung penuh—tujuh garis untuk tujuh gunung leluhur, kerapatan yang menuntut tangan yang tahu persis kapan benang cukup tegang dan kapan ikatan harus diperketat. Tangannya bergerak tanpa ia harus memikirkannya lagi. Itulah yang membuatnya berhenti sejenak, jari-jari menggenggam benang lungsin di udara: tangannya bergerak sendiri sekarang. Tangan yang dulu lupa.
Ia teringat dirinya yang pulang ke kampung ini lebih dari dua tahun lalu—Sekar Ayuningtyas, dua puluh enam tahun, empat tahun kerja di butik kota sebagai penjaga dan penjahit. Penjahit. Ia memikirkan kata itu dengan jarak yang baru. Di butik itu, ia menjahit kain yang dibuat orang lain, di pabrik yang ia tak pernah lihat, dengan tangan yang ia tak pernah kenal. Ia memotong, menyatukan, mengelim, menjual—tapi tak pernah ada tangan di balik kain yang ia jahit. Kain itu datang dalam gulungan dari pabrik, identik, tanpa nama, tanpa cerita, tanpa pembuat. Ia dulu adalah perempuan yang bekerja dengan kain tanpa tangan di baliknya, dan ia bahkan tak menyadari betapa kosongnya itu sampai ia pulang dan menemukan kampung yang isinya kebalikannya—kain yang seluruhnya adalah tangan, tak ada satu helai pun yang tak disentuh manusia dari benang sampai jadi.
Ia menarik benang, merapatkan ikatan, dan ingatannya berputar lebih jauh, ke hari-hari pertama ia kembali belajar mengikat. Tangannya waktu itu canggung, malu pada dirinya sendiri. Ia ingat duduk di samping Bu Ngatiyem tiap subuh, jari-jarinya yang sudah terbiasa memegang gunting butik dan mesin jahit listrik kini harus belajar lagi merasakan benang, mengikat ulang motif yang dulu diajarkan neneknya semasa ia kecil dan ia tinggalkan demi kota. Ia ingat betapa lambat tangannya, betapa sering ia harus membongkar ikatan yang salah, betapa Bu Ngatiyem mengawasinya dengan tatapan yang awalnya penuh keraguan—cucu Sumirah yang ketularan kota, yang tangannya sudah dirusak mesin, mana mungkin bisa memimpin kebangkitan tenun.
Dan kini tangannya tahu. Tahu tanpa ia harus berpikir. Tujuh gunung mengalir dari jari-jarinya seperti bahasa ibu yang sempat terlupa lalu kembali, kata demi kata, sampai akhirnya bisa diucapkan dalam tidur.
Derit pertama kampung mulai terdengar dari kejauhan—Bu Lastri, atau mungkin Warni. Lalu derit kedua, ketiga, dan kampung perlahan terbangun ke dalam suaranya. Sekar terus mengikat, dan ia membiarkan dirinya, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, merenungi seluruh perjalanan tanpa terburu-buru.
Ia pulang sebagai orang yang terbelah. Itu yang paling jelas ia ingat tentang dirinya yang dulu: terbelah antara dua bahasa, dua dunia, dua loyalitas. Ia fasih bahasa lungsin-pakan para penenun tua, tapi juga fasih bahasa harga-tren-pasar mode. Ia hormat pada pakem, tapi gatal ingin mengubahnya agar kampung tak mati. Ia mencintai tangan neneknya, tapi matanya sudah dilatih kota untuk melihat kain sebagai komoditas. Dan ketakutan terdalamnya—yang ia akui sendiri di hari-hari paling sepi—adalah bahwa menyelamatkan kampung akan berarti mengubahnya menjadi sesuatu yang tak lagi dikenali Mbah Sumirah. Bahwa ia harus memilih: menjadi penenun atau menjadi pedagang. Menjaga jiwa atau menjaga hidup. Akar atau pasar.
Ia berhenti mengikat, memandang motif tujuh gunung yang mulai terbentuk di benang lungsin, dan ia menyadari bahwa ketakutan itu kini terasa seperti ketakutan orang lain, orang asing yang pernah ia kenal. Karena ia tidak memilih. Ia tidak menjadi penenun saja, dan tidak menjadi pedagang saja. Ia menjadi keduanya—tangan yang mengikat tujuh gunung tiap subuh, dan kepala yang menghitung harga dan pasar tiap siang. Ia tidak lagi terbelah antara dua dunia. Ia menjadi jembatan di antara keduanya, tempat dua bahasa bertemu tanpa salah satu harus mengalah.
Dan itulah, ia paham sekarang, yang membuat kampung ini bisa naik kelas tanpa kehilangan akarnya: bukan karena ada keajaiban pasar, bukan karena ada penyelamat dari luar, tapi karena ada seseorang yang cukup utuh untuk berbicara dua bahasa sekaligus, yang bisa menjelaskan makna tujuh garis pada pembeli asing dan menjelaskan logika pasar premium pada Bu Ngatiyem, yang bisa duduk di kolong mengikat benang dan duduk di balai menghitung untung—dan tak merasa keduanya bertentangan.
Ia teringat neneknya, dan untuk sesaat matanya panas. Mbah Sumirah pergi sebelum melihat tujuh gunung berdiri penuh di panggung dunia mode. Itu luka yang tak akan pernah benar-benar sembuh, dan Sekar sudah berhenti berpura-pura bisa sembuh. Tapi ia juga tahu, dengan keyakinan yang menenangkan, bahwa neneknya pergi setelah melihat hal yang paling neneknya takutkan tidak terjadi: tujuh gunung tidak hilang. Cucunya tidak lupa. Tangan yang dulu pergi ke kota kembali dan belajar lagi, dan kini bisa mengikat tujuh gunung dalam tidur.
"Aku ingat, Mbah," katanya pelan, pada kolong yang sepi, pada ATBM tua yang halus oleh tujuh generasi tangan. "Aku nggak lupa. Tanganku ingat."
Ia mulai menenun. Pemukul pakan dirapatkan ke tepi kain, dan ATBM tua itu mengeluarkan deritnya sendiri—derit yang menyatu dengan derit-derit kampung yang lain, satu suara di antara puluhan, satu tangan di antara banyak tangan. Dan Sekar, mengikat dan menenun di kolong rumah neneknya pada subuh yang menghangat, untuk pertama kalinya sejak ia pulang tidak merasa terbelah, tidak merasa harus memilih, tidak merasa takut. Ia hanya merasa, dengan sederhana dan utuh, sudah pulang.