Aku seorang gadis biasa. Kuliah di kampus swasta karena gagal seleksi masuk, yang sialnya kini aku terjebak dalam jurusan yang sama sekali tidak kuminati. Seni musik. Darn it. I mean, kenapa saat itu aku asal ikut dan asal kuliah saja? Kenapa juga saat itu aku menyetujui Fiska-mantan sahabatku-untuk ikutan memilih jurusan seni musik. Sekarang setelah dia jadi musuh karena om-om yang selama ini membiayai semua pakaiannya lebih memilih jalan-jalan denganku, situasinya jadi rumit, 'kan?
Sahabat itu memang taik kucing. Musuh utamanya adalah cinta seorang pria. Perhatian juga bisa, tapi kebanyakan putus karena ya itu tadi, cinta.
Gini ya, aku memang bukan wanita paling serba tahu di dunia ini namun yang jelas aku tahu bahwa cinta itu hanya sekumpulan taik munding. Cinta hanya manifestasi harapan manusia yang pada akhirnya dikecewakan juga. Entah oleh pihak ketiga atau oleh diri kita sendiri.
Syukurlah. Karena pemahaman itu, aku ditemukan dengan sahabat baru yang sama-sama merutuk cinta sampai ke akar-akarnya. Kenta. Dia adalah orang yang anti banget sama yang namanya anak SMA di mana sarangnya kalimat najis semacam, 'Mamih udah makan? Uhhh mamih imut banget sih, sini aku peyuk.'
Kerjaan Kenta setiap hari selain membicarakan film aksi tentang psikopat ya membicarakan pasangan di kampus. Seperti sekarang.
"Idih, lo lihat tuh l***e sok cantik banget jalan sama g***n barunya? Gue yakin deh, kalau itu cowok udah kere, kata luv luv yang dia ucapkan di i********: kemarin malam bullshit! Terus gue yakin besoknya dia cari g***n yang lebih tajir," ucap Kenta setengah berbisik.
"Ken," kataku seraya memutar bola mata sebal, "kita sedang membicarakan film psikopat, lagi seru-serunya nih, lo jangan asal main mengalihkan pembicaraan dong!"
Dia mendengus. "Gue kesel aja, Ta. Baru aja dua hari putus sama ketua BEM kampus kita, eh malah udah punya duit berjalan baru. Gue lebih senang cewek semacam lo yang jujur menjual harga diri lo demi ...," ucapnya menggantung. "Demi apa, Ta? Gue gak tahu alasan orang tua lo menjadikan lo kupukupu malam." Aku tergelak. Kukira yang keluar dari mulutnya hanya kata-k********r saja.
"Alasan? Gue gak pernah memikirkannya. Pernah dulu, cuma alasannya terkubur gitu aja seiring berjalannya waktu." Ya, aku pernah ada di posisi mempertanyakan kenapa hidupku seperti ini. Aku kabur dari rumah, tidak pulang berhari-hari, namun nahas wanita itu selalu saja mampu menarikku kembali ke dalam rumahnya lalu menjadikanku munci. "Hidup gue sedari awal udah kacau, Ken. Gue udah males memikirkan hal kayak gituan," sahutku lesu.
Kenta menatapku lekat seakan mengerti diriku terlebih hati dan pola hidup seorang wanita bernama Tata. Iris mata gelapnya sejenak membuatku takut, namun aku tahu Kenta adalah orang baik dan jujur yang pernah kutemui selama ini.
Setelah ada jeda waktu cukup lama, Kenta berujar lagi, "Lo rebut lagi aja, Ta. Biar seisi kampus dapat tontonan publik gratis seperti sinetron TV Indonesia." Mulutku mencebik kesal. Jalang yang tadi diumpat Kenta adalah Fiska. Dia memang terlihat sedang jalan dengan seorang laki-laki berjas, necis dan terlihat hedon.
"Hidup gue emang penuh drama, Ken. Saking penuhnya, gue males ah berhubungan sama masalah. Lagian ya, gue takut kejadiannya kayak kemarin-kemarin."
