Hari semakin siang, sinar matahari mulai terasa begitu menyengat. Suasana di Pasar Desa Senja Berkala berangsur sepi dari pembeli—tidak seramai pagi tadi.
Bayu masih sibuk menata beberapa barang dagangannya di dalam kios, menyusun bungkusan bumbu dapur dan memindahkan karung-karung kecil ke sudut lapak.
Suara langkah kaki yang ragu-ragu terdengar mendekat ke arah lapaknya.
"Mas Bayu..."
Bayu menoleh ke arah sumber suara. Sekar berdiri di depan lapak sambil membawa sebuah rantang kecil. Gadis itu menyunggingkan senyuman yang tampak canggung pada Bayu.
"Eh, Sekar. Mau belanja lagi?" tanya Bayu seraya menyapu keringat di dahinya dengan punggung tangan.
"Nggak kok, Mas," jawab Sekar pelan. Ia melangkah lebih dekat, menggenggam erat pegangan rantangnya. "Aku tadi masak agak banyak di rumah. Sayur lodeh sama tempe bacem. Terus... aku kepikiran sama Mas Bayu, jadi aku bawain aja sekalian. Mas Bayu belum makan, kan?"
Sekar menyerahkan rantang tersebut. Jemari tangannya yang halus terlihat sedikit gemetar saat bersentuhan dengan tangan Bayu.
"Walah, jadi merepotkan kamu begini. Harusnya nggak usah repot-repot. Tapi makasih banyak ya, Sekar."
"Nggak ngerepotin sama sekali kok, Mas," ucap Sekar cepat. Pipinya seketika merona merah. Ia memilin ujung baju gamisnya dengan canggung. "Ya sudah, aku pulang dulu. Nanti rantangnya dibawa aja dulu ke rumah Mas Bayu. Dimakan ya, Mas. Mumpung masih hangat."
"Iya, nanti langsung aku makan. Sekali lagi makasih, Sekar. Hati-hati di jalan," ucap Bayu sambil tersenyum.
Sekar mengangguk pelan, ia menyunggingkan senyum dan berjalan cepat meninggalkan pasar.
"Waduh, Bayu! Enak banget ada yang anterin makan siang begitu," ucap Pak Edi dari lapak sebelah. Pria paruh baya itu bersandar di tiang kayu sambil tertawa jahil. "Kurang perhatian apa lagi si Sekar itu sama kamu. Udah cantik, pinter masak, perhatian lagi. Kalau kamu nggak gerak cepat, bisa-bisa disambar orang lain itu!"
Bayu tertawa kecil menanggapi ucapan pria itu. "Bisa aja Pak Edi ini. Sekar itu emang orangnya baik kok, Pak."
"Halah, Bayu! Dari mukanya waktu ngasih tadi itu kelihatan banget kalau Sekar itu ada perasaan sama kamu. Sudah, sikat aja!" ucap Pak Edi lagi seraya tertawa.
Bayu tidak membalas lagi. Ia duduk di kursi kayu, lalu membuka rantang tersebut. Aroma gurih sayur lodeh yang masih hangat langsung menyeruak. Bayu menyantapnya dengan lahap sampai habis tak tersisa.
Sekitar pukul lima sore, Bayu bersama pedagang lainnya mulai membereskan barang dagangan dan menutup lapak masing-masing. Setelah memastikan semuanya rapi dan kunci gembok terpasang, Bayu berjalan menuju parkiran pasar di depan.
Baru saja ia memasukkan kunci dan akan menghidupkan motor bututnya, seseorang berjalan dan berdiri di samping motornya. Pria itu bernama Riko—seorang pedagang ikan di pasar yang dikenal berwatak keras dan cukup dingin.
"Bayu," ucap Riko dengan suara datar dan berat.
Bayu menoleh. "Eh, Mas Riko. Ada apa, Mas?"
"Aku cuma mau tanya sama kamu," Riko melipat kedua tangannya di d**a, tatapannya menyipit menatap Bayu. "Sebenarnya ada hubungan apa kamu sama Sekar? Kok kelihatannya akrab banget sampai dia rela anterin makanan buat kamu siang tadi?"
Bayu mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan itu. Ia diam sejenak, lalu menjawab dengan tenang, "Nggak ada hubungan apa-apa, Mas. Sekar itu cuma pelanggan tetap di lapak saya."
"Beneran nggak ada apa-apa? Kamu nggak lagi dekatin dia?" ucap Riko lagi.
"Iya, Mas. Beneran nggak ada apa-apa," jawab Bayu jujur. Ia memiringkan kepala, lalu balik bertanya, "Memangnya ada masalah apa, Mas Riko? Kok sampai nanya begitu?"
