Hari-hari berlalu dengan tenang di Desa Hinokaze. Bagi warga desa, kehidupan berjalan dalam irama yang sama: bangun saat fajar menyingsing, bekerja di ladang atau hutan seharian, lalu beristirahat saat matahari terbenam. Bagi Akito, waktu terasa berjalan lebih lambat sekaligus lebih cepat dibandingkan orang lain. Ia harus beradaptasi dengan wujud barunya, memahami lingkungan baru, dan yang paling penting—menjaga rahasia besar yang tersembunyi di dalam tubuhnya.
Sejak kejadian membelahnya batu itu, Akito menjadi sangat berhati-hati. Ia belajar mengendalikan setiap gerakan, bahkan seberapa keras ia menekan jari kakinya atau menggenggam benda. Ia sadar, meski segel itu menahan kekuatan utamanya, sisa energi yang bocor saja sudah melebihi batas kemampuan makhluk biasa. Jika ia ceroboh sedikit saja, identitasnya akan terbongkar, dan entah reaksi seperti apa yang akan ditimbulkannya.
Tiga tahun pertama terasa seperti masa pelatihan diam-diam baginya. Di usia tiga tahun, anak-anak lain di desa baru bisa berjalan tegak dengan langkah yang masih goyah dan sering terjatuh. Tapi Akito? Ia sudah bisa berlari mengelilingi halaman rumah tanpa kelelahan sedikit pun. Ia bisa memanjat pohon buah yang tingginya dua kali lipat tinggi badannya dengan lincah, turun dengan membawa beberapa buah di tangannya tanpa tergelincir.
Namun Akito selalu berpura-pura. Setiap kali ada warga yang melihatnya, ia akan melambatkan langkahnya, berjalan dengan kaki yang sedikit diangkat seolah masih belajar menyeimbangkan tubuh, dan sesekali berpura-pura terhuyung sebelum berdiri tegak kembali. Jika ia memetik buah, ia akan memakainya sedikit demi sedikit agar tidak terlihat terlalu cekatan.
Kenji dan Sakura hanya menganggapnya sebagai anak yang tumbuh lebih sehat dan kuat dari biasanya.
“Lihatlah, Sakura. Anak kita benar-benar kuat. Mungkin kelak ia akan menjadi petani terbaik di desa ini,” ujar Kenji suatu sore sambil mengelus kepala Akito dengan bangga.
Sakura hanya tersenyum, matanya memancarkan kehangatan. “Asalkan ia tumbuh menjadi anak yang baik hati, itu sudah cukup bagiku. Apapun jalan hidupnya nanti, kami akan mendukungnya.”
Mendengar kata-kata orang tuanya, hati Akito terasa hangat sekaligus terbebani. Ia berjanji dalam hati: apa pun yang terjadi, ia akan melindungi kedua orang tuanya ini, dan tidak akan melakukan hal yang bisa membahayakan kedamaian keluarga mereka.
Saat usianya menginjak lima tahun, keanehan itu semakin terasa nyata. Setiap hari ia ikut membantu Kenji membawa air dari mata air yang berjarak sekitar lima ratus meter dari desa. Satu ember air biasa terasa sangat berat bagi anak seusianya, tapi bagi Akito rasanya seperti membawa sekantong kapas kosong. Awalnya ia membawa satu ember, lalu diam-diam ia coba membawa dua ember sekaligus, dan ternyata tubuhnya tidak terasa terbebani sama sekali.
Namun ia tetap hanya membawa satu ember saja di depan orang tuanya. Ia mengatur napasnya agar terlihat terengah-engah, keringat bercucuran di dahinya padahal sebenarnya ia tidak merasakan panas atau lelah. Kenji hanya menepuk pundaknya dan berkata, “Sudah cukup, Nak. Jangan dipaksakan. Nanti kalau sudah besar, tenagamu akan bertambah banyak lagi.”
Di saat sendirian, Akito sering pergi ke bagian pinggir Hutan Kageyama, tempat yang jarang dikunjungi warga karena jalannya berbatu dan agak semak-semak. Di sana ia mulai menguji batas kemampuannya secara perlahan, berusaha memahami apa yang sebenarnya ia miliki.
Suatu hari, ia mendorong batang pohon muda yang setebal lengan orang dewasa. Dengan tenaga yang dianggap wajar bagi anak kecil, pohon itu seharusnya tidak bergeming sama sekali. Namun begitu telapak tangannya menyentuh kulit kayu itu, batangnya langsung melengkung dan tertekuk hampir menyentuh tanah, seolah terbuat dari bahan yang lentur. Akito terkejut dan segera menarik tangannya. Pohon itu perlahan kembali tegak, hanya menyisakan lekukan samar yang perlahan hilang.
Ia melompat setinggi mungkin. Tanpa sadar, tubuhnya terangkat hampir dua meter dari tanah dan mendarat dengan ringan tanpa menimbulkan debu yang banyak. Ia mengerutkan dahi. Ini jauh melampaui kekuatan fisik biasa. Tapi mengapa kristal atau indra orang lain tidak bisa merasakannya? Mengapa ia tidak bisa menggunakan sihir seperti anak-anak lain?
