Langit di kota Tokyo sudah terlihat gelap sejak pukul tiga sore. Awan kelabu tebal menggantung rendah, seolah menahan beban air yang siap meledak kapan saja. Benar saja, tak lama kemudian rintik hujan turun perlahan, lalu berubah menjadi guyuran deras yang membasahi seluruh jalan raya. Suara air yang menghantam atap bangunan dan aspal menciptakan bunyi gemuruh yang terus-menerus, menyelimuti suasana kota yang mulai redup diterangi lampu jalan.
Di dalam salah satu gedung perkantoran bertingkat, Akito baru saja menutup berkas kerjanya. Ia menghela napas panjang, merasakan pegal di bahu dan punggung yang menumpuk sejak pagi. Usianya sudah menginjak dua puluh sembilan tahun, bekerja sebagai staf administrasi di perusahaan yang lumayan besar, namun hidupnya terasa seperti berjalan di jalur yang sama setiap hari. Bangun tidur, berangkat kerja, pulang larut, lalu tidur lagi. Tidak ada hal yang benar-benar istimewa, tidak ada petualangan, dan mimpi-mimpinya seolah terkubur di balik tumpukan kertas dan laporan.
Saat merapikan barang-barangnya ke dalam tas, pandangannya tertuju pada sebuah buku catatan usang yang terselip di sudut laci. Sampulnya sudah agak pudar, namun isinya adalah semua kisah dan gambaran dunia fantasi yang selama ini hidup di dalam kepalanya. Sejak kecil, Akito selalu membayangkan dirinya berada di dunia yang penuh sihir, makhluk aneh, dan pertarungan epik. Ia ingin menuliskannya, ingin membagikan cerita itu kepada orang lain, tapi kesibukan dan rasa ragu selalu menjadi alasan untuk menundanya.
“Suatu hari nanti… pasti akan aku selesaikan,” gumamnya pelan, menyentuh sampul buku itu sekilas sebelum memasukkannya kembali ke dalam tas.
Ia melangkah keluar gedung, segera membuka payung yang dibawanya. Angin bertiup cukup kencang, membuatnya harus memegang gagang payung dengan erat agar tidak terbalik. Jarak ke halte bus tidak terlalu jauh, tapi jalanan yang licin dan pandangan yang terbatas membuatnya berjalan dengan hati-hati. Di dalam hatinya, ia hanya berharap bisa sampai rumah dengan selamat, mandi air hangat, dan beristirahat dengan tenang.
Namun takdir sering kali berjalan di luar rencana manusia.
Saat ia baru sampai di tepi jalan raya dan hendak menyeberang, dari arah tikungan jalan yang tertutup kabut hujan, terdengar suara rem yang berdecit memekakkan telinga. Disusul dengan suara teriakan sopir yang panik. Sebuah bus besar melaju keluar dari tikungan itu dengan kecepatan tinggi. Badannya tergelincir ke samping karena permukaan jalan yang sangat licin, dan remnya tidak lagi merespons kendali. Sopir berusaha memutar setir untuk menghindari tabrakan, tapi jaraknya sudah terlalu dekat.
Akito membulatkan matanya, tubuhnya membeku sesaat. Waktu terasa melambat. Ia melihat lampu depan bus itu mendekat dengan cepat, mendengar deru mesin yang keras, dan dalam sekejap, ia tidak punya kesempatan untuk melompat menjauh.
Tubuhnya terlempar keras ke udara. Rasa sakit yang luar biasa menyelimuti seluruh anggota badannya, tapi hanya berlangsung sesaat saja. Perlahan, rasa sakit itu menghilang, digantikan oleh rasa dingin yang menjalar, lalu kegelapan yang perlahan menelan seluruh kesadarannya.
Di detik terakhir sebelum semuanya benar-benar gelap, satu kalimat terlintas sangat jelas di pikirannya:
“Akhirnya… tidak sempat juga menyelesaikan ceritaku sendiri.”
Ketika kesadaran perlahan kembali, Akito merasa kebingungan luar biasa. Ia mengharapkan rasa sakit yang menyiksa, atau suara peralatan rumah sakit, atau setidaknya cahaya lampu yang menyilaukan mata. Namun yang ia rasakan justru sangat berbeda.
Tubuhnya terasa sangat ringan, terlalu ringan. Saat ia mencoba menggerakkan tangan, gerakannya terasa lemah dan terbatas. Ia mencoba membuka mulut untuk mengeluh, tapi yang keluar bukanlah suara bicara orang dewasa, melainkan tangisan lembut yang merengek.
