Bayu menarik paksa lengan Rahmi ke dalam kamar. Ia mendorong tubuh wanita itu hingga jatuh di atas ranjang.
Wajah Rahmi semakin pucat pasi. Jantungnya berdetak makin kencang, tubuhnya gemetar hebat.
"K-kamu mau apa, Bayu? Kamu jangan berbuat gila! Aku akan teriak biar orang-orang berdatangan," ancam Rahmi saat Bayu semakin mendekat ke arahnya.
"Teriak saja. Nggak akan ada yang mendengar kita. Rumah tetangga jauh dari sini." Bayu segera menindih tubuh ibunya itu dari atas.
"Kurang ajar kamu. Lepaskan aku!" Rahmi meronta sekuat tenaganya. Namun Bayu dengan kuat menahan kedua lengannya dengan erat.
PLAK!
Sebuah tamparan kuat mendarat di pipi Bayu. Pemuda itu tertegun sejenak, lalu menatap wajah Rahmi yang dipenuhi air mata.
"Keluar kamu dari sini!" suara Rahmi semakin meninggi.
"Aku mencintaimu, Bu. Aku sungguh mencintaimu." Bayu kembali mendekat. Gairahnya semakin terpacu melihat wanita itu meronta ketakutan.
Rahmi berusaha mendorong tubuh Bayu agar menjauh. Namun Bayu tidak mempedulikannya. Ia terus menciumi dan melumat bibir Rahmi dengan kasar.
"Mppphhh..."
Rahmi mencoba menghindari lumatan Bayu, namun tenaganya begitu lemah dibanding tenaga anak angkatnya itu.
Pemuda itu terus mencium dan memainkan lidahnya di dalam mulut Rahmi.
Napas Rahmi semakin tersengal-sengal. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba menjalar di dalam dirinya—rasa benci bercampur gairah yang membakar d**a.
"H-hentikan, Bayu...." ucap Rahmi dengan suara yang mulai terdengar pasrah.
Bayu tersenyum melihat ibunya yang sudah terbuai nafsu. Ia segera menyibakkan daster Rahmi, lalu mengeluarkan gunung besar dari balik bra.
"Jangan... Bayu.... Aahhhhhh." Rahmi mendesah saat Bayu melumat kedua gunung kembarnya dan memainkan lidahnya di puncak secara bergantian.
Setelah puas di sana, Bayu melucuti seluruh pakaian Rahmi dan melorotkan celana dalamnya. Ia menatap area sawah ibunya yang sudah basah oleh gairah.
Rahmi memalingkan wajah dan mencoba menutupinya dengan kedua tangan.
Tanpa banyak bicara, Bayu menepis tangan Rahmi, membuka lebar-lebar paha wanita itu, lalu mendekatkan wajahnya.
SLRUP! SLURP!
Bayu dengan lihai menjil*ti dan memainkan lidahnya di sana.
"Mphhh.... Ahhhhh." Rahmi mendesah dan menggelinjang merasakan kenikmatan tiada tara. Kini ia sepenuhnya dikendalikan oleh h*srat yang membara.
Tanpa sadar, kedua tangan Rahmi menjambak rambut Bayu, menekan wajah pemuda itu agar semakin menempel erat di sel*ngkang*nnya. Ia juga menjepit kepala Bayu dengan kedua pahanya yang padat.
"Ahhhhhhh..."
Bayu menarik wajahnya. Ia menyudahi permainan itu, lalu berdiri untuk melepaskan baju dan celananya sendiri.
Pusakanya yang besar dan tebal kini terpampang jelas. Rahmi melirik sekilas ke arah milik anak angkatnya tersebut, sebelum akhirnya memalingkan wajah sambil menggigit bibir bawahnya.
Bayu kembali melebarkan paha Rahmi. Ia menggesekkan pusakanya di bibir kewanitaan sang ibu, lalu memasukkannya dengan satu hentakan bertenaga.
"Ahhhhhhhhh... Besar sekali. Rahimku terisi penuh..." racau Rahmi sambil menggelinjang nikmat.
"Apa Ibu suka pusakaku?" Bayu tersenyum sambil terus menancapkan miliknya.
Bayu terus bergerak memompa, lalu membungkuk untuk melumat bibir wanita itu. Rahmi membalas ciumannya dengan penuh gairah, saling bertukar lidah di dalam mulut.
"Ibu merindukan sentuhan seperti ini, kan? Ibu menyukainya, kan?" ucap Bayu seraya mempercepat temponya.
Rahmi tidak menjawab. Ia hanya menatap wajah Bayu lalu kembali melumat bibir pemuda itu.
"Ahhhhh..... A-aku.... Keluar...... Ahhhhh!" Rahmi mengejang, merasakan puncak kenikmat*n pertamanya.
Pertarungan gair*h itu berlanjut hingga beberapa jam kemudian. Bayu akhirnya memuntahkan lahar panasnya jauh ke dalam rahim wanita itu saat mencapai klim@ksnya, menyusul Rahmi yang sudah empat kali tenggelam dalam puncak kenikm*tan.
"Aa.... akuuu keluarrrr..." geram Bayu. Tubuhnya mengejang lalu terkulai lemas di atas tubuh Rahmi.
Peluh membasahi kulit mereka. Perlahan, kesadaran Rahmi kembali normal. Rasa bersalah langsung menyergapnya, ia mendorong tubuh Bayu dengan kuat.
Bayu tersentak kaget.
"KELUAR KAMU DARI SINI! CEPAT KELUAR!" teriak Rahmi dengan wajah memerah penuh emosi. Ia segera menarik selimut untuk membalut tubuhnya yang polos.
"Bu... M-maaf. A-aku khilaf." Bayu mencoba mendekati ibunya.
"PERGI!"
Bayu memunguti pakaiannya yang berserakan, lalu bergegas keluar menuju kamarnya sendiri.
Ia merebahkan diri di atas kasur, menatap kosong ke arah plafon kamar.
Penyesalan menyusup di hatinya, namun di sisi lain, ada kepuasan membuncah karena telah berhasil menikmati tubuh Rahmi.
Ia memejamkan mata, lalu tertidur lelap.