Saat kesadaran Akito perlahan pulih, yang pertama ia rasakan adalah nyeri di lengan kiri dan rasa lemas yang terasa sampai ke tulang sumsum. Ia membuka mata perlahan, mendapati dirinya sudah terbaring di tempat tidur di rumahnya. Cahaya matahari pagi menyelinap masuk lewat celah dinding, dan udara terasa lebih segar dibanding sore kemarin.
Di samping tempat tidur, Sakura duduk bersandar, matanya terlihat sembab seolah baru menangis. Begitu melihat Akito bergerak, ia langsung terbangun dan memegang tangan putranya dengan lembut.
“Syukurlah… kau sadar juga,” suaranya bergetar. “Kau ditemukan tergeletak tak sadarkan diri di pinggir hutan oleh beberapa warga yang hendak memeriksa pagar ladang. Lenganmu terluka, dan suhu tubuhmu sempat turun sangat dingin. Kami kira kau terjangkit hawa jahat dari kabut itu.”
Tidak lama kemudian Kenji masuk bersama Pendeta Harumasa. Pendeta itu memeriksa luka di lengan Akito dengan teliti, mengoleskan ramuan dari daftar obat yang biasa dipakainya.
“Lukanya aneh,” kata Harumasa sambil mengerutkan dahi. “Terlihat seperti digesek benda tajam, tapi di sekelilingnya ada sisa hawa dingin yang tidak biasa. Seolah ada sesuatu yang berusaha masuk ke dalam tubuhmu. Untungnya ketahanan tubuhmu lebih kuat dari anak seusiamu, jadi bisa bertahan sampai sekarang.”
Akito hanya mendengarkan sambil berpura-pura lemah. Ia tahu persis apa penyebabnya—bekas cakar Prajurit Bayangan yang membawa energi gelap, dan sisa tenaganya sendiri yang habis terkuras. Ia tidak berani bercerita apa pun, cukup mengangguk dan berkata bahwa ia hanya tersesat dan terjatuh saat kabut mulai turun.
Selama dua hari berikutnya, ia hanya beristirahat. Padahal luka fisiknya sudah hampir kering, tapi ia tetap berpura-pura lemas supaya tidak ada yang curiga. Sambil berbaring, pikirannya terus melayang ke kejadian sore itu. Cahaya yang meledak keluar pasti terasa dari jarak jauh. Mata merah besar yang dilihatnya di balik kabut itu… rasanya bukan milik makhluk biasa. Ada kekuatan besar yang sedang mengawasi desa ini sekarang.
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama. Di hari ketiga, kabut kembali turun, kali ini lebih tebal dan bertahan sepanjang hari. Bersama itu, berita buruk mulai berdatangan.
Beberapa warga mulai mengeluh merasakan pusing, demam, dan badan terasa dingin meski mengenakan pakaian tebal. Awalnya hanya satu atau dua orang, tapi dalam waktu tiga hari, jumlahnya bertambah sampai belasan orang. Gejalanya sama: suhu tubuh turun drastis, nafsu makan hilang, dan rasa lemas yang luar biasa. Ramuan biasa dan doa dari Pendeta Harumasa hanya bisa meredakan sedikit rasa sakit, tapi tidak menyembuhkannya sepenuhnya.
Suasana desa berubah menjadi cemas. Orang tua duduk di depan rumah memandangi kabut dengan wajah khawatir, anak-anak dilarang keluar lebih dari pagar halaman.
Akito pun ikut membantu sebisa mungkin. Ia membawa air, menyiapkan kayu bakar, dan melihat langsung kondisi warga yang sakit. Begitu ia mendekat ke salah satu rumah penderita, perasaannya langsung menangkap sesuatu.
Di dalam ruangan yang terasa pengap dan dingin, ia bisa merasakan aliran energi gelap yang lembut tapi terus merambat. Energi itu tidak cukup kuat untuk melukai secara langsung, tapi perlahan menyedot kehangatan dan tenaga kehidupan dari tubuh orang yang terjangkit.
“Ini bukan penyakit biasa,” pikir Akito. “Ini sisa pengaruh dari makhluk-makhluk yang lewat. Energi mereka tertinggal di udara dan tanah, lalu masuk ke tubuh orang yang ketahanannya lemah.”
Ia tahu satu-satunya cara mengusirnya adalah dengan energi cahaya—energi yang sama dengan yang ada di dalam dirinya. Tapi bagaimana caranya tanpa ketahuan? Jika ia menyembuhkan orang dengan cepat, semua orang akan bertanya-tanya mengapa ia bisa melakukannya padahal dianggap tidak punya sihir.
Malam itu, setelah seluruh desa terlelap, Akito keluar diam-diam. Ia berjalan menyusuri jalanan desa yang diselimuti kabut tipis, lalu memejamkan mata dan memusatkan pikiran. Kali ini ia berusaha dengan cara yang berbeda—tidak meledakkan kekuatan, tapi hanya mengeluarkan sedikit saja, menyebarkannya perlahan seperti hembusan angin.
Segel di dalam dirinya melonggar sedikit, dan cahaya keemasan yang sangat samar menyebar keluar, melayang rendah mengikuti aliran udara. Begitu cahaya itu menyentuh kabut yang membawa energi gelap, kabut itu perlahan menghilang, digantikan hawa yang lebih segar dan hangat.
Ia melakukan hal yang sama di depan rumah-rumah warga yang sakit. Energi cahayanya masuk diam-diam lewat celah dinding dan jendela, perlahan membersihkan sisa hawa dingin yang menempel di tubuh mereka. Ia tidak memaksakan tenaga, hanya mengeluarkan secukupnya saja agar tubuhnya tidak terlalu lelah sesudahnya.
Keesokan harinya, perubahan mulai terasa. Kabut tidak lagi setebal hari-hari sebelumnya, dan beberapa warga melaporkan bahwa rasa dingin dan pusing mereka sudah berkurang. Dalam tiga hari berikutnya, semua orang yang sakit perlahan pulih kembali seolah tidak terjadi apa-apa.
Pendeta Harumasa hanya menganggapnya sebagai tanda hawa jahat itu sudah lewat, dan warga desa kembali bernapas lega. Hanya Akito yang tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Namun hal ini membuatnya makin sadar: kekuatannya bukan hanya untuk melawan, tapi juga bisa melindungi dengan cara yang halus. Selama ia berhati-hati, ia bisa menjaga desa ini tanpa harus membongkar rahasianya.
➡️ Penutup Bab: Malam itu, Akito berdiri di atas bukit kecil memandangi desa yang kembali tenang. Ia merasa lega, tapi di hatinya masih tersisa rasa waspada. Jika sekadar sisa energi saja bisa menimbulkan demam seperti ini, bagaimana jika makhluk yang lebih kuat benar-benar datang menyerang secara terbuka? Bisakah ia terus melindungi semuanya sendirian selamanya?