Ia membuka matanya perlahan. Pandangannya masih kabur, perlahan mulai menajam seiring berjalannya waktu. Yang terlihat di atas kepalanya bukanlah langit-langit ruangan rumah sakit, melainkan atap yang terbuat dari anyaman bambu dan tumpukan jerami kering. Sinar matahari yang lembut menembus celah-celah kecil di antara anyaman itu, menciptakan garis-garis cahaya yang jatuh ke lantai tanah di bawahnya. Dinding di sekelilingnya terbuat dari tanah liat yang dipadatkan, tampak kasar namun kokoh. Udara yang terhirup terasa segar, berbau tanah basah, kayu bakar, dan sedikit aroma bunga liar yang samar.
Di sampingnya, terlihat dua sosok yang sedang menatapnya dengan pandangan yang hangat dan penuh syukur. Seorang pria berwajah keras dengan tangan yang kasar, dan seorang wanita dengan senyum lembut yang menenangkan hati. Wanita itu mengangkat tangannya perlahan, lalu mengusap dahi Akito dengan ujung jari yang lembut.
“Lihatlah, Kenji. Ia membuka matanya. Bayi kita lahir dengan selamat dan sehat,” ujar wanita itu, suaranya lembut namun jelas terdengar.
Pria yang dipanggil Kenji itu tersenyum lebar, matanya berkaca-kaca. Ia mengangguk pelan. “Benar, Sakura. Terima kasih kepada arwah leluhur. Mari kita berikan nama yang baik untuknya. Bagaimana kalau Akito? Semoga ia tumbuh menjadi anak yang kuat, jujur, dan mampu melindungi dirinya sendiri serta orang-orang yang dicintainya.”
“Akito… nama yang indah. Aku setuju,” jawab Sakura sambil mencium kening bayi itu.
Saat mendengar percakapan itu, pikiran Akito berputar kencang seolah berputar ribuan kali. Ia melihat tangannya sendiri—kecil, mungil, kulitnya halus seperti bayi baru lahir. Ia mencoba mengingat kejadian terakhir: hujan, jalan licin, bus yang melaju tak terkendali. Semuanya terasa nyata, bukan mimpi.
Kenyataan pahit namun sekaligus ajaib itu akhirnya merasuk ke dalam benaknya. Ia tidak mati lenyap begitu saja. Ia telah terlahir kembali. Ia bereinkarnasi ke dunia lain.
Dunia tempat ia berada ini bernama Tenkairyuu, sebuah nama yang entah bagaimana langsung muncul di dalam pikirannya seolah menjadi pengetahuan dasar yang dibawa bersama jiwanya. Ia lahir di sebuah desa terpencil bernama Desa Hinokaze, sebuah tempat yang dikelilingi oleh perbukitan hijau dan hutan lebat yang membentang luas hingga ke kaki gunung di kejauhan. Keluarganya baru ini sangat sederhana. Kenji dan Sakura adalah pasangan petani yang hanya memiliki sebidang tanah sempit dan beberapa ekor hewan ternak kecil. Mereka tidak kaya, bahkan bisa dibilang hidup dengan kekurangan, tapi kasih sayang yang mereka tunjukkan terasa begitu tulus dan hangat.
Malam itu, setelah kedua orang tuanya terlelap di tempat tidur mereka sendiri, Akito terbaring diam di dalam buaian dari anyaman bambu. Ia masih sulit memproses semua yang terjadi. Di satu sisi, ia merasa sedih karena harus meninggalkan kehidupannya yang lama, meski itu bukan kehidupan yang sempurna. Tapi di sisi lain, rasa penasaran dan harapan baru mulai tumbuh perlahan di hatinya. Mungkin ini adalah kesempatan kedua yang tak pernah ia duga.
Saat ia mulai terlelap karena rasa kantuk yang melanda tubuh bayinya, tiba-tiba sebuah suara lirih namun sangat jelas terdengar tepat di dalam benaknya. Suara itu bukan berasal dari luar ruangan, melainkan seolah berbicara langsung ke dalam jiwanya, berat dan kuno, namun tenang dan menenangkan.
“Dengarkan baik-baik, Akito. Kekuatan yang ada di dalam dirimu bukanlah milik sembarang makhluk di dunia ini. Ia adalah sumber cahaya terkuat yang pernah ada, diciptakan untuk menyeimbangkan antara terang dan gelap. Namun saat ini, kekuatan itu tertidur rapat di balik lapisan segel jiwa yang kuat. Ia dikunci agar tidak tercium oleh kekuatan kegelapan yang sedang tidur lelap di tempat yang jauh.”
