Setelah mengusir Prajurit Bayangan itu, Akito berdiri diam beberapa saat di tepi mata air. Ia memastikan tidak ada lagi sisa energi gelap yang tersisa, baru kemudian melangkah pulang dengan langkah yang tetap teratur meski rasa lemas masih terasa menjalar di sekujur tubuhnya. Ia membiarkan wajahnya terlihat sedikit pucat dan lelah agar tidak menimbulkan kecurigaan saat bertemu warga di jalan.
Sesampainya di rumah, Sakura segera menyambutnya dengan cemas. “Kau lama sekali, Nak. Hati-hati ya, belakangan ini udara terasa aneh, dan kabut sering turun lebih awal dari biasanya.”
Akito hanya mengangguk lembut, meletakkan ember airnya, lalu duduk di atas bangku kayu sambil mengatur napas. “Aku hanya berhenti sebentar untuk beristirahat, Bu. Tidak apa-apa.”
Namun di dalam hatinya, ia tahu bahwa ketenangan itu hanyalah topeng semata. Kehadiran dua makhluk berturut-turut dalam waktu singkat bukanlah kebetulan. Itu adalah tanda jelas bahwa pengaruh Kuro-Ryoku semakin merambat mendekati Desa Hinokaze, dan makhluk-makhluk itu dikirim untuk memetakan kondisi wilayah ini.
Selama seminggu berikutnya, keadaan berubah semakin nyata bagi seluruh warga desa. Setiap sore, kabut tebal berwarna kelabu akan turun menutupi seluruh area, membuat jarak pandang hanya tinggal beberapa meter saja. Suasana menjadi lebih dingin dari biasanya, dan hewan-hewan di kandang mulai gelisah lebih sering, seolah mencium bahaya yang tak terlihat.
Pendeta Harumasa mulai merasa khawatir. Ia mengumpulkan para tetua desa untuk membahas keadaan ini. “Kabut ini bukan kabut biasa,” katanya dalam pertemuan itu, suaranya terdengar berat. “Ia membawa energi yang tidak wajar. Seingatku, hal seperti ini terakhir terjadi lebih dari seratus tahun yang lalu, saat kekuatan kegelapan mulai bangkit kembali.”
Mendengar penjelasan itu, wajah para tetua terlihat muram. Mereka sadar, desa mereka tidak memiliki kekuatan pertahanan yang cukup kuat. Bahkan sihir yang dimiliki sebagian warga hanyalah sihir dasar untuk kebutuhan sehari-hari, bukan untuk bertarung.
Sementara itu, Akito semakin waspada. Ia membagi waktunya: membantu pekerjaan rumah dan ladang di siang hari, lalu menjelajahi pinggiran Hutan Kageyama saat sore menjelang untuk memantau pergerakan makhluk-makhluk gelap itu. Ia mulai terbiasa mengatur kekuatannya, hanya mengeluarkan bagian yang diperlukan saja agar rasa lemas setelahnya tidak terlalu parah.
Namun bahaya yang datang tidak selalu datang sendirian.
Suatu sore, saat kabut mulai turun lebih tebal dari hari-hari sebelumnya, Akito sedang berpatroli di bagian timur hutan yang berbatasan langsung dengan ladang-ladang warga. Udara terasa berat dan sunyi, hanya sesekali terdengar suara gesekan dedaunan yang digerakkan angin samar.
Tiba-tiba, telinganya menangkap suara langkah kaki yang banyak dan berbaris teratur, disertai dengusan napas yang kasar. Bukan satu atau dua makhluk, melainkan puluhan.
Jantung Akito berdegup lebih cepat. Ia segera bersembunyi di balik semak-semak lebat, mengintip ke arah sumber suara itu. Yang terlihat membuat matanya melebar kaget.
Berjalan keluar dari balik pepohonan, terlihat sekelompok besar Serigala Bayangan—jumlahnya mencapai lebih dari dua puluh ekor—berjalan berbaris di bawah pimpinan tiga sosok Prajurit Bayangan yang lebih tinggi dan besar dari yang pernah ia lawan sebelumnya. Tubuh mereka memancarkan kabut hitam yang lebih pekat, dan tekanan energi yang mereka keluarkan terasa jauh lebih kuat dari makhluk yang pernah ia hadapi.
“Ini tidak baik,” gumam Akito dalam hati, tangannya mengepal erat. “Jika mereka terus maju, dalam waktu setengah jam saja mereka sudah bisa masuk ke dalam pemukiman.”
Ia harus menghentikan mereka, tapi ia sadar kemampuannya memiliki batas. Jika ia mengerahkan terlalu banyak tenaga sekaligus melawan jumlah sebesar ini, ia bisa pingsan di tengah pertarungan dan justru menjadi sasaran empuk. Namun jika ia membiarkan mereka lewat, nyawa seluruh warga desa yang terancam.
Saat ia masih memikirkan strategi terbaik, salah satu Prajurit Bayangan itu tiba-tiba mengangkat kepalanya, mengendus udara di sekelilingnya. Matanya yang berlubang itu seolah menatap tepat ke arah tempat persembunyian Akito. Makhluk itu mengeluarkan suara dengusan keras, lalu menunjuk ke arah semak-semak tempat ia bersembunyi.
Tanpa perintah lagi, seluruh Serigala Bayangan itu langsung melompat maju dengan kecepatan tinggi, menerobos semak-semak untuk menyerang.
Tidak ada waktu lagi untuk bersembunyi.