Riko tidak menjawab pertanyaan dari Bayu. Matanya menatap tajam ke arah Bayu selama beberapa saat, ia lalu berbalik dan berjalan pergi meninggalkan Bayu begitu saja.
Bayu semakin mengerutkan dahinya melihat tingkah Riko. "Aneh banget..." gumamnya pelan.
Bayu segera menghidupkan motornya, lalu berkendara menuju rumahnya.
Sesampainya di rumah, Bayu melihat Rahmi di dalam warung mereka. Wanita itu sedang merapikan bungkusan mi instan di rak.
Begitu mendengar suara motor Bayu di halaman, Rahmi melirik sekilas lalu dengan cepat memalingkan wajahnya kembali.
Bayu menghela napas pendek. Ia bergegas masuk ke dalam rumah, lalu mandi untuk menyegarkan diri setelah seharian bergelut dengan aktivitas di pasar.
Malam pun tiba, jarum jam menunjukkan pukul tujuh lewat. Udara dingin pegunungan kembali menyelimuti Desa Senja Berkala.
Rahmi masih berada di dalam warung, sementara Bayu duduk bersantai di teras depan sambil menatap ke arah jalanan desa.
Tak lama kemudian, sesosok pria paruh baya berkemeja batik berjalan mendekati rumah mereka.
"Mas Bayu," sapa Pak RT ramah.
"Eh, Pak RT. Mari duduk, Pak," ucap Bayu sambil bergegas berdiri dan menyalami tangan pria paruh baya tersebut.
"Maaf malam-malam begini mengganggu waktumu, Bayu," lanjut Pak RT seraya duduk di bangku teras.
"Nggak ganggu kok, Pak. Ada apa memangnya, Pak RT?"
"Ini loh, masalah agenda desa kita nanti. Hari Minggu besok kan kita mau ada gotong royong buat bersih-bersih di balai desa. Saya mau memastikan warga di desa kita ini hadir semua. Laki-laki diminta bawa cangkul sama sabit dari rumah," ucap Pak RT menjelaskan.
"Siap, Pak RT. Nanti saya usahakan datang pagi sekalian bawa cangkul," Bayu menganggukkan kepalanya.
Di tengah perbincangan itu, Rahmi keluar dari dalam rumah membawa nampan berisi dua cangkir kopi hangat. Ia melangkah perlahan dan meletakkannya di atas meja teras.
"Silakan diminum kopinya, Pak RT," ujar Rahmi pelan.
"Wah, terima kasih banyak, Bu Rahmi. Jadi merepotkan begini," ucap Pak RT sambil menatap ke arah Bu Rahmi dengan tersenyum.
"Nggak apa-apa, Pak. Kebetulan airnya baru mendidih," jawab Rahmi. Ia lalu duduk di bangku lain, ikut menyimak pembicaraan.
Rahmi sengaja mengambil jarak paling jauh dari tempat Bayu duduk. Ia hanya menatap ke arah Pak RT tanpa sekali pun mengarahkan pandangannya pada pemuda itu.
"Saya pamit dulu ya, Bu Rahmi, Mas Bayu. Terima kasih kopinya," ujar Pak RT melangkah pergi.
"Sama-sama, Pak RT. Hati-hati di jalan," balas Bayu.
Rahmi berbalik cepat dan kembali ke dalam warungnya.
"Bu..." ucap Bayu pelan. Ia menatap punggung wanita itu yang terus berjalan menjauh.
Rahmi tidak menyahut sedikit pun—bahkan menoleh pun tidak. Langkahnya terdengar terburu-buru masuk ke dalam warung.
Sekitar pukul sembilan malam, suasana desa sudah benar-benar sepi dan gelap. Waktunya untuk menutup warung.
Bayu membantu mengangkat papan-papan kayu penutup warung satu per satu, sesekali matanya melirik ke arah ibunya yang sibuk memasukkan barang dagangan ke dalam warung.
Tak ada percakapan diantara mereka berdua. Hanya ada keheningan yang tegang dan canggung.
Setelah seluruh papan penutup warung terpasang rapat dan lampu depan sudh dimatikan, Rahmi bergegas masuk menuju kamarnya. Sebelum pintu kamarnya benar-benar tertutup, sebuah tangan yang kekar menahan pinggiran daun pintu itu dengan kuat.
Rahmi mendongak kaget. Matanya melebar saat melihat Bayu berdiri di ambang pintu sambil menatap ke arahnya.
"Bu... Tolong buka dulu. Aku mau ngomong sama ibu."