Malam itu, langit di atas Desa Hinokaze terlihat lebih gelap dari biasanya. Awan tipis melayang menutupi sebagian cahaya bulan, membuat bayang-bayang pohon terlihat menjulang seperti sosok raksasa yang diam mengawasi dari kejauhan. Akito berjalan pulang dengan langkah pelan, pikirannya masih tertuju pada jejak kaki dan kabut aneh yang dilihatnya tadi. Setiap langkah yang ia ambil terasa lebih waspada, telinganya menangkap setiap suara yang terdengar sedikit berbeda dari biasanya.
Sesampainya di rumah, ia masuk tanpa menimbulkan suara berisik. Kenji dan Sakura sudah terlelap, lelah setelah bekerja seharian. Akito berbaring di atas alas jerami yang sudah diberi alas kain tipis, tapi matanya tetap terbuka menatap atap gubuk. Ia mengingat kembali pelajaran yang pernah didengarnya dari para tetua desa.
Di dunia Tenkairyuu, energi tidak hanya berupa cahaya atau unsur yang menumbuhkan kehidupan. Ada juga energi yang berlawanan, disebut Kuro-Ryoku—energi kegelapan yang melambangkan pembusukan, ketakutan, dan kehancuran. Energi ini biasanya hanya muncul di tempat-tempat yang jauh dari peradaban, di wilayah yang sudah lama ditinggalkan makhluk hidup, atau di mana kekuatan jahat mulai mengumpulkan kekuatannya.
Selama ratusan tahun, Desa Hinokaze selalu aman karena dikelilingi oleh aliran energi alami yang cukup kuat untuk menahan masuknya pengaruh buruk dari luar. Tapi jejak yang dilihatnya tadi jelas membawa tanda energi itu. Artinya, sesuatu telah melintasi batas perlindungan alami desa, atau kekuatan yang menahannya mulai melemah.
Sejak malam itu, Akito mengubah kebiasaan hariannya. Ia tetap membantu orang tuanya di ladang dan rumah seperti biasa, tapi ia mulai lebih sering mengamati sekeliling, terutama ke arah Hutan Kageyama. Setiap kali ia punya waktu luang, ia akan menyelinap masuk ke bagian pinggir hutan untuk memantau keadaan, selalu berhati-hati agar tidak bertemu makhluk apa pun dan juga tidak terlihat oleh warga desa lain.
Selama pengamatan itu, Akito semakin memahami batas kemampuannya sendiri. Ia menyadari ada aturan yang bekerja di dalam tubuhnya yang tidak bisa ia ubah sembarangan. Setiap kali ia mencoba mengerahkan tenaga lebih dari yang dibutuhkan untuk aktivitas biasa, seperti memindahkan batu yang sangat berat atau berlari secepat kilat, tubuhnya akan merespons dengan cara yang aneh.
Tenaganya akan meluap keluar tanpa kendali, cukup kuat untuk menghancurkan apa pun yang ada di hadapannya, tapi setelah itu ia akan merasakan kelelahan yang luar biasa. Seolah-olah kekuatan itu mengambil bayaran yang sangat mahal—setiap tetes energi yang dikeluarkan akan menyedot seluruh cadangan tenaganya hingga ia terasa lemas dan mengantuk berjam-jam lamanya. Seakan segel itu berfungsi ganda: menyembunyikan kekuatan, tapi juga membatasi seberapa banyak kekuatan itu bisa digunakan sekaligus.
“Jadi ini caranya,” gumam Akito suatu siang saat duduk beristirahat di bawah pohon rindang. “Aku kuat, tapi tidak bisa seenaknya menggunakannya. Jika terlalu sering atau terlalu keras, justru aku akan menjadi lemah dan tidak berdaya di saat yang tidak tepat.”
Penemuan ini membuatnya semakin bijak bertindak. Ia memutuskan untuk hanya menggunakan sedikit tenaga tambahan jika benar-benar terpaksa. Sebisa mungkin, ia akan mengandalkan akal, pengamatan, dan kelincahan tubuh daripada mengandalkan kekuatan mentah yang dimilikinya.
Hari-hari berlalu hingga tiba musim hujan kedua setelah Akito melewati usia tujuh tahun. Curah hujan kali ini terasa lebih deras dan berlangsung lebih lama dari biasanya. Jalanan desa menjadi becek, sungai kecil yang membelah desa meluap, dan kabut tebal sering menyelimuti seluruh wilayah mulai sore hingga pagi hari. Bersama datangnya kabut itu, perubahan kecil mulai terasa oleh seluruh warga desa.
Pertama, hewan ternak mereka menjadi lebih gelisah. Sapi dan kambing sering meresah tanpa alasan jelas di malam hari, dan anjing penjaga desa akan menggonggong terus-menerus ke arah hutan, seolah melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh mata manusia. Kedua, hasil panen di ladang yang berdekatan dengan pinggir hutan tumbuh lebih lambat dari biasanya, dan sebagian tanaman terlihat menguning sebelum waktunya.