Akito terkejut, matanya terbuka lebar lagi. Ia ingin bertanya, ingin meminta penjelasan lebih lanjut, tapi suaranya hanya bisa keluar sebagai desahan napas kecil. Suara itu melanjutkan kalimatnya tanpa jeda.
“Jangan berusaha membuka segel itu sebelum waktunya tiba. Jika kau memaksakan diri, energi yang meluap akan menarik perhatian Raja Kegelapan dan pengikutnya. Selama segel itu masih utuh, kekuatanmu akan tersembunyi seolah tidak ada apa-apa, dan dunia akan mengira dirimu hanyalah manusia biasa. Jadilah diam, amati, dan tunggu sampai panggilan itu datang. Itu adalah satu-satunya cara agar kau bisa bertahan hidup dan menjalani takdirmu.”
Setelah kalimat terakhir itu selesai diucapkan, suara itu menghilang begitu saja, meninggalkan keheningan yang sunyi di dalam pikiran Akito. Ia berbaring diam, jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. Segel? Kekuatan terkuat? Raja Kegelapan? Semua kata itu terasa asing sekaligus menakutkan. Ia masih terlalu muda untuk memahami makna sebenarnya, tapi satu hal yang ia yakini: apa yang tersembunyi di dalam tubuhnya ini bukanlah hal yang sederhana.
Keesokan paginya, sinar matahari pagi mulai menyelinap masuk lebih banyak ke dalam gubuk. Akito terbangun dengan perasaan yang masih campur aduk. Ia melihat Kenji dan Sakura sibuk menyiapkan bekal untuk pergi ke ladang. Ia mencoba menggerakkan tubuhnya, membiasakan diri dengan wujud barunya.
Saat tangannya yang masih sangat kecil terulur secara tidak sengaja, jari-jarinya menyentuh sebuah batu pipih sebesar kepalan orang dewasa yang tergeletak tidak jauh dari buaiannya. Ia tidak memberi tekanan apa pun, hanya sentuhan ringan yang wajar. Namun sesaat kemudian, sesuatu yang mengejutkan terjadi.
Batu itu mengeluarkan suara retakan yang nyaring. Di permukaannya muncul garis-garis terbelah yang menjalar cepat, hingga dalam hitungan detik, batu pipih itu terpecah menjadi dua bagian rapi dan sempurna, seolah dipotong dengan alat yang sangat tajam.
Suara retakan itu cukup keras hingga membuat Kenji dan Sakura menoleh cepat ke arahnya.
“Ada apa itu?” tanya Kenji, berjalan mendekat. Ia melihat dua bagian batu yang terbelah, lalu melihat sekeliling, mengira ada hewan kecil yang terlempar ke sana. Namun ia tidak menemukan apa pun. Menggaruk kepalanya yang merasa bingung, ia hanya menganggapnya sebagai kebetulan saja. “Mungkin batu itu sudah lapuk dan pecah karena perubahan suhu malam tadi. Tidak apa-apa.”
Sakura pun hanya mengangguk setuju, lalu tersenyum melihat Akito yang terbaring tenang.
Namun bagi Akito, detik itu terasa seperti waktu yang berhenti berjalan. Ia menarik tangannya dengan cepat ke dalam selimut kain kasar yang menyelimuti tubuhnya. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa nyeri di d**a. Ia menatap kedua telapak tangannya yang masih mungil itu dengan pandangan tak percaya. Hanya dengan sentuhan biasa, ia bisa membelah batu sekeras itu?
Ia teringat kembali pada suara yang didengarnya semalam. Kekuatan terkuat… tersegel rapat. Ternyata meski terkunci, bagian kecil dari kekuatan itu sudah mulai bocor tanpa disadari.
➡️ Penutup Bab: Akito menelan ludah, berusaha menenangkan diri. Di luar gubuk, angin pagi Desa Hinokaze berhembus membawa suara dedaunan yang bergoyang. Di dalam hatinya, satu kesadaran baru mulai tumbuh perlahan. Ia bukan lagi Akito yang biasa seperti di dunia sebelumnya. Di balik wujud bayi ini, tersembunyi rahasia yang mungkin bisa menyelamatkan dunia ini… atau justru menghancurkannya jika salah langkah.
“Apa sebenarnya yang telah dikirimkan ke dalam tubuh ini?” pikirnya dalam hati, menyimpan rasa penasaran dan waspada yang baru saja dimulainya.