Jawabannya mulai terlintas perlahan dalam benaknya. Ia mengingat kembali suara yang didengarnya saat pertama kali terlahir. “Segel itu menahan seluruh kekuatanmu agar tidak terdeteksi. Ia bukan menghilangkannya, melainkan menyembunyikannya sampai waktunya tiba.”
Di dunia Tenkairyuu, segala sesuatu berjalan berdasarkan energi yang disebut Ryoku. Setiap makhluk hidup memiliki jumlah Ryoku yang berbeda-beda. Orang yang bisa mengumpulkan dan mengendalikan Ryoku dalam tubuhnya bisa menggunakannya untuk mengeluarkan sihir, memperkuat tubuh, atau bahkan menyembuhkan luka. Semakin banyak Ryoku yang dimiliki, semakin hebat kekuatan yang bisa dikeluarkan.
Akito mencoba merasakan aliran itu. Ia memejamkan mata, menarik napas panjang, lalu mencoba menyadari energi yang ada di sekelilingnya seperti yang sering diceritakan orang tua di desa. Anak-anak lain yang sudah mulai berlatih bisa merasakan aliran udara yang berdenyut lembut, atau cahaya samar yang melayang di udara. Tapi yang Akito rasakan justru berbeda.
Begitu ia memusatkan perhatiannya, aliran Ryoku di sekelilingnya seolah tertarik dengan kekuatan yang luar biasa, masuk dengan deras ke dalam pori-pori kulitnya, mengalir melalui urat nadinya, lalu diserap masuk ke dalam bagian terdalam tubuhnya—seolah jatuh ke dalam sumur yang sangat dalam dan gelap. Tidak ada sisa, tidak ada aliran yang bisa ia kendalikan, semuanya langsung tersimpan rapat dan menghilang dari jangkauan kesadarannya.
Jadi bukan karena ia tidak memiliki Ryoku. Ia justru menyerapnya terlalu banyak dan terlalu cepat, hingga tidak ada yang tersisa untuk digunakan sebagai sihir biasa. Itulah sebabnya ia terlihat seperti orang yang tidak memiliki bakat apa pun.
Pengamatan ini semakin terbukti jelas saat tibalah hari yang dinanti-nantikan oleh seluruh anak di desa: Ujian Bakat Sihir.
Hari itu langit cerah tanpa awan. Warga desa berkumpul di lapangan utama, tempat berdiri sebuah bangunan kecil yang menjadi tempat ibadah dan pertemuan. Pendeta desa bernama Harumasa sudah menunggu di tengah lapangan. Ia adalah orang yang paling dihormati di Desa Hinokaze, sudah melayani sebagai pemuka agama dan penasihat warga selama lebih dari empat puluh tahun. Di tangannya tergenggam sebuah kotak kayu yang dihias ukiran sederhana. Di dalamnya tersimpan Hikarishou, kristal khusus yang digunakan untuk mengukur potensi sihir seseorang.
“Baiklah, anak-anak. Maju satu per satu dengan tenang,” seru Harumasa dengan suara lantang namun lembut.
Satu per satu anak berbaris maju. Saat kristal itu didekatkan ke dahi mereka, reaksinya berbeda-beda. Ada yang memancarkan cahaya merah menyala, tanda bakat unsur api. Ada yang berwarna hijau lembut untuk angin dan tanah, biru untuk air, dan sedikit yang memancarkan cahaya putih perak untuk penyembuhan. Setiap kali cahaya muncul, orang tua anak itu akan tersenyum lega, karena itu artinya anak mereka memiliki masa depan yang jelas.
Giliran Akito tiba. Ia melangkah maju dengan hati yang tenang, meski dalam hatinya sudah tahu hasil apa yang akan keluar. Harumasa menatapnya sekilas, lalu mengangkat kristal itu dan menempelkannya perlahan di dahi Akito.
Semua orang menunggu dengan pandangan penasaran. Namun detik demi detik berlalu, tidak ada cahaya yang keluar sama sekali. Kristal itu tetap bening namun redup, tidak memancarkan sinar apa pun. Harumasa mengernyitkan dahi, menggerakkan posisi kristal itu sedikit, lalu mencobanya lagi dengan sedikit tenaga tambahan. Tetap sama hasilnya.
Ia menghela napas pelan, lalu menarik kristal itu kembali ke dalam kotaknya. Menatap Akito dengan pandangan yang penuh rasa kasihan.
“Maafkan aku, Nak. Hasilnya menunjukkan bahwa kau tidak memiliki afinitas terhadap unsur apa pun. Tubuhmu tidak menyimpan Ryoku yang bisa dideteksi, atau lebih tepatnya, alirannya tidak teratur dan tidak bisa digunakan untuk sihir apa pun. Dalam istilah kami… kau adalah orang yang dianggap tanpa bakat.”
