Kesadaran Akito perlahan kembali menyusup ke dalam benaknya. Yang pertama ia rasakan adalah rasa lemas yang luar biasa, seolah seluruh tenaga di tubuhnya tersedot habis hingga ke tulang sumsum. Kepalanya terasa pusing, dan setiap gerakan kecil terasa berat bagai mengangkat batu besar. Saat ia membuka matanya perlahan, yang terlihat bukan lagi semak-semak dan pohon di pinggir hutan, melainkan langit-langit anyaman bambu yang sudah sangat dikenalnya.
Ia sudah berada di dalam kamarnya, terbaring di atas alas tidurnya.
“Syukurlah… kau sadar juga, Nak,” suara lembut itu terdengar dari samping.
Sakura duduk di sisi tempat tidur, matanya tampak cemas namun juga lega melihat putranya membuka mata. Tangannya segera mengusap dahi Akito, memeriksa suhu tubuhnya dengan teliti. Tak lama kemudian, Kenji masuk membawa segelas air hangat dan semangkuk bubur encer. Wajahnya pun terlihat tegang sejak tadi.
“Kau ditemukan pingsan di jalan setapak dekat hutan oleh Pak Jiro saat ia pulang dari memotong kayu,” kata Kenji sambil meletakkan barang bawaannya di meja kecil. “Kata dia, tubuhmu terasa dingin sekali, seolah baru terbaring di tempat yang lembap berjam-jam. Apa yang terjadi padamu? Apakah kau masuk terlalu dalam ke hutan dan kelelahan?”
Akito menelan ludah, pikirannya bekerja cepat mencari jawaban yang masuk akal. Ia tidak bisa menceritakan apa yang sebenarnya terjadi—tentang makhluk bayangan, kekuatan yang meluap keluar, dan rahasia besar yang tersimpan di dalam tubuhnya. Jika ia bercerita, ketenangan yang selama ini ia bangun akan hancur seketika.
Dengan suara yang masih lemah, ia menjawab perlahan, “Maafkan Ayah, Ibu. Aku hanya ingin mengumpulkan lebih banyak kayu agar tidak kekurangan saat hujan turun lagi. Tapi tiba-tiba kepalaku terasa berputar, pandanganku menjadi gelap, dan aku tidak ingat apa pun lagi setelahnya. Mungkin aku terlalu memaksakan diri hari ini.”
Sakura menghela napas panjang, lalu memeluk bahu putranya itu dengan lembut. “Sudah kubilang, jangan terlalu terburu-buru. Kita punya cukup kayu untuk beberapa hari ke depan. Kau tidak memiliki tenaga sihir seperti anak-anak lain, jadi tubuhmu harus dijaga lebih hati-hati. Jika sakit, justru kita yang akan kerepotan.”
Kata-kata itu diucapkan dengan penuh perhatian, namun bagi Akito rasanya ada rasa pahit yang terselip di baliknya. Di mata orang tuanya dan seluruh warga desa, ia hanyalah anak lemah yang tidak punya bakat apa pun. Kebohongan ini terasa berat dipikul, tapi ia sadar itu adalah satu-satunya cara untuk melindungi mereka sekaligus melindungi dirinya sendiri.
Selama tiga hari berikutnya, Akito harus beristirahat total. Meskipun sebenarnya ia sudah pulih hampir sepenuhnya pada hari kedua, ia berpura-pura masih lemas agar tidak menimbulkan kecurigaan. Saat sendirian, ia menggunakan waktu itu untuk merenung dan mempelajari lebih dalam perubahan yang terjadi pada dirinya.
Ia menyadari satu pola yang jelas: kekuatan di dalam dirinya bertindak sesuai dengan naluri perlindungan. Selama ia merasa aman dan tidak terancam, segel itu akan tetap rapat menahan segala energi, bahkan menyerap semua Ryoku yang ada di sekitarnya tanpa menyisakan sedikit pun untuk digunakan. Namun begitu nyawanya terancam bahaya, segel akan melonggar sedikit secara otomatis, melepaskan cukup kekuatan untuk mengatasi bahaya itu—namun sebagai gantinya, ia harus membayar dengan rasa lemas yang membuatnya tak berdaya sesudahnya.
“Ini seperti pedang bermata dua,” gumamnya dalam hati sambil menatap telapak tangannya. “Cukup kuat untuk melindungi, tapi juga bisa membuatku menjadi sasaran empuk jika musuh datang bertubi-tubi.”
Setelah kondisi tubuhnya dinyatakan cukup pulih oleh Pendeta Harumasa, Akito kembali menjalani rutinitas hariannya. Namun kali ini, ia tidak lagi hanya memikirkan dirinya sendiri. Kehadiran Serigala Bayangan itu membuktikan bahwa bahaya tidak lagi sekadar isapan jempol atau cerita rakyat lama. Ia semakin sering memperhatikan lingkungan sekitar, dan pengamatannya pun menemukan hal-hal lain yang menguatkan firasat buruknya.
