Hidupku memang gak miskin-miskin amat. Tentu, itu karena Ibuku sendiri seorang g***o. m*******i. Asupan uangnya ada di mana-mana, bahkan hari ini-sesuai katanya-aku bisa makan di restoran kesukaanku karena Ibu akan menjual tubuhku lagi pada seorang CEO—yang kuyakin perutnya buncit lagi.
3 jeti satu malam?
Itu terbilang besar. Ibu memang m*******i abal-abal, bahkan stok wanita di dalam rumahnya pun tak lebih dari angka 10.
Sialnya, meski besar, aku hanya mendapatkan kebagian 10 % saja. Gak masuk akal, bukan? Harusnya aku yang mendapatkan uang paling besar, tapi tak apa. Ketika kecelakaan sehingga mengharuskan operasi dan membutuhkan biaya cukup besar, Ibu tanpa pikir panjang menjual rumahnya. Entah karena aku aset paling berharga, atau karena dia memang sayang padaku.
"Sayang, ke sini, nak. Malam ini om Herman ingin senang-senang sama kamu."
Aku bangkit dari tiduranku di kasur yang empuk kemudian pergi ke ruang tamu. Benar saja. CEO itu buncit, kepalanya botak dan gak ada tampan-tampannya sekali. Saat melihatku, Om Herman langsung memandangku dengan kilatan nafsu. Ah, sial. Hari ini akan menjadi salah satu hari yang paling kubenci.
"Cantik, cokelat langsat dan ... manis," katanya dengan nada sedikit bergetar.
"Sini sayang, duduk di samping mama," kata Ibu dengan senyum mengembang.
"Boleh langsung saya bawa dik Tatanya?" tanya Herman sambil terus memandangku.
"Oh tentu, silakan Om Herman. Ta, buat Om Herman seneng ya malam ini."
"Iya, Ma."