"Kemarin?" Ah ya, Kenta belum mengetahuinya.
"Gue iseng menggoda gebetan si Fiska eh gebetannya malah beneran suka sama gue. Akhir cerita, meski gue udah bilang gue cuma iseng, gebetannya malah jadi fanatik sama gue. Serem, 'kan? Hidup itu udah keras. Kalau kita cari-cari masalah kapan kita bahagianya." Sesaat setelah aku mengucapkan kalimat itu, Fiska jalan di depanku sambil menatapku murka. Kalau aku pura-pura takut dia bakal seneng gak ya? Hmmm aneh. Setelah kulakukan, bukannya seneng, Fiska menggeram marah sambil mendelik angkuh.
Kenta menepuk bahuku dua kali dengan jari lentiknya. "Sorry, Ta. Gue harus latihan bulu tangkis nih. Maklum, gue lolos seleksi buat tanding antar kampus bulan depan. See ya. Nanti malam kalau lo lagi gak disewa, gue mau ke rumah lo." Dasar perempuan aneh. Cita-cita jadi atlit atau guru olah raga, eh malah masuk jurusan matematika. Jelas bakal jadi mahasiswa abadi, dong.
Aku pun ikutan jalan meninggalkan kampus. Ibu sedang nabung buat beli mobil. Entah kenapa dia melarang keras aku mengendarai motor. Itu sebabnya, setiap pulang dari kampus, terpaksa aku jalan ke rumah sejauh 500 meteran.
Lima menit aku berjalan, di samping trotoar tak jauh dari tempatku berdiri aku melihat baliho tentang pembukaan cafe baru yang gaya arsitekturnya terkesan klasik, jauh dari nuansa futuristik yang sering kulihat di kafe yang pernah kukunjungi. Bisa dibilang aku terpana. Setiap hari aku pulang lewat sini, tapi aku tidak menyangka bangunan yang sedang dibangun itu jadinya akan sebagus ini.
"Ekhem." Seseorang berdeham. Suara baritonnya membuatku terlonjak kaget, bahkan nyaris melompat.
Saat mataku menengok ke belakang, demi apa pun, duniaku terhenti seketika. Aku tidak pernah melihat seorang pria dengan model seperti ini. Maksudku, kenapa matanya begitu tajam dengan iris mata cokelat yang begitu memikat? Jika pandanganku turun sedikit ke bawah, aku akan melihat hidung bangir dan bibir tipis dengan rahang tegas seperti patung dewa Yunani. Cambang tipis dan rapinya jujur menambah beberapa persen ketampanannya yang memang di atas rata-rata. Begitu pandanganku turun lagi ke bawah, napasku seketika terhenti ketika melihat balutan kameja putih yang nampak sedikit menonjol di bagian d**a. d**a bidangnya nampak gagah dan kekar. Dengan d**a itu, aku yakin semua wanita akan bertekuk lutut di hadapannya. Tidak, dengan semua lekukan tubuh sempurna itu, aku yakin perempuan sekelas Kenta pun akan mengais-ngais cinta untuk mendapatkan satu sentuhannya saja.
"Permisi, dik. Saya mau lewat."
Inikah yang namanya sempurna? Aku, yang pada dasarnya sering bersentuhan dengan kulit pria begitu sadar bahwa ada harga yang sangat mahal jika ingin bersentuhan dengannya. Perlu waktu untuk menguasai diri. Setelah menarik napas panjang kemudian mengembuskannya perlahan-lahan, aku pun berkata, "Maaf." Lalu berjalan meninggalkannya dengan perasaan kosong yang sulit kujelaskan. Semacam ada pengharapan namun aku paham tak ada gunanya berharap pada hal yang belum pasti kesuksesannya.
Kaki jenjangku sampai di pelataran depan rumah. Dilihat dari luar pun, suasana rumah nampak sepi dan terkesan mati. Jika lumrahnya seorang keluarga terdiri dari Ibu, Ayah dan anak, maka di rumahku hanya ada aku dan Ibu saja. Oh. Juga kumpulan wanita tunasusila.