Suatu pagi, saat ia membantu Kenji memeriksa pagar ladang yang rusak, matanya menangkap sesuatu di atas batang pohon yang tumbuh di batas desa. Di sana, terdapat lumut berwarna kehitaman yang mulai menjalar perlahan menuruni batang kayu itu. Lumut jenis ini tidak pernah ada sebelumnya di daerah yang cukup subur seperti Desa Hinokaze. Ia hanya tumbuh di tempat yang terkontaminasi energi gelap, menyerap nutrisi kehidupan dari tanaman lain hingga membuatnya mati perlahan.
Ia juga mulai mendengar desas-desus dari warga desa yang lebih tua. Beberapa orang tua menceritakan bahwa seratus tahun yang lalu, kabut gelap sempat menyelimuti wilayah utara, dan makhluk-makhluk aneh sering keluar dari hutan. Saat itu, ada pendeta-pendeta kuat dan ksatria terampil yang mengusir mereka kembali. Namun kini, jumlah orang yang mengerti cara menggunakan sihir dengan baik di desa itu sangat sedikit. Bahkan Pendeta Harumasa hanya mampu menggunakan sihir penyembuhan ringan dan perlindungan sederhana saja.
Jika bahaya yang lebih besar datang, Desa Hinokaze hampir tidak memiliki pertahanan yang cukup.
Pemikiran itu membuat Akito semakin merasa tertekan. Di satu sisi, ia ingin mengungkapkan kemampuannya agar bisa menjadi pelindung bagi desa dan keluarganya. Di sisi lain, ia takut jika kebenaran itu terungkap, justru akan mendatangkan bencana yang lebih besar. Suara yang didengarnya saat pertama kali terlahir kembali selalu terngiang di telinganya: “Jangan membuka segel sebelum waktunya, atau kegelapan akan segera menemukanmu.”
Hingga suatu sore, kejadian lain terjadi yang semakin memperkuat kewaspadaannya.
Saat matahari mulai condong ke barat, Akito sedang mengambil air di mata air yang berada sedikit di lereng bukit. Tempat itu airnya jernih dan sejuk, sering dikunjungi warga untuk kebutuhan sehari-hari. Saat ia sedang mengisi embernya, tiba-tiba udara di sekelilingnya terasa berubah menjadi lebih dingin. Angin yang semula berhembus lembut berhenti seketika, dan suara kicauan burung serta serangga pun menghilang begitu saja, menciptakan keheningan yang mencekam.
Permukaan air di mata air itu beriak pelan, dan kabut kelabu tipis mulai naik dari dalamnya, menyebar perlahan mengelilingi seluruh area. Bau apek dan seperti daging membusuk tercium samar, membuat perut Akito terasa mual.
Ia segera berdiri tegak, memusatkan seluruh indranya. Jantungnya berdegup tenang namun waspada. Ia merasakan aliran energi yang sama seperti saat bertemu Serigala Bayangan dulu—namun kali ini, tekanannya terasa lebih berat dan menusuk tulang.
Dari balik semak-semak yang lebat di sisi atas mata air, sesosok makhluk lain melangkah keluar perlahan. Bentuknya menyerupai manusia setinggi dua meter, namun kulitnya pucat membiru dan tampak kering seperti kayu lapuk. Matanya berlubang kosong tanpa bola mata, namun memancarkan sinar kelabu redup yang mengawasi setiap gerakan Akito. Di tangannya, ia menggenggam sebilah belati yang terbuat dari tulang tajam, dan di sekujur tubuhnya melayang serpihan energi hitam kecil yang perlahan jatuh ke tanah dan membuat rumput layu begitu tersentuh.
Akito mengenali makhluk itu dari ingatan kolektif yang ia miliki tentang dunia ini: Prajurit Bayangan, roh makhluk yang telah mati namun terikat oleh energi kegelapan untuk terus berjalan dan melayani kekuatan jahat. Mereka lebih cerdas dan lebih kuat daripada Serigala Bayangan, dan biasanya menjadi mata-mata atau pasukan penjelajah yang dikirim untuk menguji kekuatan wilayah yang akan diserang.
Makhluk itu menggerakkan kepalanya, seolah mencium keberadaan Akito. Tanpa suara apa pun, ia mengangkat belatinya dan melangkah mendekat dengan langkah yang lambat namun pasti. Setiap langkahnya meninggalkan jejak hitam di tanah yang perlahan menghitamkan rumput di sekitarnya.
