Waktu berjalan seperti air sungai yang terus mengalir tak terhenti. Lima tahun sudah berlalu sejak hari kejadian di pinggir hutan itu. Kini Akito telah menginjak usia enam belas tahun. Tubuhnya tumbuh tinggi tegap, bahunya melebar, dan otot-ototnya terbentuk padat bukan karena latihan khusus, melainkan hasil dari bekerja keras sehari-hari di ladang dan hutan. Namun di mata seluruh warga Desa Hinokaze, ia tetaplah pemuda biasa yang dianggap tidak memiliki bakat sihir apa pun—seorang pemuda yang hanya bisa mengandalkan tenaga kasar untuk bertahan hidup.
Setelah insiden dengan kawanan makhluk bayangan itu, suasana di desa perlahan kembali tenang. Kabut tebal yang membawa hawa dingin jarang lagi turun menyelimuti pemukiman. Penyakit aneh yang sempat menjangkit beberapa warga juga tidak muncul kembali. Bagi penduduk desa, itu pertanda bahwa bahaya sudah berlalu dan kehidupan bisa berjalan seperti sedia kala. Tapi bagi Akito, ketenangan ini justru terasa seperti kedangkalan sebelum badai besar melanda. Ia tahu, kekuatan kegelapan itu tidak musnah begitu saja; mereka hanya mundur sementara, mengamati, dan menunggu saat yang tepat untuk menyerang lagi.
Selama lima tahun ini, Akito tidak hanya hidup dalam rutinitas sebagai pemuda desa. Setiap malam, saat seluruh penghuni desa sudah terlelap dalam tidur, ia akan menyelinap keluar menuju bagian paling sepi di pinggiran Hutan Kageyama. Di sana, ia meluangkan waktu untuk memahami dan mengendalikan kekuatan yang tersegel di dalam dirinya. Ia belajar mengatur seberapa banyak energi yang boleh keluar, seberapa cepat ia bisa memulihkan tenaga, dan bagaimana cara menggunakan kekuatannya tanpa meninggalkan jejak yang mencurigakan. Ia sadar, jika suatu saat bahaya yang lebih besar datang, ia tidak bisa lagi hanya mengandalkan keberuntungan dan naluri bertahan hidup semata.
Suatu sore, saat matahari mulai condong ke barat dan mewarnai langit dengan semburat jingga keemasan, Akito baru saja pulang dari ladang. Ia membawa pulang sekeranjang sayuran dan seikat kayu bakar. Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, ia langsung mendengar suara batuk yang terdengar parau dan berulang kali dari kamar tidur.
Langkahnya segera dipercepat. Ia meletakkan barang bawaannya sembarangan di sudut ruangan, lalu masuk ke dalam kamar. Di atas alas tidur dari jerami yang sudah dilapisi kain, terbaring Sakura, ibunya. Wajahnya yang dulu masih terlihat segar dan cerah kini tampak jauh lebih pucat dan keriput. Napasnya terasa pendek, dan setiap kali ia menghembuskan napas, terlihat sedikit gemetar. Di sisi tempat tidur, Kenji duduk membungkuk, tangannya memegang erat tangan istrinya dengan pandangan yang sarat kekhawatiran.
“Ibu, kenapa tidak memanggilku lebih awal?” tanya Akito segera. Ia mendekat, lalu dengan hati-hati meletakkan punggung tangannya di dahi Sakura. Suhu tubuhnya terasa dingin, bukan panas seperti orang yang sedang demam biasa.
Sakura membuka matanya perlahan, lalu mencoba tersenyum meski terlihat sangat lelah. “Tidak apa-apa, Nak. Hanya sedikit masuk angin. Biasanya kalau sudah beristirahat sebentar, nanti akan membaik sendiri.”
“Sudah tiga bulan ini kondisinya naik turun, Bu,” jawab Akito dengan nada lembut namun tegas. “Ramuan dari Pendeta Harumasa juga sudah habis dua kali, tapi perubahannya tidak terasa banyak. Ada sesuatu yang salah di sini, bukan sekadar masuk angin biasa.”
Kenji menghela napas panjang, lalu mengusap wajahnya dengan telapak tangan yang kasar dan penuh kapalan. Ia menoleh menatap Akito, matanya terlihat sayu namun tetap tegas. “Ayah juga sudah menyadarinya, Akito. Semenjak kabut gelap itu dulu datang dan pergi, udara di desa ini terasa berbeda. Ada hawa dingin yang seolah menempel di tanah dan tumbuhan, perlahan meresap masuk ke tubuh makhluk hidup. Bagi kalian yang masih muda dan tubuhnya kuat, mungkin tidak terasa dampaknya. Tapi bagi kami yang usianya sudah lanjut, tenaga alami tubuh sudah mulai menipis, jadi hawa itu bekerja perlahan menggerogoti kekuatan hidup.”