Akito melompat mundur beberapa langkah, lalu berdiri tegak di tempat terbuka, memposisikan dirinya agar menjadi penghalang antara kelompok makhluk itu dan jalan menuju desa. Ia memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang, lalu membiarkan segel di dalam dirinya melonggar cukup jauh untuk mengeluarkan kekuatan yang dibutuhkan—namun tetap berusaha mengendalikan alirannya sebaik mungkin.
Selaput cahaya keemasan yang lebih terang dari sebelumnya menyelimuti seluruh tubuhnya, membuat kabut hitam di sekitarnya menyusut mundur seolah takut tersentuh. Suhu udara di sekitarnya terasa menghangat, melenyapkan rasa dingin yang menyengat.
Serigala Bayangan pertama melompat menyerang dengan mulut terbuka lebar, memperlihatkan taring tajamnya. Akito bergerak secepat kilat, menghindar ke samping, lalu memukul sisi tubuh makhluk itu dengan telapak tangan yang dibalut cahaya. Begitu sentuhan itu terjadi, makhluk itu menjerit melengking, tubuhnya terbakar dari dalam dan hancur menjadi asap hitam dalam sekejap.
Namun makhluk-makhluk lain terus menyerang tanpa henti, seolah tidak mengenal rasa takut atau lelah. Satu per satu mereka maju, dan Akito terus bergerak lincah, menghindar dan menyerang dengan gerakan yang terukur. Setiap kali ia memukul, cahaya itu akan melenyapkan energi gelap yang menyusun tubuh mereka. Namun seiring berjalannya waktu, jumlah mereka masih banyak, dan tenaga yang dikeluarkan Akito mulai terasa semakin besar.
Rasa lemas perlahan mulai menyusup ke dalam tubuhnya. Gerakannya mulai sedikit melambat, napasnya terasa memburu. Ia sadar, jika ini terus berlanjut, segelnya akan terbuka lebih lebar dari yang ia rencanakan, atau ia akan kehabisan tenaga sebelum mengalahkan semuanya.
Saat ia tertekan dan terdesak, tiga Prajurit Bayangan pimpinan itu akhirnya ikut terjun menyerang secara bersamaan. Mereka bergerak lebih cepat dan lebih terkoordinasi, mengepung Akito dari tiga arah sekaligus. Serangan mereka datang bertubi-tubi, membuat Akito harus bertahan sambil mundur selangkah demi selangkah.
Salah satu serangan belati tulang berhasil melukai lengan kirinya. Rasa perih dan dingin yang menusuk menyebar dari luka itu, membawa energi gelap yang berusaha menyusup masuk ke dalam tubuhnya. Akito mengernyit kesakitan, dan pada saat itu, karena rasa sakit serta bahaya yang mengancam nyawanya, kendali yang ia jaga selama ini terlepas seketika.
Segel di dalam jiwanya bergetar hebat, lalu retak sedikit lebih lebar dari yang pernah terjadi sebelumnya.
Tanpa kendali sadarnya, semburan cahaya keemasan yang sangat terang meledak keluar dari seluruh tubuhnya, menyebar ke segala arah dalam radius puluhan meter. Cahaya itu begitu terang hingga menembus kabut hitam, menerangi seluruh bagian hutan di sekitarnya seolah siang hari.
Begitu cahaya itu menyentuh makhluk-makhluk gelap, teriakan-teriakan melengking memenuhi udara. Semua Serigala Bayangan dan Prajurit Bayangan yang berada di area itu langsung terbakar, hancur dan lenyap tanpa meninggalkan jejak apa pun, seolah tidak pernah ada sama sekali. Tekanan energi gelap yang menyelimuti tempat itu hilang seketika, digantikan oleh udara yang segar dan hangat kembali.
Namun akibatnya juga datang dengan cepat.
Begitu semburan cahaya itu meredup dan masuk kembali ke dalam tubuh Akito, rasa lemas yang luar biasa menyergapnya berkali-kali lipat lebih berat dari sebelumnya. Kekuatannya habis terkuras hingga ke titik terendah. Luka di lengannya terasa semakin perih, pandangannya menjadi kabur dan berputar, dan kakinya tidak sanggup lagi menopang berat tubuhnya.
Ia terjatuh berlutut di atas tanah, napasnya terengah-engah. Ia berusaha bertahan sadar, berusaha memastikan tidak ada saksi mata yang melihat kejadian itu, namun kesadarannya semakin memudar.
Namun sebelum matanya benar-benar terpejam, ia melihat sesuatu yang membuat hatinya berdebar kencang karena ketakutan yang berbeda.
Di kejauhan, di balik kabut yang masih tersisa dan di antara celah pohon-pohon tinggi, terlihat sepasang mata yang menyala dengan cahaya merah darah yang sangat besar dan tajam. Mata itu mengawasinya dari jarak yang jauh, seolah menilai kekuatan yang baru saja dikeluarkannya. Dan seolah merasakan tatapan Akito, mata itu perlahan menghilang, tertutup kembali oleh kabut yang mulai menebal lagi.
➡️ Penutup Bab: Kesadaran Akito akhirnya lenyap, tubuhnya terbaring tergeletak di tanah. Ia berhasil menyelamatkan desa kali ini, tapi dengan harga yang mahal. Cahaya yang ia keluarkan tadi tidak hanya melenyapkan musuh, tapi juga pasti telah mengirimkan sinyal yang jelas ke sumber kekuatan kegelapan yang lebih jauh. Kini mereka sudah tahu: di tempat ini ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang berbahaya bagi rencana mereka. Dan itu artinya, bahaya yang jauh lebih besar pasti akan datang menyusul dalam waktu yang tidak lama lagi.