Akito tidak mundur. Kali ini, ia sudah lebih siap dan mengerti batas kemampuannya. Ia tahu ia tidak boleh mengeluarkan tenaga berlebihan, tapi juga tidak bisa kalah atau melarikan diri begitu saja—jika makhluk ini lolos dan masuk ke desa, konsekuensinya akan sangat parah.
Ia meletakkan ember airnya dengan tenang, lalu mengangkat kedua tangannya sedikit ke samping tubuhnya, bersiap menghadapi serangan apa pun yang akan datang.
Prajurit Bayangan itu melompat mendadak dengan kecepatan yang mengejutkan, mengayunkan belati tulangnya secara miring ke arah leher Akito. Udara terasa terpotong oleh gerakan itu.
Akito menggerakkan tubuhnya dalam sekejap, menghindar hanya dengan selisih rambut. Belati itu menghantam tanah dan menancap cukup dalam, membuat retakan kecil yang menyebar. Sebelum makhluk itu sempat menarik senjatanya kembali, Akito melangkah mendekat, mengerahkan tenaga fisiknya secara terukur—hanya dua kali lipat kekuatan normal, tidak lebih—lalu memukul d**a makhluk itu dengan telapak tangannya.
BUM!
Suara benturan keras bergema. Tubuh Prajurit Bayangan itu terlempar mundur hingga menabrak batang pohon besar, membuat dedaunan berjatuhan. Namun berbeda dengan makhluk sebelumnya, makhluk ini tidak terlihat terluka parah. Ia hanya terguncang sebentar, lalu berdiri kembali dengan posisi yang sama, meski retakan kecil mulai terlihat di kulit tubuhnya.
Makhluk itu mengeluarkan suara dengusan serak, lalu mulai memancarkan kabut hitam yang lebih tebal dari sebelumnya. Kali ini, energi di sekelilingnya terasa semakin berat, seolah menekan tubuh Akito agar sulit bergerak.
“Jadi tenaga fisik saja tidak cukup,” gumam Akito sambil mengencangkan rahangnya. “Kalau begitu… aku harus menggunakan sedikit lagi, tapi tetap kendalikan agar tidak meluap.”
Ia memejamkan mata sebentar, memusatkan pikiran, lalu membiarkan segel di dalam dirinya melonggar sedikit lebih banyak dari biasanya. Kali ini ia tidak membiarkannya meledak tanpa kendali, melainkan berusaha membimbing aliran energi itu agar mengalir ke seluruh otot dan sarafnya, bukan meluap keluar. Cahaya keemasan yang sangat samar, hampir tidak terlihat kecuali jika diamati sangat dekat, menyelimuti tubuhnya seolah selaput tipis.
Begitu energi itu mengalir, rasa berat yang menekannya hilang seketika. Gerakannya menjadi lebih lincah, dan setiap napasnya terasa lebih kuat. Ia melesat maju sebelum Prajurit Bayangan itu sempat menyerang lagi, menangkis ayunan belati tulang itu dengan satu tangan kosong, lalu mengayunkan pukulan kedua tepat di kepala makhluk itu.
Kali ini, energi cahaya yang menyelimuti tangannya menembus perlindungan kegelapan. Teriakan melengking keluar dari mulut makhluk itu, tubuhnya terbakar dari dalam ke luar, perlahan menyusut menjadi asap hitam yang lenyap terbawa angin. Dalam waktu singkat, tempat itu kembali tenang, hanya menyisakan bau terbakar yang samar dan tanah yang kembali memulihkan warna hijaunya secara perlahan.
Begitu makhluk itu menghilang, selaput cahaya di tubuh Akito segera lenyap dan masuk kembali ke dalam dirinya. Namun rasa lemas kembali menyergap, meski kali ini tidak separah kejadian sebelumnya karena ia berusaha mengendalikannya dengan lebih baik. Ia bersandar pada pohon terdekat, menarik napas panjang untuk menenangkan detak jantungnya.
Ia berhasil lagi. Tapi kali ini, saat menatap sisa energi gelap yang masih menguap perlahan, perasaan waspada di hatinya bertambah berkali-kali lipat.
➡️ Penutup Bab: Akito menyeka keringat dingin di dahinya, lalu melirik ke arah jalan setapak yang menuju ke dalam hutan yang lebih dalam. Jika ada Prajurit Bayangan yang dikirim untuk mengintai, berarti pasti ada kekuatan yang lebih besar lagi yang mengendalikannya, dan mereka sedang bergerak mendekat. Di dalam hatinya, satu pertanyaan besar mulai muncul: sampai kapan ia bisa terus bersembunyi, menyelesaikan setiap bahaya sendirian tanpa ketahuan, sementara kekuatan kegelapan itu semakin dekat dan semakin kuat?