Bayu terbangun saat cahaya matahari pagi mulai menembus celah-celah ventilasi kamarnya. Pikirannya masih dipenuhi kekacauan atas kejadian semalam.
Ia menarik napas panjang, beranjak dari tempat tidur, lalu berjalan menuju kamar mandi.
Saat melewati dapur, Bayu melihat Rahmi berdiri di depan kompor—menyiapkan sarapan untuk mereka. Tubuh wanita itu tampak tegang, rambutnya masih agak acak-acakan.
Bayu mendekat perlahan.
"Bu..." ucapnya pelan.
Rahmi langsung berbalik dengan wajah pucat dan mata yang memerah. Tangannya gemetar menunjuk ke arah Bayu.
"Jangan dekat-dekat!!" bentak Rahmi dengan suara tertahan.
Bayu mengangkat kedua tangannya tanda mengalah. Tak ingin memperkeruh suasana, ia melanjutkan langkah ke kamar mandi.
Selesai mandi dan berganti pakaian, Bayu berjalan ke meja makan. Di sana sudah tersaji sepiring nasi goreng, namun Rahmi tidak terlihat di mana pun.
Pintu kamar wanita itu tertutup dan terkunci dari dalam. Bayu menyantap sarapannya dalam diam.
Setelah menghabiskan makanannya, Bayu bersiap berangkat ke pasar untuk berjualan. Ia berjalan menuju pintu kamar Rahmi, lalu mengetuknya perlahan.
"Bu, aku pergi ke pasar dulu," ucap Bayu dari luar pintu.
Tidak ada jawaban dari dalam kamar. Pintu itu tetap tertutup rapat.
Bayu menghela napas, lalu melangkah keluar rumah. Ia menghidupkan motor bututnya dan berkendara menuju pasar Desa Senja Berkala.
Begitu deru motor Bayu menjauh, Rahmi keluar dari kamar. Wajahnya lesu, matanya sembab. Ia berjalan menuju pintu depan dan menatap kosong ke arah jalanan desa yang mulai ramai.
Perasaan di dalam dadanya bercampur aduk. Ia marah atas perbuatan Bayu yang melampaui batas. Tapi di sisi lain, sentuhan dan perhatian pemuda itu membangkitkan kembali rasa yang sekian lama terpendam semenjak suaminya meninggal dunia satu tahun lalu.
Pergolakan itu membuatnya merasa asing dengan dirinya sendiri.
---
Pasar Desa Senja Berkala sudah mulai ramai. Bayu sibuk menata barang dagangannya di lapak kayu miliknya. Berbagai jenis sayuran segar, bumbu dapur, hingga minyak goreng ia susun rapi.
Walaupun tangannya bekerja melayani pembeli, pikirannya masih melayang pada kejadian semalam. Beberapa kali ia kedapatan melamun sambil memegang bungkusan cabai atau menghitung kembalian.
"Woy, Bayu! Melamun saja dari tadi. Lagi ada masalah di rumah?" tegur Pak Edi, pedagang ikan di lapak sebelah.
Bayu tersentak pelan, lalu tersenyum tipis. "Nggak ada apa-apa, Pak. Cuma kurang tidur saja semalam."
"Jangan terlalu banyak pikiran, masih muda harus semangat," ucap Pak Edi seraya tertawa pelan.
Tidak lama kemudian, seorang gadis muda berjalan ke lapak Bayu. Gadis itu adalah Sekar. Wajahnya manis alami tanpa riasan berlebihan, dengan rambut hitam yang dibiarkan tergerai.
Sekar merupakan salah satu pelanggan setia di lapak Bayu.
"Pagi, Mas Bayu," sapa Sekar pelan. Matanya melirik ke arah Bayu, lalu dengan cepat menunduk malu-malu saat pandangan mereka bertemu.
"Pagi, Sekar. Mau belanja apa hari ini?" ujar Bayu sambil tersenyum ramah.
"Mau beli bawang merah setengah kilo, cabai keriting seperempat, sama minyak goreng satu liter, Mas." Sekar menyerahkan kantong kain tempat belanjaannya.
Bayu mengambil kantong tersebut dan mulai menimbang bahan-bahan yang diminta. "Rapi banget pagi ini. Mau ada acara ya?" goda Bayu mencoba mencairkan suasana.
Pipi Sekar merona merah. Ia memilin ujung bajunya sambil tersenyum malu. "Nggak kok, Mas. Sengaja rapi aja ke pasar."
"Oalah, kirain mau jalan-jalan," Bayu tertawa kecil. Ia menyerahkan belanjaan pada Sekar. "Ini semuanya jadi tiga puluh lima ribu."
Sekar menyerahkan uang pas. Jemarinya sempat bersentuhan dengan tangan Bayu saat menyerahkan uang tersebut. Sekar makin tersipu, lalu bergegas pamit.
"Terima kasih, Mas Bayu."
"Sama-sama, Sekar. Hati-hati di jalan."
Bayu memperhatikan Sekar yang semakin menjauh di antara kerumunan pembeli. Pak Edi yang memperhatikan interaksi tersebut sejak tadi, langsung menyenggol bahu Bayu sambil tersenyum lebar.
"Lihat tuh, Bayu. Sekar itu kelihatan banget suka sama kamu. Tiap beli ke sini pasti malu-malu begitu. Kenapa nggak kamu dekati saja sekalian? Dia anak baik-baik, cantik lagi," ucap Pak Edi memberi saran.
Bayu hanya tertawa pelan. "Bisa saja Pak Edi ini."
Meskipun mulutnya menjawab santai, pikiran Bayu kembali bergejolak. Pandangannya masih menatap Sekar yang membaur di keramaian pasar.
Di satu sisi, Sekar adalah gadis seusianya yang wajar untuk dicintai tanpa ada norma moral yang dilanggar. Namun di sisi lain, bayangan Rahmi dan perasaan kuat yang mengikatnya pada wanita itu masih memegang kendali penuh di dalam hatinya.
Bayu menghela napas. Ia merasa terjebak dalam pergulatan batin tentang perasaannya sendiri.