Mendengar penjelasan itu, hati Akito terasa seperti dicengkeram kuat. Ia sudah menduga hal itu, tapi mendengarnya diucapkan langsung membuatnya merasa sangat tidak berdaya. Ia tahu sumber penyakit itu: sisa energi kegelapan yang tidak sempat dibersihkan sepenuhnya, tersebar halus dan tak terlihat. Ia juga tahu, ia punya kekuatan untuk membersihkannya. Namun ia sadar, kekuatannya itu hanya bisa mengusir racunnya, tidak bisa memutar kembali waktu atau menambah usia seseorang.
Malam itu, setelah Kenji dan Sakura terlelap karena kelelahan, Akito duduk bersila di sudut kamar. Ia menatap kedua telapak tangannya yang tampak biasa saja. Perlahan, ia memejamkan mata dan memusatkan seluruh kesadarannya ke dalam. Ia merasakan aliran energi yang mengalir deras di dalam dirinya, tertahan rapat oleh lapisan segel yang terasa semakin kuat namun juga semakin lentur seiring waktu. Dengan pikiran yang tenang, ia memerintahkan segel itu untuk melonggar sedikit saja.
Cahaya keemasan yang sangat samar, hampir tidak terlihat jika tidak diamati dengan saksama, mulai keluar dari pori-pori kulitnya. Ia mengarahkan energi itu perlahan, mengalirkan seperti air yang menetes, menuju ke arah tempat tidur Sakura dan Kenji. Cahaya itu menyebar seperti kabut hangat, menyelimuti tubuh mereka tanpa membangunkan tidur mereka. Dalam hati, Akito berdoa agar energi itu bisa menghangatkan tubuh mereka dan membersihkan sisa hawa dingin yang menggerogoti jantung dan paru-paru.
Ia melakukannya setiap malam, diam-diam, tanpa memberi tahu siapa pun. Selama beberapa minggu, usahanya membuahkan hasil. Sakura terasa sedikit lebih kuat, batuknya berkurang, dan nafsu makannya sedikit membaik. Namun perbaikannya berjalan sangat lambat, seolah ada batas yang tidak bisa ditembus lagi. Akito sadar, ia hanya bisa memperlambat prosesnya, bukan menghentikannya selamanya.
Suatu sore, saat langit cerah dan angin berhembus sejuk membawa aroma rumput yang baru dipotong, Kenji memanggil Akito untuk duduk bersamanya di bangku kayu di halaman rumah. Sakura juga duduk di sisi lain, terlihat lebih segar hari itu. Suasana terasa tenang, namun ada keseriusan yang tergambar jelas di wajah kedua orang tuanya.
“Akito,” panggil Kenji memulai pembicaraan. “Selama enam belas tahun ini, Ayah dan Ibu memperhatikan dirimu dengan saksama. Kami tahu kau bukan anak biasa. Kami melihat bagaimana kau bisa mengangkat beban yang seharusnya terlalu berat untuk anak seusiamu, bagaimana luka yang kau terima saat bekerja bisa sembuh jauh lebih cepat dari biasanya, dan bagaimana udara di sekitar rumah terasa lebih hangat setiap kali kau ada di dekat orang yang sakit.”
Akito tertegun. Ia menunduk, merasa segala usahanya menyembunyikan rahasia itu ternyata tidak luput dari pengamatan orang tuanya sendiri. “Maafkan Ayah, Ibu. Aku tidak bermaksud menyembunyikan hal ini. Aku hanya takut jika orang lain tahu, mereka akan menganggapku makhluk aneh atau membawa bahaya bagi desa.”
Sakura tersenyum lembut, lalu menjulurkan tangannya untuk mengusap rambut kepala Akito dengan penuh kasih sayang. “Kau tidak perlu minta maaf, Nak. Justru kami bangga melihat betapa bertanggung jawabnya dirimu. Kau menyembunyikan kekuatan itu bukan untuk keuntungan diri sendiri, tapi demi menjaga kedamaian orang-orang di sekitarmu. Itu sudah menunjukkan hatimu yang baik.”
“Tapi dengarkan nasihat kami baik-baik,” lanjut Kenji, suaranya menjadi lebih berat namun tegas. “Kekuatan yang kau miliki itu tidak diberikan semata-mata untuk disembunyikan selamanya. Ia ada karena suatu alasan. Desa ini terlalu kecil untuk memuat takdirmu. Bahaya yang sedang mengintai kita ini hanya sebagian kecil dari apa yang sebenarnya terjadi di dunia luar. Jika kau terus tinggal di sini dan hanya bersembunyi, suatu hari nanti kekuatan itu bisa menjadi beban yang justru menyakiti dirimu sendiri.”
Akito mengangkat wajahnya, matanya mulai berkaca-kaca. “Lalu apa yang harus aku lakukan? Ke mana aku harus pergi?”