Suasana menjadi sedikit hening. Pandangan warga desa langsung berubah. Banyak yang memandang Akito dengan rasa iba, ada juga yang terlihat kecewa, seolah melihat masa depan yang suram sudah tergambar jelas sejak hari itu. Di dunia Tenkairyuu, orang yang tidak bisa menggunakan sihir hanya bisa menjadi petani, pekerja kasar, atau orang yang hidup dengan keterbatasan seumur hidupnya.
Kenji dan Sakura segera melangkah maju, berdiri di samping Akito sambil memegang bahunya.
“Tidak apa-apa, Pendeta Harumasa. Bakat bukan satu-satunya ukuran kebahagiaan. Selama ia sehat dan berhati baik, kami tetap bangga memilikinya sebagai anak,” kata Kenji dengan suara tegas, meski matanya terlihat sedikit sedih.
Akito hanya tersenyum tipis, mengangguk mengerti. “Terima kasih sudah memeriksaku. Tidak apa-apa, Ayah, Ibu. Aku bisa bekerja keras dengan tenaga tanganku sendiri.”
Jawaban itu membuat banyak warga mengangguk pelan, meski rasa kasihan itu masih terasa tergantung di udara.
Sore harinya, suasana di rumah terasa sedikit berbeda. Tidak ada percakapan yang terlalu banyak, namun tidak ada pula rasa marah atau kecewa. Sakura menyiapkan makanan kesukaan Akito, sedangkan Kenji duduk bersandar di dinding rumah sambil mengasah sabit pertaniannya.
Saat matahari mulai terbenam dan cahaya jingga mulai memudar, Akito memutuskan untuk keluar sebentar menuju pinggir desa. Ia berjalan menyusuri jalan setapak yang mengarah ke bukit kecil, tempat ia bisa melihat seluruh desa dan bagian luar Hutan Kageyama. Angin sore bertiup lembut menerpa wajahnya, membawa hawa dingin yang menyegarkan pikiran.
Ia duduk di atas batu besar, memandangi langit yang mulai dihiasi bintang-bintang pertama. Tangannya terulur ke depan, telapak tangan menghadap ke atas. Ia memusatkan seluruh perhatiannya, mencoba merasakan lagi aliran Ryoku yang selama ini terserap masuk ke dalam dirinya.
Dan saat itu juga, sesuatu terjadi.
Di tengah kegelapan, tanpa disadarinya, seberkas cahaya keemasan yang sangat samar, hampir tidak terlihat oleh mata biasa, mulai muncul di tengah telapak tangannya. Cahaya itu berdenyut lembut, terasa hangat namun sangat kuat, seolah ada jantung yang berdetak perlahan di sana. Ia bersinar hanya selama satu atau dua detik, lalu menyusut kembali dan menghilang masuk ke dalam kulitnya, meninggalkan sensasi hangat yang menyebar ke seluruh tubuh.
Akito menatap tangannya dengan pandangan terkejut sekaligus lega. Jadi pendeteksian itu memang benar—secara lahiriah ia tidak memiliki bakat apa pun. Tapi kenyataannya, kekuatan yang ada di dalam dirinya justru berada di tingkat yang tidak bisa dipahami oleh alat ukur biasa. Ia bukan orang yang lemah, melainkan sebuah wadah yang terlalu besar dan kuat untuk dilihat oleh pandangan dunia biasa.
Namun rasa lega itu segera tergantikan oleh rasa waspada. Saat ia menoleh ke arah tepian hutan, matanya yang sudah terlatih menangkap sesuatu yang tidak biasa. Di bawah naungan pohon besar yang menjulang tinggi, terlihat kabut berwarna kelabu gelap yang bergerak perlahan, tidak seperti kabut biasa yang terbawa angin. Kabut itu melayang mendekati tanah, lalu meninggalkan jejak samar berupa bau yang sedikit menyengat dan terasa dingin hingga ke tulang.
Akito berdiri dengan cepat, mengerutkan dahinya. Ia merasakan sensasi yang berbeda dari energi itu. Bukan energi alami yang hidup dan segar, melainkan sesuatu yang mati, berat, dan berusaha menyedot kehangatan dari sekelilingnya.
Ia berjalan mendekat perlahan, tetap bersembunyi di balik semak-semak. Di tempat kabut itu melintas, rumput-rumput yang semula hijau segar berubah menjadi layu dan menguning hanya dalam hitungan detik. Di tanah, tercetak jejak kaki yang besar dan dalam, berukuran hampir dua kali lipat jejak kaki manusia dewasa, dengan ujung yang tajam seperti cakar.
➡️ Penutup Bab: Akito menahan napas, jantungnya berdegup kencang bukan karena takut, melainkan karena instingnya memberi peringatan bahaya yang mendekat. Ia tidak tahu makhluk apa yang meninggalkan jejak itu, tapi satu hal yang ia yakini: kedamaian yang selama ini melingkupi Desa Hinokaze tidak akan bertahan selamanya. Dan saat bahaya itu benar-benar datang, apakah ia bisa terus menyembunyikan kekuatannya… atau terpaksa membuka segel itu lebih cepat dari yang diperkirakan?