Kulepas sepatu usangku. Langit kota Bandung gelap seperti hari-hari sebelumnya. Itu berarti, hujan akan turun membasahi bumi dengan tetesnya. Pandanganku memutar ke arah ufuk timur. Di sana aku melihat mobil putih terparkir. Perasaanku mulai tidak enak. Mobil itu adalah gambaran mimpi burukku selama ini. Tuhan jangan sampai dia kembali. Sudah 2 tahun ketenangan hidupku mulai teraih, dan kini, setelah pada akhirnya mimpi-mimpi indah di malam hari mulai bisa kurengkuh, dia akan merusaknya?
Dengan langkah kaki gemetar aku masuk ke dalam rumah. Lampu mati, gempita petir saling bersahutan di atas sana. Napasku impuls tercekat ketika aku melihat melihat bayangan pria b******k yang senang sekali melihat aku menderita. Seringai di bibirnya tersungging, lalu dengan gerakan cepat dia mengunci pintu lalu menjambak rambutku kasar.
"b******k! Lepasin gue!"
Dia tertawa setan. "Uang gue sudah diambil sama nyokap lo. Sekarang gue ambil apa yang menjadi hak gue."
"b******k! Lepasin gue, Bim!"
Namun meski aku melawan, tangan mencakar, kaki menendang-nendang, wanita tetaplah makhluk Tuhan yang rapuh baik hati dan fisiknya.
Sekali lagi, drama sedang mempermainkan hidupku. Bima adalah laki-laki b******k yang tidak tahu bagaimana memperlakukan seorang wanita.
Hasilnya?
Sudah pasti.
Darah keluar di sela-sela bibirku, lebam biru menempel seperti make up di antara pelipis dan daguku. Belum siksaan seksual yang dia berikan selama puluhan menit. Lengkap sudah. Bima telah menjelma menjadi pria b******k yang harusnya dimasukan ke dalam rekor muri sebagai pria paling banyak menyiksa perempuan bernama Tata Yulita Dewi.
Meski begitu, pantang aku menangis. Jika wanita lemah di fisik, aku harus kuat dalam hal ketahanan batin lebih dari siapa pun. "Tadi itu hebat, sayang," katanya sambil memakai baju.
"Gue berani sumpah, jika lo sampai membuat cacat tubuh gue, gue pastikan-"
"Sssssst," tukasnya. "Nanti malam kita akan melakukannya lagi, persiapkan dirimu."
"b******k!"
***
Lo ada di mana? Malam ini gue bisa ke rumah lo?
- Kenta
Kutatap layar ponselku sambil meremasnya kuat.
Jam 12 malam. Sekarang gue lagi otw menuju kerak neraka.
- Tata
Tak lama kemudian Kenta membalas.
Gue ikut dong. Males nih dari tadi di kamar mulu.
Belum sempat aku membalas, Bimo keburu mengambil ponselku lalu mematikannya tanpa memandangku.
"Jangan sibuk sendiri. Gue bayar supaya gue mendapatkan pelayanan terbaik, paham?" kata Bimo sambil menyalakan rokok di jarinya.
Sekarang kami sedang dalam perjalanan menuju pameran lukisan. Aku tidak terlalu tertarik dengan hal-hal berbau seni. Jadi selama aku mengikuti Bimo, aku hanya diam saja. Kadang memperhatikan Bimo yang sedang mengobrol dengan koleganya.
"Pacar baru, Bim?"
"Cuma temen kok, Om."
"Haha temen apa temen? Om kok baru lihat? Terus ke mana perempuan yang kamu ajak makan malam kemarin lusa?"
"Gak tahu tuh ke mana, dia kan temen Bimo juga."
Dasar laki-laki. Udah punya perempuan masih saja main api sama perempuan lain.
