"Bu, tolong buka sebentar. Bayu ingin bicara sebentar sama Ibu." Bayu masih menahan pinggiran daun pintu kamar Rahmi dengan cengkeraman kuat.
"Nggak perlu ada yang diomongin lagi. Cepat lepaskan," ucap Rahmi sambil mencoba mendorong pintu dengan tubuhnya.
"Ibu... Bayu mohon buka sebentar pintunya."
"Bayu! Kalau kamu terus seperti ini dan berbuat kurang ajar pada ibu, Ibu benar-benar akan mengusirmu dari rumah ini!" Rahmi terus menekan pintu, tetapi tenaganya sama sekali tidak sebanding dengan kekuatan pemuda itu.
"Aku cuma mau Ibu dengar penjelasanku sekali ini saja, Bu! Jangan cuma menghindar begini," desak Bayu sambil terus menahan pintunya.
"Kamu yang gila, Bayu! Mau jelaskan apa lagi?! Sikapmu itu sudah melampaui batas!" bentak Rahmi dengan suara bergetar dari balik pintu.
Bayu memanfaatkan celah itu untuk mendorong pintu sedikit lebih lebar, lalu melangkah maju memasuki kamar. Ia segera menutup pintu di belakangnya tanpa menguncinya.
Rahmi mundur beberapa langkah. Wajahnya pucat pasrah, tangannya gemetar hebat menunjuk ke arah Bayu.
"Jangan mendekat! Kamu betul-betul sudah tidak punya sopan santun!" bentak Rahmi dengan suara bergetar menahan amarah dan ketakutan yang bercampur aduk.
"Aku cuma mau jujur sama perasaan aku sendiri, Bu. Status kita sudah jelas. Aku bukan anak kandung Ibu. Batas dosa itu sudah nggak ada. Aku benar-benar mencintaimu, Bu." Bayu melangkah pelan mendekat ke arah Rahmi. Ia menatap wanita di depannya tanpa ada rasa bersalah sedikit pun.
"Nggak ada batas dosa gimana?! Kamu pikir perasaan dan norma bisa hilang cuma karena kertas surat itu?!" suara Rahmi makin meninggi.
"Tapi kenyataannya kita memang nggak ada hubungan darah, Bu! Kenapa Ibu harus terus membohongi perasaan Ibu sendiri?" balas Bayu dengan nada menuntut.
"Dengar baik-baik, Bayu!" ucap Rahmi dengan nada keras dan tegas. Ia mengumpulkan sisa keberaniannya, menatap ke arah Bayu. "Biarpun kita nggak ada hubungan darah, aku ini tetaplah orang tua yang membesarkanmu sejak bayi! Aku yang merawatmu dan memberi kamu makan sampai kamu dewasa!"
Rahmi mengusap air mata yang mulai menetes di pipinya. Ia kemudian melanjutkan ucapannya, "Kalau kamu masih terus memaksakan kehendak gilamu dan bersikap kurang ajar, besok pagi ibu sendiri yang akan panggil Pak RT dan seluruh warga desa! Ibu akan beri tahu mereka semua tentang kelakuan busukmu, biar kamu diusir sekalian dari desa ini!"
Bayu terdiam. Ucapan Rahmi yang penuh ancaman itu menusuk di telinganya. Ia menatap wajah Rahmi yang memerah dipenuhi kelelahan emosional. Bayu tahu, jika ia melangkah lebih jauh malam ini, Rahmi bisa betul-betul nekat melakukan ancamannya dan menghancurkan segalanya.
Bayu menghela napas panjang. "Baiklah kalau begitu, Bu," ucap Bayu pelan. Ia berbalik, lalu menoleh sekilas ke belakang. "Tapi Ibu harus tahu satu hal... aku nggak akan pernah menyerah untuk mendapatkan ibu."
"Keluar kamu, Bayu!" usir Rahmi dengan tatapan tajam berderai air mata.
Bayu membuka pintu kamar dan berjalan keluar.
Rahmi terduduk lemas di tepi ranjangnya. Air matanya semakin deras menetes di pipinya.
---
Kesibukan pagi di Pasar Desa Senja Berkala kembali dimulai. Sinar matahari mulai menghangatkan pasar yang dipadati pembeli.
Bayu tampak sibuk melayani beberapa pembeli di lapaknya. Tangannya bergerak dengan gesit menimbang barang. Namun pikirannya tetap tidak bisa lepas dari ancaman Rahmi semalam.