“Pergilah ke Kota Tenryou,” jawab Sakura segera. “Itu kota terbesar di wilayah selatan. Di sana ada Serikat Petualang, tempat berkumpulnya para penyihir, ksatria, dan orang-orang yang memahami seluk-beluk kekuatan dan bahaya yang mengancam dunia ini. Di sana kau bisa mencari jawaban tentang siapa dirimu sebenarnya, dari mana kekuatan itu berasal, dan bagaimana cara menggunakannya dengan benar.”
“Tapi bagaimana dengan kalian?” tanya Akito dengan suara yang bergetar. “Aku tidak ingin meninggalkan Ayah dan Ibu sendirian di sini.”
“Dengar, Nak,” kata Kenji sambil menepuk bahunya dengan kuat. “Perjalanan hidup kami di dunia ini sudah hampir sampai pada akhirnya. Tubuh ini sudah tua dan tenaganya sudah habis. Ke mana pun kami pergi, itu sudah menjadi takdir. Tapi hidupmu masih panjang. Jangan biarkan masa depanmu terkurung hanya karena rasa takut atau rasa sayang yang berlebihan. Ingatlah, kekuatan itu ada agar kau bisa melindungi bukan hanya kami, tapi juga banyak orang lain yang belum kau kenal.”
Percakapan sore itu terasa sangat berat bagi hati Akito. Ia merasa seolah ditarik antara kewajiban untuk tinggal bersama keluarga dan panggilan untuk melangkah menuju jalan yang lebih luas. Namun mendengar ketulusan dan kebijaksanaan dari kedua orang tuanya, perlahan ia mulai menerima kenyataan itu. Ia mengangguk pelan, menahan air mata yang hendak tumpah.
“Aku mengerti, Ayah, Ibu,” ucapnya lirih namun mantap. “Aku akan pergi. Aku akan belajar, mencari jawaban, dan menjadi orang yang bisa membuat kalian bangga.”
Dalam minggu-minggu berikutnya, Akito menghabiskan waktunya untuk mempersiapkan segalanya. Ia bekerja lebih giat lagi, memanen hasil ladang, memperbaiki pagar rumah, dan memastikan segala sesuatunya beres jika ia harus pergi nanti. Ia juga terus merawat keduanya, mencurahkan seluruh kasih sayang dan tenaganya agar hari-hari terakhir mereka berjalan dengan tenang dan bahagia.
Hingga tibalah hari yang tak terelakkan. Saat fajar menyingsing dan cahaya matahari pertama kali menyentuh puncak bukit Desa Hinokaze, Kenji dan Sakura menghembuskan napas terakhir mereka secara berurutan, terbaring berdampingan dengan wajah yang tenang dan damai. Akito duduk di sisi tempat tidur itu sepanjang malam, menggenggam tangan mereka sampai detik terakhir tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia tidak menangis tersedu-sedu, tapi rasa hampa yang terasa di dadanya teramat dalam, seolah ada bagian penting dari dirinya yang ikut pergi bersama mereka.
Seluruh warga desa turut berduka cita. Pendeta Harumasa memimpin upacara pemakaman dengan khidmat. Bagi mereka, kematian itu adalah hal yang wajar karena usia yang sudah lanjut. Tidak ada yang tahu bahwa di balik kepergian itu tersembunyi rahasia besar dan awal dari perjalanan panjang yang akan ditempuh oleh Akito.
Setelah masa berkabung selesai, Akito berdiri sendirian di depan gubuk tempat ia dibesarkan selama enam belas tahun. Ia membawa tas kain sederhana berisi pakaian cadangan, sedikit bekal makanan kering, sebilah pisau berburu pemberian Kenji, dan sebuah kain selendang peninggalan ibunya. Ia menutup pintu rumah itu rapat-rapat, lalu meletakkan kunci kayu di bawah batu besar di beranda, sesuai kebiasaan yang diajarkan ayahnya.
Sebelum melangkah pergi, ia berbalik dan menatap ke arah makam kedua orang tuanya yang terletak di atas bukit kecil yang menghadap ke matahari terbit. Angin pagi berhembus menerpa wajahnya, membawa kenangan tawa, nasihat, dan kasih sayang yang tak akan pernah terlupakan.
“Aku janji, Ayah, Ibu,” bisiknya dalam hati, suaranya terdengar mantap dan penuh tekad. “Aku akan menjalani jalan ini dengan sebaik-baiknya. Aku akan menemukan jawabanku, dan aku akan melindungi sebanyak mungkin orang seperti yang kalian ajarkan padaku.”
➡️ Penutup Bab: Akito memutar tubuhnya sepenuhnya, lalu mulai melangkah dengan langkah yang pasti menyusuri jalan setapak yang menuju ke luar desa, menembus hutan, dan mengarah ke arah kota besar yang selama ini hanya didengarnya dari cerita. Ia tidak tahu apa bahaya atau tantangan apa yang menantinya di depan sana, namun satu hal yang ia yakini: perjalanan ini adalah langkah pertama untuk mengungkap jati dirinya, sekaligus bersiap menghadapi gelombang kegelapan yang pasti akan datang menyapu seluruh dunia Tenkairyuu suatu hari nanti.