Warga desa mulai merasa cemas. Mereka mengira itu hanya dampak cuaca yang tidak menentu, tapi Akito tahu persis apa penyebabnya. Energi kegelapan yang ia rasakan beberapa bulan lalu semakin mendekat dan menyebar pengaruhnya perlahan ke seluruh wilayah desa.
Suatu sore, saat hujan baru saja reda dan kabut mulai turun menyelimuti desa, Akito sedang mengumpulkan kayu bakar di bagian paling luar hutan. Ia baru saja memotong beberapa ranting pohon kering dan hendak pulang, ketika telinganya menangkap suara langkah kaki yang berat dan tidak teratur di balik semak-semak yang lebat.
Bukan langkah kaki manusia, dan bukan pula langkah hewan biasa seperti rusa atau babi hutan. Suaranya lebih berat, disertai suara gesekan benda kasar di atas tanah, dan sesekali terdengar dengusan napas yang terasa dingin.
Akito segera bersembunyi di balik batang pohon besar, napasnya ditahan perlahan. Matanya menyipit, berusaha melihat melalui celah dedaunan yang masih basah oleh air hujan. Detik kemudian, sesosok makhluk muncul melangkah keluar dari balik semak-semak.
Tubuhnya sebesar kuda dewasa, berjalan dengan empat kaki yang berakhir dengan cakar tajam sepanjang jari orang dewasa. Kulitnya tertutup sisik berwarna abu-abu gelap yang terlihat lembap dan berlendir. Kepalanya memanjang seperti serigala, tapi memiliki dua pasang mata yang menyala redup berwarna merah darah, dan mulutnya terbuka memperlihatkan taring panjang dan runcing yang meneteskan cairan kental berwarna kehijauan. Di sekeliling tubuhnya, terlihat kabut tipis berwarna kelabu yang mengikuti ke mana pun ia melangkah.
Akito mengenali makhluk itu dari cerita-cerita yang didengarnya: Serigala Bayangan, makhluk yang terlahir dari energi kegelapan yang cukup kuat. Mereka tidak hidup seperti hewan biasa, melainkan diberi insting untuk mencari dan menyerap energi kehidupan dari makhluk lain. Biasanya mereka hanya muncul di wilayah yang sudah sangat terkontaminasi, tapi keberadaannya di sini membuktikan bahwa pengaruh Kuro-Ryoku sudah masuk cukup jauh.
Makhluk itu berhenti melangkah, mengangkat kepalanya, lalu mengendus udara di sekelilingnya. Matanya yang menyala merah berputar mengamati area itu. Akito merasakan jantungnya berdegup lebih cepat, bukan karena takut mati, tapi karena ia sadar bahaya nyata sudah ada tepat di depan matanya. Jika makhluk ini masuk ke desa, hewan ternak akan menjadi korban pertama, lalu bisa saja menyerang manusia jika rasa laparnya sudah meluap.
Ia berusaha tetap tenang, mengingat kembali aturan yang ditemukannya. Ia tidak bisa langsung meledakkan seluruh kekuatannya, karena itu akan membuatnya lemas parah setelahnya dan bisa menarik perhatian makhluk lain yang lebih berbahaya lagi. Ia harus mencari cara yang tepat.
Saat Serigala Bayangan itu mulai melangkah lagi mendekati arah jalan menuju desa, Akito mengambil keputusan. Ia mengumpulkan sedikit tenaga ekstra, cukup untuk membuatnya bergerak lebih cepat dan lincah dari biasanya, tapi tidak lebih dari itu. Ia memungut dua buah batu pipih sebesar kepalan tangan dari tanah, lalu melemparnya dengan tenaga yang terukur ke arah pohon di sisi lain dari tempat persembunyiannya.
Duk! Duk!
Suara benturan batu dengan batang pohon itu cukup keras untuk menarik perhatian makhluk itu. Kepalanya langsung berputar, matanya menyala lebih terang, lalu ia melompat cepat ke arah sumber suara itu, mengira ada mangsa yang bersembunyi di sana.
Ini kesempatannya.
Akito segera berlari mundur dengan kecepatan yang jauh melampaui kemampuan anak biasa, tapi tetap mengatur langkahnya agar tidak menimbulkan suara berisik. Ia bergerak memutar melalui jalur yang lebih tinggi dan berbatu, mencoba mendahului makhluk itu dan menghalangi jalannya sebelum bisa mencapai jalan utama.
Saat ia tiba di tempat yang lebih sempit di antara dua bukit kecil, ia berhenti dan menunggu. Napasnya teratur, tidak terasa lelah sama sekali karena tenaga yang dikeluarkan masih sangat sedikit. Tak lama kemudian, Serigala Bayangan itu kembali muncul, berjalan dengan hati-hati seolah menyadari ia telah ditipu.