Mungkin ini sebab aku malas berhubungan dan memandang cinta itu lebih rendah dari sampah. Pengalaman adalah guru terbaik. Setahuku, aku belum pernah melihat pasangan hidup bahagia sampai kakek nenek. Ayahku saja gak tahu di mana rimbanya. Setiap aku tanya sama Ibu, yang dia katakan selalu saja, 'Kamu tidak punya Ayah, sayang. Ibu tiba-tiba hamil terus merojol deh. Kamu keluar terus hidup sampai sekarang.' Saat umurku masih 5 tahun, aku masih ingat bahwa aku sangat mempercayai kata-kata itu. Tapi sekarang? Itu hanya bualan orang tua yang tidak mau anaknya tahu masa lalu kelam mereka.
Selesai keliling pameran beserta kolega Bimo, kami berdua memutuskan pulang. Sayangnya hujan merambas deras. Sedari tadi aku berdoa semoga terjadi badai sehingga kami tidak bisa pulang ke rumah. Bimo pasti akan menyiksaku lagi. Rasa sakit di pelipisku masih kentara terasa. Andai aku tidak memakai make up, aku yakin orang-orang akan memandang Bimo tatapan tanya, lalu mencela. Sayangnya jika aku melakukan itu, siksaan akan semakin dasyat kurasa. Ibu? Wanita tua itu anteng-anteng aja ngitung uang. Bimo memang suka memberi uang yang sangat besar demi bisa mendapatkan kepuasan nafsu anehnya. Dan, harus kuakui, akulah korban terbaiknya. Aku selalu bisa menahan, meski ingin rasanya menendang.
"Hujannya semakin deras, Ta. Kita ngopi dulu di sana." Bimo memasukkan mobilnya ke kafe baru yang tadi aku pandangi di pinggir jalan. Tiba-tiba saja sekelebat bayangan pria sempurna itu masuk ke dalam otakku lalu menari-nari yang entah kenapa membuatku tenang. Bimo memilih tempat duduk paling ujung. Biar hangat, katanya. Padahal menurutku sama saja.
Di saat hujan seperti ini, enaknya minum apa ya? Grilled coffe nampaknya bisa menghangatkan tubuhku. Bimo punya pikiran yang sama. Selain memesan kopi, dia juga memesan smoke salmon salad. Aku malas makan, sebagai gantinya aku memesan beberapa appetizer. Setelah itu? Aku termenung sambil memandang kosong ke sisi jendela. Hujan deras sekali. Lucu, aku malah dibuat tenang olehnya. Kalau dipikir kembali, hujan memang selalu menematiku di saat aku sendiri meski sedang ada di tengah keramaian.
"Ekhem." Aku tersentak dari lamunanku. Suara itu, kata itu, aku pernah mendengarnya entah dari mana. Lalu bayangan seorang pria berjas pun muncul, aku bisa melihatnya dengan jelas dari kaca jendela. "Appetizers-nya nachos sama french fries minumannya grilled coffe." Aku menegak ludah satu kali. Pesanannya sama persis dengan pesananku. Dengan susah payah aku berbalik. Mataku semakin membelalak karena ternyata dia memang pria itu. Satu-satunya pria yang mendapat pujian dariku.
"Gila lama banget!" ucap Bimo kesal.
Aku masih memandangnya. Dia nampak berwibaya dengan setelan jas dan kameja putihnya. "Ke, tolong ambilkan laptop di ruangan saya!" Laki-laki itu memerintah. Memerintah? Itu artinya dia manager restoran ini? Tidak mungkin, pasti owner. Nada yang dia ucapkan adalah nada seorang bos kepada bawahannya.
"Ini laptopnya Pak Dewa." Dewa, jadi namanya Dewa.
Sial, tiba-tiba saja mata Dewa menghunus tepat ke arah mataku. Entah perasaanku saja atau bukan, aku melihat Dewa tersenyum ... sinis? Entah. Yang jelas dia tersenyum sambil memandangku.
"Woi!" sentak Bimo. "Ngelamunin siapa sih, Ta!? Lo jangan bikin mood gue anjlok, atau lo bakalan nangis lagi nanti malem!"