Pekerjaan mencari orang, menurut Mursid, mirip mencari air di tanah kering. Kau tak menggali sembarangan. Kau cari tempat yang lebih rendah, tempat di mana hal-hal mengalir dan mengumpul. Untuk orang seperti Tigor, tempat-tempat rendah itu adalah kos terakhir, pangkalan ojek, warung tempat ia ngutang, dan tukang tambal ban yang hapal motornya.
Mursid memulai dari kos di belakang terminal, sesuai catatan Bu Karsih. Bangunan dua lantai dengan cat yang mengelupas, jemuran di setiap teralis, dan bau selokan yang menyatu dengan bau gorengan. Penjaga kos seorang lelaki gemuk bernama Pak Edi yang sedang menonton sinetron siang di televisi tabung. Mursid menyodorkan sebungkus rokok kretek sebelum bertanya apa pun. Itu protokol. Mulut yang diberi sesuatu lebih mudah terbuka.
"Tigor?" Pak Edi menerima rokok, menyalakan satu. "Oh, yang kamar nomor tujuh. Udah pindah, Pak. Lama."
"Pindah kapan?"
"Hmm. Tiga bulanan yang lalu? Empat bulan?"
Mursid mencatat itu di kepala, bukan di buku. Tiga sampai empat bulan. Tapi Bu Karsih bilang Tigor baru pergi sebulan lalu, dan sebelum itu tinggal bersama Surti, bukan di kos. Berarti Tigor sudah meninggalkan kos ini jauh sebelum ia kawin masuk ke rumah mertua. Mungkin. Atau mungkin Pak Edi cuma orang yang waktunya kabur.
"Barangnya dibawa semua?" tanya Mursid.
Pak Edi menggaruk lehernya. "Nah, itu dia anehnya. Enggak. Dia bayar sewa terus tiga bulan, transfer, tapi orangnya enggak pernah keliatan. Barangnya masih di kamar. Saya enggak berani buang, takut dia balik. Tapi sewanya berhenti bulan kemarin, jadi mau saya keluarin."
Sesuatu mengetuk pelan di belakang tengkuk Mursid. Orang kabur dari utang tidak terus membayar sewa kamar kosong selama tiga bulan. Orang kabur menghilang dan membiarkan barangnya disita. Tapi seseorang membayar sewa kamar Tigor, tepat waktu, lewat transfer, untuk kamar yang tak pernah ditiduri Tigor.
"Boleh saya lihat kamarnya?"
Pak Edi ragu, lalu kalah oleh rokok kedua yang Mursid sodorkan. Kamar nomor tujuh sempit dan pengap, jendelanya tertutup koran. Di dalamnya: kasur tipis tanpa seprai, lemari plastik, dan kardus berisi barang. Mursid memeriksa kardus itu pelan-pelan, dengan kehati-hatian orang yang dulu sering menggeledah kamar orang yang melarikan diri darinya.
Isinya getir. Pakaian kerja yang sudah pudar. Sandal jepit. Sebuah jam tangan murah yang baterainya mati di pukul tiga lewat sepuluh. Foto Surti dan bayi, sama seperti yang dipegang Bu Karsih, tapi dari sisi Tigor. Dan yang membuat Mursid berhenti: sebuah amplop berisi surat lamaran kerja yang belum sempat dikirim, lengkap dengan fotokopi KTP dan ijazah SMP. Tigor menyimpan fotokopi dokumennya seperti orang yang berniat melamar kerja, bukan orang yang berniat menghilang.
Lelaki yang berniat kabur dari utang tidak meninggalkan fotokopi KTP-nya untuk siapa saja temukan. Lelaki yang berniat kabur membawa identitasnya, karena identitas adalah satu-satunya modal orang miskin. Mursid mengantongi fotokopi itu.
"Yang transfer sewa, atas nama siapa?" tanya Mursid.
"Saya enggak lihat. Masuk lewat rekening saya, tapi enggak ada namanya, cuma nomor. Saya kira ya dari Tigor."
Mursid mencatat nomor rekening Pak Edi untuk ditelusuri nanti, lewat Linda kalau perlu. Lalu ia pamit, menahan rasa yang mulai tumbuh: rasa bahwa ada tangan lain di sini, tangan yang rapi, yang membayar sewa supaya kamar tak digeledah, supaya barang Tigor tetap di tempatnya, supaya semua tampak seperti orang yang sekadar pindah.
Di pangkalan ojek depan pasar Cibitung, cerita yang sama berulang dengan bentuk berbeda. Teman-teman Tigor mengingatnya, lelaki pendiam yang rajin, tapi mereka bilang ia berhenti narik beberapa bulan lalu, katanya dapat kerja borongan di proyek. Tak ada yang punya nomornya yang baru. Tak ada yang tahu proyek apa. Seorang tukang ojek tua bernama Bang Jul menggeleng pelan.
"Aneh, Pak. Tigor itu kalau pinjam uang, dia bayar. Orangnya tahu diri. Masa dia kabur dari pinjol gede? Sebelum hilang dia malah sempat bilang ke saya mau lunasin cicilan motor. Mana sempat dia narik utang tiga belas juta."
Mursid menyimpan kalimat itu seperti menyimpan kerikil di sepatu. Tigor yang tahu diri, yang membayar utangnya, yang berniat melunasi cicilan, tiba-tiba kabur membawa pinjol tiga belas juta. Tigor yang menyimpan fotokopi KTP-nya. Tigor yang barangnya dibayari supaya tetap diam di tempat.
Warung langganan Tigor jadi pemberhentian terakhir hari itu. Pemiliknya, Bu Nah, mengingat Tigor punya catatan utang yang belum lunas, dua ratus ribu. "Dia janji bayar pas gajian," kata Bu Nah. "Terus enggak pernah balik. Padahal orangnya enggak pernah ngemplang. Saya sampai khawatir dia kenapa-napa."
Kenapa-napa. Mursid berkendara pulang menembus debu proyek tol yang menggantung di udara sore seperti kabut cokelat. Di kepalanya, jejak-jejak itu tak menyatu. Setiap orang kabur meninggalkan kekacauan: utang yang ditinggal, barang yang disita, teman yang dikhianati, jejak yang berantakan karena panik. Tapi jejak Tigor bersih. Sewa dibayar. Barang utuh. Tak ada panik. Seolah ada yang datang setelah Tigor pergi dan merapikan semuanya, menutup setiap pintu dengan pelan, supaya bila ada yang mencari, ia hanya menemukan keheningan yang tertata.
Mursid berhenti di lampu merah perbatasan Cibitung. Klakson di belakangnya. Ia teringat masa-masa ketika ia sendiri yang memburu. Ketika ia masih jadi anjing koperasi gelap dan mengejar orang-orang yang berutang. Orang yang kabur selalu meninggalkan jejak berantakan, karena ketakutan itu berantakan. Yang rapi bukan ketakutan. Yang rapi adalah pekerjaan. Dan pekerjaan punya majikan.
Lampu hijau. Mursid melaju, dan untuk pertama kalinya ia tidak yakin ia sedang mencari orang yang kabur. Ia mulai curiga ia sedang mencari orang yang dihilangkan.