Sekitar pukul sepuluh pagi, suasana di lapak mulai agak senggang. Sekar berjalan mendekat ke arah Bayu. Gadis itu mengenakan pakaian rapi dengan rambut terikat ke belakang.
"Mas Bayu," sapa Sekar dengan senyuman manis yang dihiasi rona tipis di pipinya.
Bayu menoleh dan tersenyum. "Eh, Sekar. Mau ambil rantang ya?"
"Iya, Mas. Sekalian mau tanya... masakan yang kemarin, apa Mas Bayu suka?" ucap Sekar pelan sambil menundukkan kepalanya sedikit.
"Suka banget, Sekar. Lodehnya enak, pas banget di lidah. Makasih ya," jawab Bayu jujur mencoba mencairkan suasana hatinya sendiri.
"Beneran suka, Mas? Aku sempat takut rasanya keasinan atau kurang bumbu," tanya Sekar lagi, kini menatap Bayu dengan binar lega di matanya.
"Beneran enak kok. Bumbunya meresap banget," sahut Bayu sambil terkekeh pelan.
Pipi Sekar makin merona mendengar pujian itu. "Syukurlah kalau Mas Bayu suka. Nanti kalau aku masak lagi, aku bawakan lagi ya, Mas."
"Walah, jadi makin ngerepotin kamu nanti," Bayu tertawa pelan.
"Nggak kok, Mas. Aku malah senang bisa masakin buat Mas Bayu," sahut Sekar cepat. Gadis itu lalu mengambil rantangnya dari atas meja. "Ya sudah. Kalau begitu, aku pamit pulang dulu ya, Mas."
"Iya, Sekar. Hati-hati di jalan."
Bayu memperhatikan Sekar yang berjalan menjauh. Namun, baru beberapa meter Sekar pergi, Riko berjalan dari arah berlawanan dan menghampiri Bayu. Tatapannya menajam, rahangnya mengeras. Ia berdiri di depan lapak Bayu.
"Ada apa, Mas Riko?" ucap Bayu datar, mulai merasa risih dengan kehadiran pria itu.
Riko memajukan tubuhnya dan menumpukan kedua tangannya di atas meja dagangan Bayu. Ia menatap pemuda itu dari jarak dekat.
"Aku cuma mau beri kamu peringatan, Bayu," ucap Riko dengan suara rendah.
Bayu mengerutkan dahi. "Peringatan soal apa?"
"Soal Sekar," ucap Riko tegas. "Jangan pernah manfaatkan kebaikan Sekar atau mencoba mendekati dia lebih jauh. Sekar itu gadis baik-baik. Aku nggak akan tinggal diam kalau kamu cuma mau main-main sama dia."
"Maksud Mas Riko apa? Saya sama Sekar nggak ada hubungan apa-apa. Dan lagipula, itu urusan Sekar mau dekat sama siapa."
"Kamu pikir aku nggak tahu caramu menatap dia?" potong Riko dengan nada tajam. "Aku cuma mengingatkan kamu, Bayu. Jauhi Sekar. Kalau sampai aku lihat kamu terus-terusan meladeni dia seperti tadi... urusannya bakal beda." Riko mengepalkan tangannya.
Setelah melemparkan ancaman itu, Riko menepuk meja Bayu dengan cukup keras hingga bungkusan bumbu bergetar, lalu berbalik dan melangkah pergi begitu saja.
Pak Edi dari lapak sebelah yang memperhatikan pertengkaran singkat itu langsung menggeleng-gelengkan kepala. Ia berjalan mendekati lapak Bayu dengan raut heran.
"Ada apa sama si Riko itu, Bayu? Kok kayak orang kesetanan begitu ngancam-ngancam kamu?" tanya Pak Edi sambil melirik ke arah Riko yang makin menjauh.
"Nggak tahu tuh, Pak. Tiba-tiba datang marah-marah nggak jelas soal Sekar," ucap Bayu sambil mengusap dadanya menahan emosi.
"Oalah... pantesan! Si Riko itu emang udah lama naksir Sekar. Tapi Sekarnya aja yang nggak pernah ngeladeni dia. Makanya dia panas ngeliat Sekar begitu perhatian sama kamu," ujar Pak Edi sambil menepuk bahu Bayu. "Kamu hati-hati aja, Riko itu orangnya nekat kalau udah cemburu."
Bayu mengangguk pelan. Tangannya mengepal erat menahan kekesalan. Beban di kepalanya kian bertumpuk sekarang.
'Sialan! Berani-beraninya dia mengancamku seperti itu,' batinnya.