Begitu makhluk itu melangkah masuk ke celah sempit itu, Akito melompat turun dari atas batu besar tepat di hadapannya. Ia mendarat dengan ringan, lalu berdiri tegak menghadap makhluk itu.
Serigala Bayangan itu terkejut sesaat, lalu mendengus keras, mengeluarkan suara gemeretak dari tenggorokannya. Ia melihat sosok Akito yang hanya anak kecil, lalu menganggapnya mangsa yang lemah dan mudah ditangkap. Dengan gerakan kilat, ia melompat maju, mengayunkan cakar depannya yang tajam ke arah tubuh Akito.
Dengan refleks yang terlatih secara alami, Akito menghindar ke samping hanya beberapa sentimeter saja dari serangan itu. Ia merasakan hembusan angin yang membawa hawa dingin mematikan melintas tepat di samping telinganya. Dalam gerakan yang berkesinambungan, ia memutar tubuhnya, lalu mengayunkan kedua tangannya ke arah kepala makhluk itu dengan tenaga yang terukur.
Brak!
Suara benturan yang keras terdengar. Tubuh Serigala Bayangan itu terlempar mundur beberapa meter hingga menghantam dinding batu di belakangnya, lalu terjatuh terguling ke tanah. Ia meringis kesakitan, matanya menyala semakin terang karena marah. Sisiknya retak di bagian dahi yang terkena pukulan, dan cairan hitam kental keluar dari luka itu.
Akito berdiri tenang, tidak mundur selangkah pun. Ia menyadari pukulannya tadi cukup keras untuk melumpuhkan hewan biasa, tapi makhluk ini terbentuk dari energi gelap, jadi tidak akan mudah mati hanya dengan satu serangan fisik biasa.
Serigala Bayangan itu berdiri kembali, kali ini ia terlihat lebih waspada dan agresif. Ia membuka mulut lebar-lebar, lalu menghembuskan asap hitam tebal yang berbau menyengat dan membutakan pandangan. Akito segera menahan napas dan memejamkan matanya sedikit, mengandalkan pendengaran dan indra tubuhnya untuk merasakan ke mana arah gerakan makhluk itu.
Saat ia merasakan getaran tanah yang menandakan makhluk itu melompat kembali menyerang, sesuatu terjadi secara tidak terduga. Karena konsentrasi yang terlalu tinggi dan tekanan dari bahaya yang mengancam nyawanya, segel yang selama ini membungkus kekuatannya terasa bergetar hebat. Tanpa kendali sadarnya, sedikit energi cahaya keemasan meluap keluar dari seluruh pori-pori kulitnya, menyebar dalam radius kecil di sekelilingnya.
Begitu cahaya itu menyentuh tubuh Serigala Bayangan, makhluk itu menjerit melengking, suara yang bukan berasal dari makhluk hidup biasa melainkan suara energi yang terbakar dan hancur. Tubuhnya seolah terkena api yang tak terlihat, berasap dan menyusut perlahan. Ia mencoba mundur, tapi cahaya itu tetap mengikutinya, terus membakar inti energi gelap yang menyusun tubuhnya.
Dalam waktu kurang dari sepuluh detik, makhluk yang cukup mengerikan itu berubah menjadi asap hitam yang menghilang terbawa angin, menyisakan hanya tanah kosong dan bau terbakar yang samar.
Begitu bahaya itu hilang, cahaya keemasan di sekeliling Akito perlahan meredup dan masuk kembali ke dalam tubuhnya. Namun sesaat setelah itu, perasaan lemas yang biasa datang meluap jauh lebih hebat dari sebelumnya. Kakinya terasa seperti terbuat dari kapas, pandangannya menjadi kabur, dan rasa kantuk yang luar biasa menyerang pikirannya. Ia baru saja mengeluarkan sedikit kekuatan dari segelnya, dan akibatnya terasa sangat berat.
“Ternyata… hanya sebesar ini saja pun sudah membuatku lemas begini,” gumamnya pelan dengan suara yang mulai melemah. Ia berusaha melangkah maju menuju jalan pulang, tapi tubuhnya tidak sanggup lagi berdiri tegak. Lututnya tertekuk, lalu ia terjatuh pingsan ke atas rerumputan yang masih basah.
➡️ Penutup Bab: Saat kesadarannya perlahan menghilang, satu pikiran terakhir terlintas di kepalanya. Ia berhasil mengusir bahaya kali ini tanpa ada orang yang melihat, tapi makhluk ini hanyalah awal. Jika kekuatan yang lebih besar dari ini datang, apakah ia bisa mengendalikan segelnya dengan benar tanpa membongkar seluruh rahasia yang disembunyikannya? Dan yang lebih mengkhawatirkan—apakah energi cahaya yang baru saja ia keluarkan itu sudah terdeteksi oleh sumber kegelapan yang lebih jauh lagi?